Hiburan
Ayu Azhari Luncurkan Khodijah Coffee

Jakarta, Sentana
Berawal dari kegemarannya minum kopi, baru saja mengeluarkan brand kopinya sendiri. Uniknya, merek kopi miliknya diberi nama sesuai dengan namanya, yakni Khadijah Coffee. Coffee for Wisdom. Nama ‘Khadijah Coffee’ sendiri diambil dari nama belakang Ayu Azhari yang jarang diketahui banyak orang. Apalagi, nama tersebut pemberian orang tuanya, yakni Ayu Azhari Khadijah.
“Aku telah tujuh tahun mulai gemar minum kopi, ketika mulai bisa menikmati kopi tanpa gula dan susu, Aku mulai keliling Indonesia untuk mencicipi berbagai jenis kopi. Berawal dari sana akhirnya terinspirasi untuuk membuka Khadijah Coffee,” ujar Ayu di kawasan Kemang Jakarta Selatan Rabu (29/1/2020).
Tak hanya itu, karena kegemarannya minum kopi, Ayu pun mengibaratkan hidup seperti takaran dalam membuat kopi, bijak menakar agar bisa dinikmati. Menurutnya tiap takaran yang pas, yang membuatnya merasa siap untuk menghadapi serbuan pertanyaan yang ia hindari gara-gara kasus Axel Djody Gondokusumo, putra pertamanya.
“Saya kan suka minun kopi, saya banyak belajar dari kopi jadi kita sesuaikan muncul istilah coffe for wisdom, karena kita sendiri yang bisa mengukur. Sama halnya dengan hidup, ada saatnya saya bisa berjumpa dan ada saatnya saya menutup diri karena belum siap. Jadi ada hal-hal yang memang sifat bijaksana itu perlu ditanamkan pada diri kita masing-masing dan saya belajar bijaksana dari minum kopi,” ungkapnya.
Menurut Ayu bisnis Khadijah Coffee, Ia bermitra dengan salah satu temannya untuk terus menghidupkan bisnis tersebut. Dengan menyisipkan konsep sufi melalui taglinenya. Karena bagi Ayu, kopi bisa menimbulkan sikap kebijaksanaan bagi para peminumnya.
“Tagline kopi ini kan Coffee for Wisdom. Jadi kalau di sufi itu saya pernah baca di buku-buku sufi, khasiat kopi itu adalah untuk meningkatkan rasa bijaksanaan,” pungkas Ayu.
Editor: Pangihutan S
Hiburan
Piyu Padi Perkenalkan Mantra Digital: Era Baru Transparansi dan Keadilan bagi Industri Musik Indonesia
JAKARTA — Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu pengelolaan royalti dan transparansi data dalam industri musik nasional, musisi legendaris Piyu Padi secara resmi memperkenalkan Mantra Digital, sebuah platform teknologi
berbasis data yang dirancang untuk memperkuat ekosistem musik Indonesia secara adil, terbuka, dan berkelanjutan.
“Mantra Digital merupakan wujud komitmen saya dalam memperjuangkan hak-hak musisi dan insan kreatif, khususnya dalam hal akses terhadap data karya dan nilai ekonominya. Platform ini dikembangkan bukan sebagai lembaga penarik atau pengelola
royalti, melainkan sebagai tools system yang membangun transparansi, akuntabilitas, dan
kesetaraan akses informasi di dalam industri musik,” kata Piyu dalam rilisnya.
Piyu menjelaskan, melalui dashboard terintegrasi, Mantra Digital memungkinkan musisi, komposer, publisher, hingga produser untuk mencatat, mengelola, dan memantau data karya secara sistematis dan transparan.
“Seluruh pihak dalam ekosistem dapat melihat data yang sama, pada waktu yang sama, sesuai dengan hak dan perannya masing-masing,” jelas Piyu.
Kehadiran Mantra Digital diarahkan sebagai solusi struktural atas persoalan mendasar industri musik Indonesia – yakni ketimpangan akses informasi dan lemahnya pengelolaan data. Dengan pendekatan teknologi, Mantra Digital mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih sehat, di mana kepercayaan dibangun melalui sistem yang terukur, bukan sekadar asumsi atau relasi personal.
“Sebagai langkah awal implementasi, Mantra Digital menjalin kolaborasi strategis dengan PT Handhindra Jeka untuk melakukan optimalisasi dan penataan data karya-karya
legendaris JK Record. Kolaborasi ini menjadi model awal penerapan sistem transparansi berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Mantra Digital,” tegasnya.
Piyu menyebut Masalah terbesar industri musik kita bukan pada talenta, tetapi pada sistem. Musisi terlalu lama berjalan tanpa visibilitas data atas karyanya sendiri.
“Mantra Digital hadir
untuk mengembalikan kendali informasi itu kepada pemilik hak – secara terbuka, terukur, dan adil,” terangnya.
Piyu menyebut yang ditawarkan Mantra Digital bukan sekadar platform, melainkan perubahan cara industri musik memandang kepemilikan dan kekuasaan atas data. Selama ini, persoalan
royalti sering dipersempit pada soal siapa yang menarik dan membagi, padahal persoalan utamanya adalah siapa yang memegang data dan siapa yang memiliki akses terhadapnya.
“Mantra Digital hadir bukan sebagai lembaga penarik royalti, bukan regulator, dan bukan penguasa karya. Mantra diposisikan sebagai arsitektur system – sebuah platform tools yang mencatat karya secara terstruktur, menampilkan data secara transparan, dan memungkinkan seluruh pihak dalam ekosistem melihat data yang sama, pada waktu yang sama,” terangnya.
Piyu juga menyebut, Mantra Digital tidak mengambil alih hak, melainkan mengembalikan kendali informasi kepada pemilik hak.
Dampak bagi Ekosistem Musik
Mantra Digital tidak dibangun untuk segelintir musisi besar, tetapi untuk seluruh ekosistem industri musik Indonesia. Bagi musisi independen dan komposer daerah, Mantra Digital menyediakan pencatatan
karya yang rapi, kepemilikan yang jelas, serta riwayat penggunaan yang dapat ditelusuri, sehingga membuka akses kerja sama yang lebih adil tanpa kehilangan posisi tawar.
“Bagi publisher dan label, Mantra Digital menyederhanakan pengelolaan katalog dan kontrak. Data menjadi aset produktif, akuntabilitas meningkat, dan potensi konflik dapat
diminimalkan,” tegasnya.
Bagi industri musik nasional, Mantra Digital mendorong standar kerja berbasis sistem dan data, bukan relasi personal, agar industri musik Indonesia sejajar dengan ekosistem global yang menuntut transparansi dan auditabilitas.
Bagi negara dan masa depan industri, ekosistem data yang rapi memudahkan sinkronisasi
kebijakan, perlindungan hak cipta, serta pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan
tanpa perlu menambah lembaga baru.
Posisi Mantra Digital dalam Lanskap Industri Mantra Digital tidak berdiri di atas siapa pun dan tidak melawan siapa pun. Platform ini tidak menggantikan lembaga yang sudah ada, melainkan mengisi ruang transparansi data dan
keterbukaan sistem yang selama ini belum terbangun.
Mantra Digital adalah infrastruktur netral, tempat seluruh pihak dapat berdiri sejajar karena berpijak pada data yang sama.
Melalui Mantra Digital, Piyu Padi mengajak seluruh pelaku industri musik Indonesia untuk beralih menuju ekosistem yang lebih terbuka, terukur, dan berkeadilan. Dengan teknologi yang tepat dan semangat kolaborasi, Mantra Digital diharapkan menjadi fondasi baru bagi masa depan industri musik Indonesia yang lebih efisien, sehat, dan bermartabat.
Hiburan
Mantan Istri Nasar KDI Terlilit Hutang Miliaran Rupiah
TANGERANG – Rumah Mantan Istri Nasar KDI, Muzdalifah disatroni oleh beberapa penerima kuasa penagihan dari seorang pengusaha. Mereka datang untuk menagih piutang yang dimiliki oleh Muzdalifah.
“Kami datang untuk menagih hutang yang dilakukan Muzdalifah kepada klien kami,” kata Anton salah satu penagih kepada media di rumah Muzdalifah jalan Adi Sucipto, Pondok Benda Tangerang, Kamis (18/12).
Anton menjelaskan pihaknya sudah beberapa kali mendatangi rumah Musdalifah, dalam kunjungan pertama kami tak bertemu dengan yang bersangkutan, kunjungan kedua bertemu dan berjanji akan membayar.
“Nah begitu kita datangi lagi, ternyata masih belum ada kejelasan pembayaran,” ucapnya.

Penagih tersebut mengatakan kronologis hutang Muzdalifah terjadi pada tahun 2021 hingga 2023 dimana Muzdalifah mendatangi klien kami dan menceritakan keluh kesahnya.
“Awal pertama datang dia minta tolong pinjam uang dengan alasan anaknya belum makan dan gak ada biaya sekolah serta kuliah,” kata Anton menceritakan kedatangan Muzdalifah pertama kali bertemu kliennya.
Tak hanya mengeluhkan soal biaya makan, sekolah dan kuliah, Muzdalifah juga mengeluhkan sudah tak memiliki mobil dan meminta kepada klien saya untuk meminjam mobil.

“Akhirnya klien saya menyewakan mobil untuk Muzdalifah dan membayarnya selama satu tahun,” jelasnya.
Selama satu tahun itu, dikatakan Anton kliennya tak pernah menanyakan pembayaran mobil, hingga akhirnya Muzdalifah kembali untuk meminta tolong meminjam uang.
“Kalau seluruhnya di total (berdasar bukti transfer) mungkin bisa mencapai miliaran, tapi yang tercatat dalam kwitansi itu senilai Rp 600 juta,” tegasnya.
Dilanjutkan Anton, Muzdalifah sempat menawarkan tanah dibelakang rumahnya sebagai jaminan kepada klien kami. Hanya saja klien kami menolak karena ternyata tanah tersebut milik keluarga Muzdalifah.
“Dia sempat menawarkan tanah yang berada dibelakang rumahnya kepada klien kami, tapi klien kami menolak,” tutupnya.
Dibeberkan Anton kliennya juga sudah melaporkan perkara ini ke Mabes Polri. Namun pihaknya juga masih menunggu itikat baik dari Muzdalifah untuk mengembalikan hutangnya.
Hiburan
Nona Setimba Jadi Karya Van Oo Berkarir di Dunia Musik
JAKARTA – Industri musik Indonesia kembali menghadirkan wajah baru dengan latar belakang pengalaman panjang. Vanna Leonardo Nainggolan atau Van Oo bukan nama baru didunia musik, dirinya pernah berkarya bersama grup musik trio Batak pada 2020 lalu
Bersama grup musik tersebut Van oo sempat menelurkan dua single yakni Tintin Parsirangan dan Lidya, namun di tahun 2025 ini dirinya memutuskan untuk menjalani solo karir.
Keputusan ini diwujudkan melalui perilisan lagu berjudul ‘Nona Setimba yang lagunya sendiri diciptakan oleh Iyan Barus yang dipilih sebagai karya pembuka perjalanan barunya.
“Nona Setimba itu artinya Setengah Timur Batak. Dimana lagunya sendiri mengikuti trend yang tengah hype sekarang yang lebih mengangkat lagu-lagu dari timur Indonesia makanya kita keluarkan lagu ini sebagai upaya kita berkarya di industri musik Indonesia,” ungkap Van Oo saat ditemui di Kawasan Kemang Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).
Diterangkan Van Oo, dirinya tidak merasa kesulitan menyanyikan lagu berbahasa timur lantaran selama ini dirinya sebagai penyanyi sudah kerap kali bernyanyi dengan lagu-lagu berbahasa timur.
“Kalau kesulitan enggak nyanyi lagu-lagu timur karena kita orang Batak itu sering nyanyi lagu-lagu berbahasa timur jadi enggak ada kesulitan sama sekali,” tambahnya.
Dilokasi yang sama Produser Van Oo yakni John Boy dari label Jalur Bintang Musik terus berupaya untuk menghadirkan visi untuk menggabungkan identitas lokal dengan pendekatan produksi modern, sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki kekuatan budaya.
“Jalur Bintang Musik sebagai label rekaman baru memang terus berupaya untuk memberikan kesempatan pada penyanyi-penyanyi berbakat di Indonesia yang mungkin kurang kesempatan untuk bisa tampil di level nasional,” jelasnya.
“Dan Van Oo ini sebagai upaya kita menghadirkan talenta-talenta baru di dunia musik agar musik di Indonesia bisa bervariasi dan kedepan kita akan juga hadirkan penyanyi-penyanyi berbakat dan berkarakter agar bisa dapat kesempatan untuk melebarkan sayap dan karyanya di industri musik Tanah Air,” tutup JB.
-
Polhukam6 days agoLagi-lagi Peredaran Obat Keras kembali Marak di Wilayah Jakarta Utara Generasi muda terancam Aparat tutup mata
-
Polhukam6 days agoPutri Dakka Laporkan Pengacara Makassar ke Ditsiber Bareskrim Polri
-
Nasional6 days agoBandingkan Status Guru Honorer dengan Petugas SPPG, Adian: Agak Laen
-
Polhukam3 days agoBos KFC Indonesia Dilaporkan ke Mabes polri atas Dugaan Penggelapan

