Connect with us

Pendidikan

Pusdikpal Kodiklat TNI AD Lahirkan Siswa-Siswi Tangguh, Modern dan Profesional

Published

on

Cimahi, Hariansentana.com – Pusat Pendidikan Peralatan (Pudikpal) Kodiklat Angkatan Darat mempunyai tugas pokok membina dan menyelenggarakan fungsi peralatan secara efektif dan efisien.

Hal tersebut dikatakan Komandan Pusat Pendidikan Peralatan Komando Pendidikan Latihan TNI AD (Danpusdikpal Kodiklatad), Kolonel Cpl Taufan Tjandra Kusuma, kepada awak Media dalam acara Press Tour yang di gelar Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (DISPENAD) di Cimahi, Jawa Barat, Kamis (25/3/21).

Selain itu tuturnya Pusdikpal Kodiklat TNI AD bertugas untuk membentuk prajurit peralatan yang Tangguh, Modern dan Profesional, sehingga seluruh materiil peralatan selalu dalam kondisi siap pakai guna menunjang kesiapan satuan jajaran TNI Angkatan Darat.

“Di Pusat Pendidikan Peralatan (Pusdikpal) Kodiklat Angkatan Darat, mendidik putra dan putri prajurit TNI Angkatan Darat kecabangan peralatan. Di mana mereka semua kami didik sebagai prajurit -prajurit yang akan melaksanakan pemeliharaan, melaksanakan pembekalan materil Alutsista TNI Angkatan Darat ini,” tuturnya.

Taufan menambahkan, mereka dilatih untuk menjadi seorang profesional dan ahli untuk merawat serta memelihara Alutsista TNI Angkatan Darat,” tambahnya.

Tufan mengungkapkan dalam waktu dekat Kota Cimahi akan Menjadi Kota Wisata Heritage Touris Militer. Pemkot Cimahi telah mempersiapkan sarana prasarana pendukung layanan tersebut, agar konsep wisata ini layak dipromosikan dan memberi kesan baik kepada wisatawan,” ungkapnya.

Dalam kunjungan Press Tour kali ini rombongan awak media memyaksikan Siswa-siswi Pusdikpal mampu membongkar, pasang Meriam Gunung M-48 kaliber 76 mm buatan Yugoslavia.

Selain itu Siswa dan siswi Pusdikpal Kodiklatad juga memperagakan cara mereparasi rantai Tank M 113 yang putus, serta cara memperbaiki mesin Tank tersebut.

Pendidikan

Lantaran Tidak Ikut Les, Orang Tua Murid SDN 01 Pajeleran Keberatan dengan Perlakuan Diskriminatif Terhadap Siswanya

Published

on

By

‎Bogor, Hriansentana.com — Dunia pendidikan kembali tercoreng akibat perbuatan oknum guru SDN 01 Pajeleran .”Diduga melakukan kegiatan Les yang biayanya mencapai Rp 250 .000.’

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Rusliandy, menonaktifkan seorang guru berinisial S setelah yang bersangkutan diduga melakukan tindakan diskriminatif terhadap siswa di SDN Pajeleran 01.

Sebelumnya, Sejumlah orang tua siswa SDN Pajeleran 01 mendatangi pihak sekolah guna meminta penjelasan mengenai dugaan adanya perlakuan diskriminatif dalam penilaian.

Persoalan tersebut berawal dari adanya perbedaan nilai siswa kelas IV antara murid yang mengikuti les dan yang tidak, para orang tua menyebutkan bahwa kegiatan les itu dipungut biaya sebesar Rp250 ribu.

Salah satu sumber berinisial S perwakilan wali murid, menyebutkan bahwa siswa yang mengikuti les sering kali mendapatkan perlakuan berbeda, seperti diberi arahan oleh guru untuk memperbaiki jawaban saat ulangan.

Sementara itu Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) M Johan Pakpahan S.H ketika di hub melalui tlp seluler nya rabu 17 /12 / 2025 meminta kepada Bupati Rudy Susmanto agar Kepala sekolah dan Kadisdik Kabupaten Bogor agar dapat di ganti ,” papar nya. (Ron)

Continue Reading

Pendidikan

Mahasiswa UI: Kecerdasan Buatan Harus Jadi Alat Pemersatu

Published

on

JAKARTA – Pada ajang Asia Youth International Model United Nations
‎(AYIMUN), di Bangkok 21-24 November lalu, Mohamad Rasyid Alkautsar (20) Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menyampaikan gagasan strategis mengenai ketimpangan global dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor pendidikan.

‎Dalam pidato ilmiahnya itu, pemuda asal Jakarta tersebut mengambil tema sidang “Embracing AI Assistance in Education without Compromising Academic
‎Integrity”.

‎Dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025), Rasyid menjelaskan bahwa AI memang menjadi alat penting yang mampu mendukung aktivitas manusia sehari-hari, termasuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

‎”AI telah memunculkan tantangan serius bagi negara-negara anggota UNESCO yang berjumlah 194 Member States dan 12 Associate Members,” ungkapnya.

‎Dalam acara tersebut, Rasyid menekankan bahwa meskipun UNESCO telah menerbitkan sejumlah
‎pedoman global—antara lain; Beijing Consensus on Artificial Intelligence and Education (2019), UNESCO Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021), UNESCO Guidance for Generative AI in Education and Research (2023), AI and Education: Guidance for Policy-makers (2021), dan AI and the Futures of Learning – UNESCO Reports, dokumen-dokumen tersebut bersifat non-legally binding sehingga implementasinya masih timpang
‎antarnegara.

‎Akibatnya, menurut dia berbagai masalah tetap terjadi di negara-negara anggota, termasuk:

‎● Regulasi AI global yang lemah dan tidak mengikat
‎● Bias algoritmik yang memperburuk ketidaksetaraan
‎● Lemahnya perlindungan data pribadi
‎● Kesenjangan infrastruktur digital dan AI
‎● Kurangnya talenta dan kapasitas institusi
‎● Standar kualitas yang belum terintegrasi
‎● Lemahnya kerja sama akademik lintas negara
‎● Overdependence pada AI yang mengurangi kemampuan berpikir kritis

‎“Ketidakmerataan pemanfaatan AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan keadilan global. Tidak semua negara memiliki infrastruktur, kapasitas, dan kesiapan yang sama,” ujar pemuda anggota Partai Bulan Bintang tersebut.

‎Untuk menjawab kesenjangan tersebut, cucu Ahmad Sumargono anggota DPR RI periode 2004-2009 itu, mengusulkan program inovatif bertajuk Global AI Sandbox Mechanism (GASM).

‎Dia menerangkan, GASM merupakan kerangka internasional sukarela yang menghormati
‎kedaulatan negara, memungkinkan setiap negara:
‎● menguji, menilai, dan menerapkan teknologi AI di lingkungan yang aman,
‎● mendapatkan bimbingan teknis dan protokol keselamatan, serta
‎● tetap mempertahankan kontrol penuh atas data, kebijakan, dan arah pengembangan teknologi AI nasional.

‎Rasyid juga mengajukan struktur tiga tingkat:

‎• Tier 1 – National AI Sandboxes
‎Fasilitas bagi setiap negara untuk mengatur dan menguji AI sesuai konteks hukum, budaya, dan
‎ekonominya.

‎• Tier 2 – Regional AI Sandbox Hubs
‎Untuk mendorong kolaborasi, standardisasi, dan interoperabilitas antarnegara dalam satu kawasan.

‎• Tier 3 – Global AI Sandbox Council
‎Dikoordinasikan badan-badan PBB relevan untuk menetapkmenetapkan protokol keselamatan minimum,
‎prinsip transparansi, dan pedoman etika.

‎Guna memastikan mekanisme ini berjalan inklusif, Rasyid juga mengusulkan Cross-Funding
‎Framework, meliputi:

‎● Kontribusi negara maju untuk mendukung kesiapan negara berkembang
‎● Matching funds dari lembaga multilateral seperti World Bank, UNESCO, dan ITU
‎● Pendanaan publik–swasta dari developer AI, institusi riset, dan industri
‎● Pembentukan Komite Internasional Independen untuk mengawasi perkembangan kurikulum AI negara berkembang dan implementasi program pendidikan berbasis AI.

‎Menurutnya, pendekatan pendanaan yang kolaboratif ini penting agar negara-negara yang tertinggal
‎dalam infrastruktur maupun SDM tidak semakin tersisih dalam era teknologi masa depan.

‎Dia menambahkan, bahwa GASM adalah langkah tegas untuk memastikan penggunaan AI yang aman, adil, dan merata di seluruh dunia.

‎“Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan digital berubah menjadi kesenjangan peradaban. AI harus menjadi alat pemersatu, bukan pemecah kesenjangan,” tegasnya.

‎”Global AI Sandbox Mechanism
‎dapat menjadi jembatan menuju masa depan pendidikan yang inklusif bagi seluruh bangsa,” pungkasnya.

‎Dia mengakui, usulannya mendapat perhatian dari berbagai delegasi muda yang hadir, dan dinilai sebagai salah satu kontribusi paling progresif dalam perumusan solusi AI di bidang pendidikan.***

Continue Reading

Pendidikan

Sekolah Baptis Elim Jalin Kerja Sama dengan IRIS Initiative Ajarkan Siswa Sadar Lingkungan

Published

on

JAKARTA, Sentana – Sekolah Baptis Elim Grogol Jakarta Barat menggandeng dua remaja Putri yakni Chrystabelle Keilana Adianca dan Janessa A. Sasmito yang memiliki program mengenai lingkungan hidup melalui berkesenian.

Bidang Humas dan Kewiraushaan Yayasan Pendidikan Baptis Indonesia, Debbie Rembeth mengatakan meski masih duduk di bangku SMA keduanya mampu menginiasi kelompok dan membentuk IRIS Initiative mengajak semua pihak untuk peduli lingkungan hidup.

“Dan Pada hari ini, sekolah Baptis Elim bersama keduanya melakukan kolaborasi dan mengadakan berbagai macam kegiatan seru dan bermakna melalui ‘School Cleaning Day’ di SD/SMP Baptis Elim,” kata Debbie, Sabtu (15/11).

Dalam kegiatan ini, puluhan Siswa-siswi SD & SMP diajak untuk membersihkan kelas, lingkungan sekolah dan menghias kelas. “Mereka menghias lingkungan sekolah dengan tanaman hidup dan akan dipilih Kelas terbaik,” ucapnya

Selain itu kegiatan bersih sekolah, dilakukan juga lomba foto bertema kebersihan dan lomba Pilah Pilih sampah. Yang tak kalah menariknya, sebelum kegiatan ini IRIS Initiative telah melakukan pelatihan membuat video mini untuk siswa-siswi SMP Baptis Elim.

“Ini dilakukan agar mereka dapat membuat mini video liputan kegiatan School Cleaning ini dan menjadikannya sebagai salah satu kampanye kebersihan dan keberlangsungan lingkungan hidup,” ujarnya.

Dilokasi yang sama, Chrystabelle Keilana menyatakan bahwa gerakan menjaga kebersihan lingkungan hidup berhubungan erat dengan keberlangsungan lingkungan hidup.

“Kebersihan lingkungan menjadi prasyarat penting untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan bagi semua mahluk hidup,” jelasnya.

Keilana juga menjelaskan alasan dirinya bersama Janessa memasukan pemahaman lingkungan hidup melalui seni dikarenakan di lingkungan sekolah mereka terbiasa dengan belajar buku.

“Belajar melalui seni anak bisa lebih kreatif dan mengingat hasil karya dan ini lebih mudah diingat dibanding dengan teori buku,” jelasnya.

Dilokask yang sama Janessa mengatakan dia bersama Keilana berusaha konsisten menggunakan pendekatan ‘fun learning’ dan ‘art’ untuk kampanye keberlangsungan lingkungan hidup yang telah mereka lakukan di berbagai sekolah, komunitas anak, panti asuhan di Bali dan Jakarta sejak tahun 2024.

“Sebelumnya telah dilakukan lomba-lomba kreasi seni dari materi daur ulang. Untuk kegiatan kali ini, pendekatan seni dilakukan melalui kreativitas menghias kelas (tanpa materi plastik) dan pembuatan foto serta mini video. Melalui lomba Pilah Pilih sampah,mereka menerapkan ‘fun learning’ yang lebih mudah diingat daripada sekedar mendengarkan pengajaran teoritis,” kata Janessa.

Kedua remaja puteri ini membuat wadah IRIS Initiative (Instagram: Irisintiative.id) dan bahkan merancang mini kurikulum untuk memastikan agar keberlangsungan lingkungan hidup dapat ditularkan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan.

Bahkan mereka juga telah memikirkan program pembekalan agar dapat mempersiapkan para ‘agen’ muda yang memiliki kemapuan meng-kampanye-kan keberlangsungan lingkungan hidup sesuai dengan minat, bakat dan tren pengembangan teknologi.

Keilana dan Janessa telah membuktikan bahwa di usia muda mereka dapat melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar dan berguna untuk Jangka Panjang.

Continue Reading
Advertisement

Trending