Connect with us

Polhukam

Kolonel Sus Gerardus Maliti, S.Sos., M.Si. Resmi Jabat Wakil Kepala Pusat Sejarah

Published

on

Jakarta, Hariansentana.com – Kepala Pusat Sejarah TNI, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, S.I.P. secara langsung memimpin Serah Terima Jabatan (Sertijab) Wakil Kepala Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI dari pejabat lama Kolonel Adm Drs. Subari Santosa kepada pejabat baru Kolonel Sus Gerardus Maliti, S.Sos., M.Si. bertempat di di Balairung Pahlawan Museum Satriamandala, Senin (13/10/2025).

Turut hadir dalam pelaksanaan Sertjab, Kepala Pusat Sejarah TNI, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, S.I.P. para pejabat utama Pusjarah TNI, IKKT Pragati Wira Anggini Cabang 17 Pusjarah TNI, dan seluruh anggota Pusjarah TNI.

Dalam sambutannya Kapusjarah Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, S.I.P. menegaskan, tugas dari Wakapusjarah TNI adalah memberikan pertimbangan dan saran kepada Kapusjarah TNI”, tegas Alumni Akademi Militer’97 dalam sambutannya.

“Selain itu mengoordinasikan dan mengendalikan kegiatan staf dan administrasi” tambah Kapusjah TNI.

Selanjutnya Kapusjarah TNI menyampaikan apresiasi kepada pejabat lama atas dedikasi dan kinerjanya selama menjabat, serta berpesan kepada pejabat baru agar dapat menyesuaikan diri dan melanjutkan program kerja yang telah berjalan dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama, turut dilaksanakan serah terima jabatan Wakil Ketua IKKT Pragati Wira Anggini Cabang 17 Pusjarah TNI sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

Acara ditutup dengan ucapan selamat dari Kapusjarah beserta Ketua IKKT Pragati Wira Anggini Cabang 17 Pusjarah TNI, pejabat utama dan seluruh anggota Pusjarah TNI yang hadir kepada pejabat lama dan pejabat baru sebagai bentuk penghormatan dan dukungan dalam menjalankan tugas baru bagi pejabat baru dan memasuki purna tugas bagi pejabat lama.

Kegiatan Sertijab berlangsung dengan tertib, khidmat, dan lancar.(***)

Polhukam

GAMKI Bersama Sejumlah Elemen dan Ormas Kecam Pernyataan JK Soal Doktrin Kristen

gamki bersama sejumlah ormas kecam pernyataan jusuf kala

Published

on

Jakarta, hariansentana.com- GERAKAN Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah elemen organisasi kristen dan Ormas mengecam pernyataan mantan Wakil Presiden, Jusuf Kala (JK) yang menyinggung doktrin agama Kristen.

Diketahui, JK dalam kesempatannya memberikan ceramah Ramadhan di kampus UGM mengatakan bahwapernyataan JK yang menyebut kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon menggunakan istilah “mati syahid”.

“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti.” kata JK saat itu.

Pernyataan JK tersebut menuai kemarahan dan kecaman dari warga net di berbagai platform media sosial. warga net membantah pernyataan JK bahwa agama Kristen tidak pernah ada ajaran membunuh musuh dan mati syahid atau martir. Kristen justru mengajarkan “hukum Kasih” (Lukas 6:27, “Kasihilah Musuhmu, berbuat baiklah kepada orang2 yg membencimu. Matius 5:49, “ditampar pipi kanan kasih pipi kiri). Dalam Injil Matius 22 ayat 37-38, tentang hukum utama kasih Yesus mengajarkan agar mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri.

Terkait peristiwa konflik Ambon dan Poso, warga net juga berpendapat bahwa dalam peristiwa itu umat kristiani tidak menyerang umat Islam, mereka membela dan mempertahankan diri, mereka membunuh umat Islam yang menyerang mereka, ingin membunuh mereka. pula Faktanya seperti Tibo cs dihukum mati, sementara pemimpin perang dari Islam tidak.

Bertempat di sekretariat pusat DPP GAMKI, sejumlah elemen masyarakat seperti; Dewan pakar MUKI, Assosiasi Pendeta Indonesia (API), BKGLKI, Pemuda Batak Bersatu, Advokat Batak, Laskar Manguni, Persatuan Indonesia Timur dan lainnya, menyatakan sikap; 1, Menyatakan bahwa orang kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang Islam akan mati syahid masuk surga seperti yang dikatakan JK. Justru Agama kristen disuruh mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun.

2, Mengecam keras pernyataan Bpk. Jusuf Kala yang menyakiti hati kami umat kristen dan menimbulkan kegaduhan ditengah masyarakat.

3, Akan Melaporkan JK ke Kepolisian republik Indonesia.

Demikian pernyataan sikap kami bacakan,” kata Ketum GAMKI, Sahat Philip Sinurat mewakili semua elemen lembaga kristen dan Ormas yang hadir di kantor sekretariat pusat GAMKI, Menteng, Jakarta, Minggu (12/5/2026) malam.

Diketahui. pada hari ini, Senin (13/05/2026, mereka akan membuat laporan ke Polda Metro Jaya dengan pasal penistaan agama oleh JK.

Continue Reading

Polhukam

Merajut Harapan dari Benang Sederhana: Kiprah Orange Handmade Mengangkat UMKM ke Panggung Kreatif Nasional

Published

on

JAKARTA, Sentana – Di tengah arus modernisasi dan persaingan industri kreatif yang semakin ketat, kehadiran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang konsisten menjaga nilai, kualitas, dan identitas lokal menjadi harapan tersendiri. Orange Handmade menjadi salah satu contoh nyata bagaimana ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkembang mampu melahirkan karya yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan inspirasi.

Bermula dari inisiatif sederhana pada tahun 2015, usaha yang dirintis oleh Ny. Zuhria Novianty ini tumbuh dengan mengedepankan keunikan produk rajut yang dipadukan dengan sentuhan estetika modern. Di bawah pembinaan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang I Sintelad PG Mabesad, Orange Handmade tidak hanya berkembang sebagai unit usaha, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan yang memberi ruang bagi keterlibatan tenaga kerja serta kolaborasi dengan sesama pelaku usaha.

Partisipasi dalam ajang Persit Bisa 2026 menjadi momentum penting yang menandai kesiapan Orange Handmade untuk tampil di panggung yang lebih luas. Mengangkat tema “Earth Series” yang terinspirasi dari elemen alam, produk yang dihadirkan tidak sekadar tas rajut, melainkan representasi harmoni antara manusia dan lingkungannya.

Pilihan warna-warna bernuansa bumi menjadi simbol kedekatan dengan alam sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Lebih dari sekadar menghadirkan produk, Orange Handmade menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda ekonomi sekaligus membuka peluang kerja.

Dengan melibatkan tenaga kerja serta menjalin kemitraan dalam proses produksi, usaha ini membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Dari perjalanan tersebut, kita dapat merenungkan bahwa setiap karya memiliki cerita dan setiap usaha membawa dampak.

Orange Handmade mengajarkan bahwa dari benang-benang sederhana dapat terajut harapan besar—harapan akan kemandirian, keberlanjutan, dan masa depan yang lebih baik bagi para pelaku industri kreatif di tanah air.

Continue Reading

Polhukam

Jaga Anarkisme, M. Aprilyandi: Pelajar dan Pemuda Harus Bersatu Ciptakan Kamtibmas

Published

on

By

TANGSEL, SENTANA – Di tengah sorotan meningkatnya kasus tawuran pelajar dan Pemuda, serta perundungan di kalangan remaja, panggung terbuka itu kini menjelma menjadi semangat kebersamaan dalam ruang dialog lintas sekolah. Para pelajar dan Gen Z yang sebelumnya tak saling mengenal duduk berdampingan, berdiskusi dan menyuarakan komitmen bersama untuk menjaga lingkungan pendidikan dan pergaulan tetap aman.

Diperlukan perhatian serius darilleł berbagai pihak untuk memahami akar permasalahan yang melatar belakanginya, mulai dari faktor lingkungan, keluarga, hingga pengaruh media sosial yang kian masif. Remaja yang berada dalam fase pencarian jati diri sering kali rentan terhadap tekanan sosial dan emosi yang belum stabil, sehingga tanpa bimbingan yang tepat, mereka dapat terjerumus ke dalam perilaku negative yang mengarah pada aksi anarkis.

Oleh karena itu, peran orang tua, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, serta menanamkan nilai empati, toleransi dan penyelesaian konflik secara damai guna mencegah terulangnya kejadian serupa.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tangsel Bersatu, Muhammad Aprilyandi melalui keterangannya, Jum’at (9/4).

Aprilyandi menegaskan bahwa, kegiatan positif yang pernah dilakukan seperti turnamen Mobile Legend, turnamen futsal dan aksi damai pelajar tanpa anarkis merupakan upaya nyata dalam mengalihkan energi serta perhatian remaja ke arah yang lebih konstruktif, sekaligus menjadi wadah untuk menumbuhkan sportivitas, solidaritas dan semangat kebersamaan di kalangan generasi muda sehingga dapat meminimalisir potensi terjadinya tawuran dan aksi anarkis maupun perundungan.

Menurutnya, imbauan normatif tak lagi cukup untuk meredam konflik remaja. Pendekatan harus diikuti aksi nyata yang menyentuh langsung para siswa maupun alumni pelajar hingga pemuda dan Gen Z.

“Mengimbau saja tidak cukup. Harus ada aksi konkret dan solusi bersama,” tegasnya.

Ketua Tangsel Bersatu menegaskan bahwa, isu stop bullying, stop pelecehan dan stop tawuran serta seruan anti anarkhis adalah persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama, termasuk pemerintah daerah, sehingga diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan serta penanganannya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Pemerintah, Aparat Penegak Hukum, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi generasi muda, sekaligus memperkuat edukasi karakter, pengawasan, serta akses terhadap kegiatan positif yang dapat mengarahkan remaja pada hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat.

“Kegiatan positif tersebut, diharapkan menjadi rool model gerakan serupa di berbagai daerah. Di tengah dinamika sosial remaja dan pemuda serta Gen Z yang kian kompleks, inisiatif berbasis komunitas dinilai mampu membuka ruang dialog sekaligus memperkuat solidaritas generasi muda, bahwa perubahan dapat dimulai dari panggung kecil di ruang publik, lalu bergema lebih luas ke seluruh penjuru kota, membangun budaya saling menghargai, kepedulian dan semangat kolaborasi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Red).

Continue Reading
Advertisement

Trending