Connect with us

Ekonomi

Gedung Pertamina Bersertifikat Green Building, Bukti Pertamina Komit ESG

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – Sebanyak 13 gedung Pertamina di sektor pengolahan (midstream) dan hilir (downstream) telah memiliki sertifikat Green Building dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Ini artinya gedung tersebut telah menggunakan energi bersih, bebas emisi dan ramah lingkungan.

Green Building Council Indonesia merupakan organisasi independen yang didirikan sejak 2009 oleh para profesional dan perusahaan terkemuka di industri bangunan di Indonesia.

Ke 13 Gedung HSSE Demoroom unit Pengolahan wilayah Dumai, Gedung proper center Unit Pengolahan wilayah Sungai Pakning Riau, Gedung perkantoran GM office unit pengolahan wilayah Plaju Sumatera Selatan, kantor utama Unit pengolahan wilayah Cilacap Jawa Tengah, Gedung Pertamax unit Pengolahan wilayah Balongan Jawa Barat.

Selanjutnya Gedung Fuel Terminal Maos Jawa Tengah, Gedung Fuel Terminal Rewulu Yogjakarta, Gedung Fuel Terminal Boyolali Jawa Tengah, Gedung Fuel Terminal Bandung Grup Padalarang Jawa Barat, Gedung Fuel Terminal Cikampek Jawa Barat, Gedung Fuel Terminal Tanjung Gerem Banten, Gedung Integrated Terminal LPG Tanjung Priok Jakarta dan Gedung Integrated Fuel Terminal Plumpang Jakarta.

Menurut Pjs Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari, transisi energi bersih yang dilakukan di gedung operasional Pertamina merupakan implementasi Environmental, Social & Governance (ESG) secara terintegrasi sehingga nantinya seluruh gedung dan wilayah kerja Pertamina dari hulu ke hilir bebas emisi dan ramah lingkungan.

“Rata-rata penghematan energi yang disumbangkan dari ke 13 lokasi tersebut mencapai 47%, dan 42% untuk penghematan air. Lokasi yang paling banyak menyumbangkan penghematan energi (energy savings) adalah Gedung Integrated Terminal LPG Tanjung Priok Jakarta hingga 60%, dan lokasi yang paling banyak menyumbangkan penghematan air (Water savings) adalah di lokasi Gedung proper center Unit Pengolahan wilayah Sungai Pakning Riau hingga 57%,” ungkap Heppy.

Menurut Happy, konsep green building merupakan komitmen Pertamina dalam upaya menuju net zero emission sejalan dengan target perusahaan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatkan bauran energi terbarukan dari 9,2 persen pada 2019 menjadi 17,7 persen pada 2030.

“Gedung lainnya sedang proses sertifikasi, ke depan diharapkan bangunan Pertamina telah bersertifikat Green Building. Pertamina akan terus memimpin transisi energi di Indonesia dan Pertamina telah memulai termasuk halaman rumah sendiri,” tandas Heppy.()

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Listrik Gerakkan Ekspor RI di Titik-Titik Baru, PLN Makin jadi Jantungnya Ekonomi Indonesia

Published

on

By

Jakarta, HarianSentana.com – Hasil riset bersama dari PT PLN (Persero) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menunjukkan bahwa PLN berperan besar sebagai penggerak ekspor Indonesia. Hal ini didapat dari kajian bersama sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama yang telah dilakukan kedua belah pihak pada 25 Agustus 2021 silam.

Executive Vice President Keuangan Korporat PT PLN (Persero), Teguh Widhi Harsono menjelaskan PLN sebagai jantung perekonomian Indonesia akan terus mengambil peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Hasil riset ini membuktikan pasokan listrik yang andal mampu mendukung aktivitas perekonomian nasional, terutama kegiatan ekspor.

“PLN terus berkomitmen untuk menyediakan pelayanan listrik yang berkelanjutan dan terjangkau bagi para pelaku industri, khususnya berorientasi ekspor,” ujar Teguh dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/6/2022).

Ia juga menjelaskan PLN mempunyai berbagai program untuk bisa dimanfaatkan oleh sektor industri meningkatkan kualitas dan produktivitas ekspornya. Seperti misalnya, layanan penyambungan baru (PB), layanan tambah daya (PD) dengan promo-promo sesuai tema terkini, layanan penyambungan sementara (PS), layanan listrik andal dan tanpa kedip yang lebih efisien, penjualan energi bersih melalui _Renewable Energy Certificate_ (REC), hingga layanan listrik untuk pengguna kendaraan listrik.

“Selain itu, PLN menyediakan aplikasi PLN Mobile yang mendukung kebutuhan pelanggan melalui layanan berbasis online untuk memudahkan para investor dan dunia usaha, dari layanan keluhan dan gangguan, layanan permohonan PD/PB/PS, swacam, layanan internet Iconnet, layanan gangguan instalasi melalui listriQu, hingga _marketplace_,” papar Teguh.

Sementara Kepala Divisi Indonesia Eximbank Institute (IEB Institute) LPEI, Rini Satriani menjelaskan hasil riset menunjukkan dengan adanya dukungan pasokan listrik yang andal mampu meningkatkan produktivitas ekspor dari sebuah wilayah. Hasil ini didapat dari pertumbuhan konsumsi listrik yang sejalan dengan laju nilai ekspor di 827 sampel perusahaan.

“Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa konsumsi listrik dan nilai ekspor sektoral memiliki hubungan dua arah yang signifikan dan saling mempengaruhi. Peningkatan konsumsi listrik sebagai salah satu input produksi secara langsung dapat meningkatkan nilai ekspor,” ujar Rini.

Rini mengatakan setiap penambahan konsumsi listrik dapat mendorong peningkatan nilai ekspor suatu wilayah/sektoral. Sebagai contoh, Provinsi Banten memiliki nilai elastisitas yang positif sebesar 1,13 persen terhadap nilai ekspor sektor makanan dan minuman (sektor mamin) dari wilayah tersebut. Artinya, jika terdapat penambahan listrik sebesar 1 persen pada sektor mamin, maka nilai ekspor sektor mamin akan meningkat sebesar 1,13 persen.

“Data ini mencerminkan pentingnya peran listrik sebagai salah satu input produksi industri berorientasi ekspor dalam meningkatkan nilai ekspor sektoral Indonesia, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah,” ujar Rini.

PLN dan LPEI akan terus berkolaborasi serta bersinergi dalam riset bersama guna mendorong ekspor Indonesia dan mendukung produk Indonesia agar mampu bersaing di pasar global serta memperkuat basis perekonomian nasional.(s)

Listrik Gerakkan Ekspor RI di Titik-Titik Baru, PLN Makin jadi Jantungnya Ekonomi Indonesia

Jakarta, HarianSentana.com – Hasil riset bersama dari PT PLN (Persero) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menunjukkan bahwa PLN berperan besar sebagai penggerak ekspor Indonesia. Hal ini didapat dari kajian bersama sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama yang telah dilakukan kedua belah pihak pada 25 Agustus 2021 silam.

Executive Vice President Keuangan Korporat PT PLN (Persero), Teguh Widhi Harsono menjelaskan PLN sebagai jantung perekonomian Indonesia akan terus mengambil peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Hasil riset ini membuktikan pasokan listrik yang andal mampu mendukung aktivitas perekonomian nasional, terutama kegiatan ekspor.

“PLN terus berkomitmen untuk menyediakan pelayanan listrik yang berkelanjutan dan terjangkau bagi para pelaku industri, khususnya berorientasi ekspor,” ujar Teguh dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/6/2022).

Ia juga menjelaskan PLN mempunyai berbagai program untuk bisa dimanfaatkan oleh sektor industri meningkatkan kualitas dan produktivitas ekspornya. Seperti misalnya, layanan penyambungan baru (PB), layanan tambah daya (PD) dengan promo-promo sesuai tema terkini, layanan penyambungan sementara (PS), layanan listrik andal dan tanpa kedip yang lebih efisien, penjualan energi bersih melalui _Renewable Energy Certificate_ (REC), hingga layanan listrik untuk pengguna kendaraan listrik.

“Selain itu, PLN menyediakan aplikasi PLN Mobile yang mendukung kebutuhan pelanggan melalui layanan berbasis online untuk memudahkan para investor dan dunia usaha, dari layanan keluhan dan gangguan, layanan permohonan PD/PB/PS, swacam, layanan internet Iconnet, layanan gangguan instalasi melalui listriQu, hingga _marketplace_,” papar Teguh.

Sementara Kepala Divisi Indonesia Eximbank Institute (IEB Institute) LPEI, Rini Satriani menjelaskan hasil riset menunjukkan dengan adanya dukungan pasokan listrik yang andal mampu meningkatkan produktivitas ekspor dari sebuah wilayah. Hasil ini didapat dari pertumbuhan konsumsi listrik yang sejalan dengan laju nilai ekspor di 827 sampel perusahaan.

“Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa konsumsi listrik dan nilai ekspor sektoral memiliki hubungan dua arah yang signifikan dan saling mempengaruhi. Peningkatan konsumsi listrik sebagai salah satu input produksi secara langsung dapat meningkatkan nilai ekspor,” ujar Rini.

Rini mengatakan setiap penambahan konsumsi listrik dapat mendorong peningkatan nilai ekspor suatu wilayah/sektoral. Sebagai contoh, Provinsi Banten memiliki nilai elastisitas yang positif sebesar 1,13 persen terhadap nilai ekspor sektor makanan dan minuman (sektor mamin) dari wilayah tersebut. Artinya, jika terdapat penambahan listrik sebesar 1 persen pada sektor mamin, maka nilai ekspor sektor mamin akan meningkat sebesar 1,13 persen.

“Data ini mencerminkan pentingnya peran listrik sebagai salah satu input produksi industri berorientasi ekspor dalam meningkatkan nilai ekspor sektoral Indonesia, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah,” ujar Rini.

PLN dan LPEI akan terus berkolaborasi serta bersinergi dalam riset bersama guna mendorong ekspor Indonesia dan mendukung produk Indonesia agar mampu bersaing di pasar global serta memperkuat basis perekonomian nasional.(s)

Continue Reading

Ekonomi

Teknologi Digitalisasi, Upaya Pertamina Pastikan BBM dan LPG Tepat Sasaran

Published

on

By

Jakarta, HarisnSentana.com – Besarnya angka subsidi yang digelontorkan Pemerintah untuk BBM dan LPG, mendorong Pertamina untuk terus memastikan distribusi BBM dan LPG Subsidi agar tepat sasaran dan tidak terjadi penyalahgunaan di mata rantai distribusi mulai dari terminal BBM hingga SPBU.

Berbagai upaya yang telah dilakukan antara lain memperketat pengawasan di SPBU dengan menerapkan sistem digitalisasi dan pemasangan CCTV di setiap pulau pompa, hingga melakukan koordinasi khusus dengan aparat penegak hukum.

Di sisi distribusi, Pertamina juga telah menerapkan monitoring GPS Mobil Tangki khususnya pengangkut BBM bersubsidi khususnya jenis Solar untuk antisipasi adanya potensi mobil tangki berhenti di jalur yang tidak wajar. Pengaturan distribusi BBM ke SPBU juga dilakukan  untuk mendukung upaya pembukaan jam operasional serentak.

“Semua proses penyaluran BBM dan LPG Subsidi terpantau dengan ketat melalui sistem digital yang terpusat di command centre Pertamina atau dikenal dengan Pertamina Integrated Enterprise Data and Center Command (PIEDCC),” ujar Pjs Vice President Corporate Communication Pertamina, Heppy Wulansari.

Kecanggihan PIEDCC tak terbantahkan. Sebuah inovasi teknologi berbasis digital yang menyajikan data secara real-time dan akan mendukung peran strategis Pertamina sebagai integrator seluruh lini bisnis dari aspek operasional dan komersial.

Teknologi canggih ini berperan penting dalam memonitor proses bisnis Pertamina dari hulu ke hilir, termasuk distribusi energi di seluruh pelosok negeri. Semuanya telah dijalankan secara digital, terpusat di kantor Pertamina, Jakarta Pusat.

Menurut Heppy, PIEDCC merupakan salah satu inovasi Pertamina untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia.

“PIEDCC hadir sebagai bentuk adaptasi Pertamina terhadap tantangan global yang semuanya telah beralih ke era digital. Dengan digitalisasi, Pertamina bisa menerapkan satu strategi secara menyeluruh sekaligus memberikan efisiensi,” ujar Heppy.

PIEDCC, sambung Heppy, memiliki dashboard kinerja seluruh subholding, mulai dari Upstream, Gas, Refinery & Petrochemical, Integrated Marine Logistics dan Commercial & Trading dalam mendukung ketahanan energi di Indonesia.

Di sisi distribusi BBM dan LPG, dashboard menyajikan informasi ketersediaan stok BBM sampai level terminal,  depot serta SPBU, termasuk proses penjualan dan pelayanan kepada customer.

“Apabila terdapat potensi kekurangan BBM di SPBU Pertamina dapat cepat tertangani, termasuk mendeteksi transaksi anomali atas produk subsidi di SPBU,” imbuh Heppy.

Pertamina, sambung Heppy, akan terus meningkatkan pengawasan agar penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran kepada yang berhak. Masyarakat juga bisa turut berpartisipasi menginformasikan ke Call Centre Pertamina 135 jika menemukan indikasi penyalahgunaan atau penyelewengan BBM maupun LPG  Subsidi di lapangan.()

Continue Reading

Ekonomi

Task Force Energy, Sustainability & Climate B20 Tegaskan Tiga Rekomendasi Dukung Net Zero Emisi Karbon

Published

on

By

Jakarta, HarianSentana.com – B20 Indonesia menggelar forum dialog The Energy Transition In Growth Markets, Selasa (21/6/2022) secara Hybrid. Forum ini merupakan side events dari Task Force Energy, Sustainability & Climate (ESC) dan Task Force  Future of Work and Education berkolaborasi dengan Accenture International Utilities and Energy Conference yang berlangsung dari 21-23 Juni 2022 di Roma, Italia.

Mengusung tema “Maximizing The Value of The Energy Transition in Growth Markets and Paving The Way to B20″, forum ini membahas tentang masa depan industri energi di era yang mengedepankan keberlanjutan dan emisi rendah demi masa depan yang hijau dan planet yang lebih lestari. Ini adalah masa depan yang dituntut dunia, dan pelaku bisnis atau industri yang akan menjadi pelopor dan memimpinnya ke arah sana.

Dalam kesempatan tersebut, Deputy Chair TF ESC B20 Agung Wicaksono yang juga merupakan Managing Director Jababeka Infrastruktur sebagai pengelola kawasan industri terbesar di Indonesia juga menyatakan, potensi dekarbonisasi menuju net zero emission salah satunya juga berasal dari kawasan industri.

“Penyediaan energi terbarukan untuk perusahaan di kawasan industri yang memiliki demand yang besar akan dapat berkontribusi dalam mencapai target transisi energi,” ujar Agung.

Karenanya, ia mengundang perusahaan di dalam B20 untuk melakukan kerja sama global yang akan menghasilkan business action yang berkontribusi terhadap target transisi energi. Side event B20 di Roma, Italia ini adalah sebuah bentuk kerja sama global yang diselenggarakan Accenture sebagai salah satu Co-Chair B20 Taskforce in Energy, Sustainability and Climate (ESC) dengan menghadirkan B20 Indonesia baik dari Taskforce ESC maupun Taskforce Future of Work and Education.

Agung juga menekankan pentingnya transisi energi dan peran penting Task Force ESC B20 dalam mencapai prioritas transisi energi terutama untuk mencapai net zero emission.

“Keberlanjutan perubahan iklim adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan untuk masa depan. Untuk itu, TF ESC saat ini telah menyusun rekomendasi kebijakan yang berfokus kepada 3 rekomendasi dengan 12 tindakan kebijakan yang menyerukan kerja sama global,” ujar Agung.

Tiga rekomendasi kebijakan yang ia sampaikan yaitu, pertama, mempercepat transisi ke penggunaan energi berkelanjutan dengan mengurangi intensitas karbon melalui beberapa jalur. Kedua adalah untuk memastikan transisi yang adil, teratur, dan terjangkau ke penggunaan energi yang berkelanjutan. Ketiga, meningkatkan ketahanan energi sehingga konsumen dapat mengakses dan mengkonsumsi energi bersih dan modern.

“Kami sedang bekerja keras untuk memastikan adanya keselarasan antara target kinerja yang telah ditetapkan B20 Italia tahun lalu dan target kinerja kami tahun ini agar ada keberlanjutannya,” ucapnya.

Untuk memastikan transisi yang adil, teratur, dan terjangkau ke penggunaan energi yang berkelanjutan, Agung menyatakan bahwa pembiayaan ke negara-negara berkembang patut diperhitungkan. Untuk itu perlu dirumuskan cara bagaimana mengintegrasikan keuntungan dari penetapan harga karbon ke pembiayaan transisi energi.

“Selain itu, pada transisi energi kita juga harus memikirkan aspek keamanan dan ketersediaan energi dunia. Artinya, pada saat yang sama kami memastikan bahwa selain bergerak menuju energi yang lebih hijau, pada saat yang sama kami juga memastikan bahwa setiap orang mendapatkan akses ke energi bersih dan modern,” papar Agung.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid mengatakan, saat ini pemain utama di ruang energi dan utilitas menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perlu ada kolaborasi bersama menuju pengurangan emisi karbon yang signifikan dan transisi yang progresif dari energi penyumbang karbon menjadi energi yang ramah lingkungan, lebih hijau, dan berkelanjutan.

“Transisi energi yang lebih hijau bukan berarti menghentikan profit bagi perusahaan. Justru, langkah perusahaan yang beralih ke energi bersih akan membuat nilai lebih bagi brand dan konsumen menjadi lebih percaya serta memberikan nilai positif karena melihat komitmen pelaku bisnis bagi dunia yang lebih lestari,” tutur Arsjad.

Hal senada juga dikatakan Ketua Penyelenggara B20 Indonesia, Shinta Kamdani yang melihat transisi energi harus memberikan manfaat, bukan menjadi suatu beban. Transisi energi, lanjut Shinta harus dipersiapkan dengan matang termasuk juga melakukan mitigasi biaya-biaya yang dibutuhkan, serta dampak yang dapat ditimbulkan.

“Transisi energi ini tentunya membutuhkan dukungan pendanaan yang besar. Negara-negara G20 yang berkontribusi 80% perekonomian dunia, diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap proses transisi ini. Ada beberapa prioritas utama yang mesti dikedepankan dalam transisi energi ini seperti aksesibilitas, teknologi, dan pendanaan,” ujar Shinta.

Acara dimoderatori oleh Gianfranco Casati dan Valentin de Miguel dari Accenture yang merupakan Co-Chair dan Deputy Co-Chair dari B20 Taskforce ESC dan menghadirkan pembicara utama lainnya yaitu Chair B20 Future of Work & Education Task Force/President Director of Astra Otoparts/ Director of PT Astra International Tbk, Hamdhani D Salim; Co Chair B20 Future of Work & Education Task Force/IOE Vice President to The ILO, Renate Hornung Draus; WEF Head of Energy, Material and Infrastructure, Kristen Panerali; ENI Evolution CEO, Giuseppe Ricci.()

Continue Reading
Advertisement

Trending

Copyright © 2019 HarianSentana.com. Theme by PT. Ciptamedia Kreasi.