Connect with us

Kesehatan

Luncurkan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer, Pj. Gubernur Heru Pastikan Akses Layanan Kesehatan Makin Mudah

Published

on

Jakarta, Hariansentana.com –– Pejabat (Pj). Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono bersama Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin meluncurkan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dan meresmikan dua puskesmas baru, yaitu Puskesmas Tebet dan Pasar Minggu. Acara ini digelar di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (6/8/2024).

Sebanyak 44 puskesmas yang tersebar di enam wilayah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan pelayanan kesehatan primer yang terintegrasi. Diharapkan, dengan adanya ILP dan dua puskesmas baru tersebut, pelayanan kesehatan masyarakat dapat semakin terpadu dan akses layanan kesehatan kian mudah dijangkau.

“Hari ini, Pemprov DKI Jakarta mempersiapkan dua puskesmas, yaitu Puskesmas Tebet dan Pasar Minggu untuk diresmikan. Bersamaan juga, hari ini, kami launching Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di wilayah DKI Jakarta,” kata Pj. Gubernur Heru.

Pj. Gubernur Heru juga menyampaikan bahwa ILP ini adalah upaya untuk menata dan mengoordinasikan berbagai pelayanan kesehatan primer dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan. “Tidak hanya Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang berperan aktif, Posyandu juga memiliki peran penting dalam integrasi pelayanan kesehatan primer yang komprehensif dan terpadu melalui berbagai layanan preventif, kuratif, dan rehabilitatif, sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen penuh dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, baik untuk masyarakat Jakarta maupun daerah penyangga. Apalagi, sekitar 50 persen pasien yang berobat di RSUD DKI Jakarta merupakan warga yang berdomisili di luar DKI Jakarta.

Pj. Gubernur Heru juga memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang telah membangun gedung Puskesmas Tebet dan Pasar Minggu dengan konsep green building. Sehingga, Puskesmas Tebet menjadi puskesmas pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat green building.

“Saya titip kepada Kepala Puskesmas agar terus merawat gedung ini supaya umur gedung ini bisa panjang. Tentunya, bisa menjadi konsep percontohan di puskesmas-puskesmas lain di Jakarta.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menuturkan, pelayanan kesehatan primer ini merupakan salah satu pilar transformasi kesehatan yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kesehatan berdasarkan siklus hidup yang mudah diakses dan terjangkau sampai pada tingkat masyarakat, keluarga, dan individu.

“Pelayanan kesehatan primer diselenggarakan secara terintegrasi di Puskesmas, jejaring dan jaringan pelayanan kesehatan primer untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di setiap fase kehidupan, serta dilakukan dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif, didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi,” ujar Menteri Budi.

Masih dalam acara yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati memaparkan, implementasi ILP dalam pelayanan di Puskesmas dibagi menjadi sistem klaster, yaitu:

  • Klaster 1: Klaster Manajemen
  • Klaster 2: Klaster Kesehatan Ibu dan Anak
  • Klaster 3: Klaster Usia Dewasa dan Lansia
  • Klaster 4: Klaster Penanggulangan Penyakit Menular dan Lintas Klaster

“Dengan ILP ini, kami berharap dapat semakin mendekatkan layanan kepada masyarakat, memberikan pelayanan siklus hidup dari bayi hingga lansia, serta pemantauan wilayah setempat,” terang Ani.

Dalam kesempatan yang sama, turut diluncurkan Putaran ke-2 Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio, Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tentang Penguatan Pelayanan Kesehatan untuk Percepatan Penurunan Stunting di Provinsi DKI Jakarta, Penyerahan Sertifikat kepada Puskesmas Tebet sebagai Puskesmas Pertama di Indonesia yang Memperoleh Sertifikasi Green Building, serta Pemberian Apresiasi bagi Kader dan Posyandu Bidang Kesehatan Berprestasi Tingkat Provinsi.(sutarno)

Kesehatan

Kasus ISPA Tembus 174 Ribu Akibat Karhutla, DPR Desak Pemerintah Bertindak

Published

on

By

Lonjakan ISPA akibat karhutla mendapat sorotan dari Obet Rumbruren, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Data Kementerian Kesehatan periode pertengahan Agustus hingga 21 September 2026 jadi acuannya: 174.694 kasus ISPA di wilayah terdampak, 40.363 di antaranya balita, tersebar di tujuh provinsi prioritas, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur.

Obet menyebutnya sinyal darurat kesehatan masyarakat, khususnya generasi muda. Angka 40 ribu balita terpapar asap beracun, katanya, adalah peringatan keras bahwa karhutla sudah jadi krisis kedaruratan kesehatan anak. “Jika kita gagal melindungi mereka hari ini, kita sedang menggadaikan masa depan bangsa,” ujarnya.

Legislator Dapil Papua Barat ini merinci bahaya polutan asap karhutla bagi organ pernapasan: batuk, sesak napas, pilek, iritasi mata, sampai risiko memperburuk kondisi pernapasan jangka panjang.

Tiga desakan Obet ke pemerintah:

Penguatan respons darurat lewat mobilisasi tenaga medis, ambulan, dan ruang perawatan intensif anak dengan penanganan cepat dan tepat, plus perbanyak pos kesehatan dan jamin stok obat-obatan, tabung oksigen, serta masker standar di wilayah terdampak. Pemantauan kualitas udara secara berkala untuk penanganan yang terukur. Penegakan hukum di hulu, menindak tegas pelaku pembakaran lahan agar bencana ekologis ini berhenti berulang tiap tahun.

Obet menutup: “Kesehatan rakyat, utamanya anak-anak, adalah prioritas paling utama dan investasi masa depan bangsa. Melindungi mereka dari dampak karhutla adalah kewajiban moral sekaligus konstitusional negara.”

Continue Reading

Kesehatan

Indonesia Bersiap Miliki Standar Nasional Smart Hospital: RSNI3 Disetujui Secara Konsensus

Published

on

By

Prof. Dr. Eko Supriyanto. (Foto Doc. Pribadi).

JAKARTA, SENTANA — Indonesia mencatatkan langkah penting dalam modernisasi infrastruktur dan manajemen pelayanan kesehatan nasional. Hal ini ditandai dengan disetujuinya draf Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI3) Smart Hospital dalam Rapat Konsensus Komite Teknis 03-14 Manajemen Organisasi Pelayanan Kesehatan yang digelar secara daring dan luring pekan lalu.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Eko Supriyanto selaku Wakil Ketua Komite Teknis SNI Smart Hospital melalui keterangannya kepada wartawan, Rabu (19/8).

Prof. Eko menjelaskan, Keputusan tersebut diambil secara mufakat oleh 15 anggota Komite Teknis yang hadir dalam rapat yang telah memenuhi kuorum tersebut. Anggota Komite Teknis yang hadir dan menyetujui draf tersebut mencakup keterwakilan multisektoral, terdiri dari 1 perwakilan BPJS Kesehatan, 4 perwakilan Kementerian Kesehatan, 1 perwakilan Badan Standardisasi Nasional (BSN), 1 perwakilan Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI), 1 perwakilan Asosiasi Rumah Sakit Kemenkes Indonesia (ARSKI), serta 1 perwakilan Konsil Kesehatan
Indonesia (KKI). Selain unsur pemerintah dan lembaga, forum ini juga dihadiri oleh masing-masing 1 perwakilan dari Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB Indonesia), Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI), Masyarakat Standardisasi Indonesia (MASTAN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Persetujuan draf RSNI3 Smart Hospital ini menjadi pijakan awal dalam memenuhi kebutuhan integrasi teknologi informasi, efisiensi operasional, keandalan fasilitas teknis, serta peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di era digital. Kehadiran standar ini diproyeksikan menjadi acuan nasional agar fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia dapat mengadopsi teknologi cerdas secara terstruktur, aman dan berkelanjutan sebelum nantinya ditetapkan secara formal oleh BSN,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, standar nasional ini dijadwalkan akan disosialisasikan kepada publik dan para pemangku kepentingan kesehatan pada 17 hingga 19 September 2026 di Jakarta.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari agenda tahunan International Healthcare Engineering Forum (INAHEF) 2026 yang diselenggarakan bersama oleh BSN, Kementerian Kesehatan, PTPI dan para mitra terkait. Seiring dengan agenda tersebut, Kementerian Kesehatan turut mengundang serta mengimbau seluruh jajaran manajemen dan praktisi rumah sakit di Indonesia untuk hadir berpartisipasi aktif, guna mempersiapkan fasilitas kesehatan masing-masing dalam mengimplementasikan standar baru ini.

Adapun sasaran undangan mencakup pimpinan rumah sakit umum pusat maupun daerah di seluruh Provinsi Indonesia, rumah sakit TNI/Polri dan Kementerian Pertahanan, RS di bawah Indonesia Healthcare Corporation (IHC), RS swasta, RS perguruan tinggi, hingga jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran se-Indonesia, dengan pendelegasian yang mewakili unsur manajemen/keuangan, pelayanan medik, serta penunjang teknik/operasional.

Ditambahkannya, kehadiran dalam INAHEF 2026 memberikan nilai strategis bagi jajaran manajemen dan praktisi rumah sakit di seluruh Indonesia. Mengusung tema “Smart Healthcare Facilities Financing: Building Affordable Access for All”, forum ini menjadi wadah untuk mempelajari strategi pembiayaan fasilitas cerdas yang terjangkau, mengikuti seminar bersama pakar nasional dan global, serta melihat pameran teknologi (Technology Exhibition) dan peluncuran produk inovasi alat kesehatan terbaru (Product Launching).

“Para peserta juga dapat menjalin kerja sama dengan penyedia solusi melalui forum Business Matching, mempelajari skema perencanaan anggaran fasilitas yang efisien (Budget Planning), serta menyaksikan penganugerahan Innovation Award. Rangkaian acara ini diharapkan dapat mendorong akselerasi modernisasi layanan kesehatan yang berdaya saing di Indonesia,” pungkasnya. (Red).

Continue Reading

Kesehatan

SWICC Bogor Raya Hadir dengan Layanan Kanker Terpadu Pertama di Wilayah Penyangga Jakarta

Published

on

Sentul, Hariansentana.com – Kehadiran Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, menjadi pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok.

Fasilitas ini menjadi semakin penting dan mudah di akses, mengingat kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Diharapkan SWICC bisa menjadi pusat harapan baru bagi pasien kanker, sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata Sentra Medika dalam pembangunan sektor kesehatan nasional.

Demikian hal tersebut diungkapkan Presiden Director Sentra Medika Hospital Group Dr. drg. Eddy Suharso, S.H, M Kes, dalam acara perayaan 1 Tahun Perjalanan Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) melalui Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Aston Hotel Sentul Bogor Minggu (2/8/2026).

Forum ilmiah onkologi nasional yang menyoroti penguatan akses layanan kanker terpadu ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebagai keynote speaker yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia.

Menurut Menkes, deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat kanker yang masih tinggi.

“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat, termasuk memperluas akses skrining agar kanker dapat terdeteksi lebih awal,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya,

Kehadiran pusat kanker terpadu SWICC di wilayah penyangga Jakarta menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan onkologi yang komprehensif.

“Kami mengusung konsep One Stop Cancer Care, sehingga pasien dapat memperoleh layanan mulai dari edukasi, deteksi dini, diagnosis, hingga terapi dalam satu sistem terintegrasi,” Eddy Suharso.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GCO) 2024, jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai lebih dari 1,13 juta kasus, dengan 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian.

Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker.

Dalam forum ilmiah tersebut, sejumlah pakar onkologi nasional turut menjadi pembicara utama, di antaranya Dr. dr. M. Yadi Permana, Sp.B(K)Onk, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, FINASIM, dan Dr. dr. Angela Giselvania, Sp.Onk.Rad(K). Mereka membahas perkembangan terbaru penanganan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, paru, serviks, kolorektal, hingga leukemia.

Selain itu, pembicara dari berbagai daerah juga turut berpartisipasi, seperti dr. Venita Eng dari Bali, Prof. dr. Linda W. A. Rotty, Sp.PD-KHOM dari Sentra Medika Hospital Minahasa Utara, serta dr. Trinugroho Heri Fadjari, Sp.PD-KHOM dari Bandung.

Secara keseluruhan, lebih dari 30 dokter onkologi berpengalaman terlibat dalam simposium ilmiah ini.

Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani MARS, CRMP, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring antar tenaga medis.

“Kami ingin memastikan penanganan kanker di Indonesia semakin terstandarisasi dan berbasis perkembangan ilmu terbaru,” ujarnya.

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu tahun, SWICC juga menjalankan program 500 skrining kanker gratis bagi masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat sebagai upaya memperluas akses deteksi dini.

Kampanye edukasi bertajuk “Stronger in Awareness, Together in Detection” turut digencarkan melalui webinar nasional dan seminar kesehatan.

Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan serta deteksi dini kanker.

SWICC yang berada di bawah naungan Sentra Medika Hospital Group merupakan pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok. Layanan yang tersedia mencakup pemeriksaan diagnostik seperti CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik, serta terapi seperti bedah onkologi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi target.

Pendekatan multidisiplin diterapkan dalam setiap penanganan pasien, sehingga rencana terapi dapat disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, dan kondisi klinis masing-masing individu.

Ke depan, SWICC menargetkan penguatan jejaring layanan kanker serta peningkatan kesadaran masyarakat agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas.

Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kasus kanker stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup pasien di wilayah Bogor dan sekitarnya. (***)

Continue Reading
Advertisement

Trending