Connect with us

Ekonomi

Ini Delapan Inisiatif Pertamina Perluas Portofolio Energi Hijau

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Power and Renewable Energy (NRE) terus melakukan transisi dari perusahaan migas menjadi perusahaan energi hijau (green energy) yang mencakup delapan portofolio.

Perluasan portofolio energi hijau tersebut meliputi energi panas bumi, hidrogen, Baterai EV dan sistem penyimpanan energi, gasifikasi, kilang hijau, bioenergy, serta sirkuler ekonomi karbon dan energi baru terbarukan, salah satunya sebagai project developer untuk proyek-proyek solar PV.

Direktur Utama Subholding Power and NRE (PNRE) Pertamina, Dannif Danusaputro mengatakan, di sektor panas bumi perusahaan akan meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Jika pada 2020 PLTP yang  dikelola oleh PT  Pertamina Geothermal, anak usaha Pertamina PNRE sebanyak 672 megawatt (MW) pada 2026 diproyeksian bertambah jadi 1.128 MW.

“Dari pengembangan panas bumi, PNRE juga telah memulai inisiatif pemanfaatan hidrogen hijau di Indonesia yang akan menggunakan listrik dari lapangan panas bumi Pertamina dengan potensi total 8.600 kilo gram hidrogen per hari,” ujar Dannif saat berbicara pada webinar Solusi Kebersamaan Energy and Mining Editor Society (SUKSE2S) dengan tema: “PLTS Atap untuk Industri, Siapa yang Untung?” yang digelar Rabu (23/3/2022).

Selain Danif, hadir sebagai pembicara dalam webinar Munief Budiman, Executive Vice President Pelayanan Pelanggan Retail PLN; Ketua APAMSI; Christoper Liawan, CEO PT Sky Energi Indonesia Tbk; dan Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Development Danone Indonesia.

Menurut Dannif, pada portofolio Baterai EV & Sistem Penyimpanan Energi, PNRE Pertamina berpartisipasi dalam perusahaan patungan pengembangan baterai. PNRE Power memproyeksikan pada 2029 produksi batereai 140 GWh. “Kami juga ikut dalam pengembangan ekosistem batera, termasuk swapping dan charging business,” ujarnya.

Untuk gasifikasi, lanjut dia, PNRE Pertamina juga  mengembangkan pembangunan pabrik methanol untuk gasifikasi dengan kapasitas 1000 ktpa. Pabrik methanol tersebut diproyeksikan on stream pada 2025. “Kami juga proyeksikan DME dangan kapasitas 5200 KTPA on stream pada tiga tahun ke depan,” katanya.

Ia menambahkan, untuk green refinery konstruksi kilang hijau dengan kapasitas 6 – 100 KTPA diproyeksikan pada 2025. Adapun untuk bioenergi peningkatan kapasitas pembangkit pada 2026, terdiri atas biomassa/Biogas 153 MW, Bio blending Gasoil & bensin, Biocrude dari alga dan etanol 1,00 KTPA on stream pada 2025.

“Kami juga berencana untuk menerapkan Circular Carbon Economy di beberapa daerah. Ada beberapa kegiatan untuk daur ulang pada biomassa dan biogas dan reduce pada solar PV, EV, dan LNG Bunkering serta penggunaan Kembali (reuse) CO2 untuk EOR dan methanol,” jelasnya.

Hingga  empat tahun ke depan, Pertamina PNRE juga focus pengembangan pembangkit PV surya, Angin, dan Hidro. PLTS yang sudah dipasang Pertamina NRE kebanyakan berada di lingkungan Pertamina. “Tahun ini target 200 MW terpasang, kebanyakan adalah rooftop,” ucapnya.

“Saat ini Pertamina NRE memiliki kapasitas solar PV 12,4 MW. Selain PLTS, ada juga pembangkit biomass 4,4 MW serta yang menjadi backbone, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 672 MW dan gas to power 1.760 MW,” tambah dia.

Masih menurut Dannif, dari sisi benefit, PLTS seharusnya sesuatu yang mudah untuk dijual, terutama untuk sister company Pertamina NRE. “Key challenge dari sisi affordability, grid connectivity, regulatory barriers, dan access to financing. Regulatory barrier, menurut saya Indonesia masih single buyer, menjadi challenge untuk pemain di renewable,” katanya.

Peningkatan Besar-besaran di 2028

Sementara itu, PT PLN (Persero) memproyeksikan pengembangan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) akan mengalami peningkatan besar-besaran mulai 2028 dikarenakan kemajuan teknologi baterai yang semakin murah. Setelah itu, kenaikan secara eksponensial akan mulai terjadi pada 2040.

Menurut Executive Vice President Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Munief Budiman, pada 2045 porsi EBT sudah mendominasi total pembangkit. “Dekade berikutnya seluruh pembangkit listirk di Indonesia berasal dari EBT,” ujar Munief.

Ia mengatakan PLN berkomitmen mendukung pemerintah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025 yang ditunjukkan pada pilar transformasi green PLN. Transformasi PLN untuk pilar green dengan berupaya memimpin transisi energi Indonesia melalui peningkatan EBT secara pesat dan efisien.

“Green breakthrough kami adalah implementasi RJPP 2019-2024, launch green booster 3,5 GW, dan launch large scale reneable energy,” kata Munief

Menurut Munief, pada 2015-2019 PLN mempunyai forecast demand dari kebutuhan tenaga listrik yang cukup tinggi. Ini akan menjadi dasar PLN menyiapkan infrastruktur untuk respon pertumbuhan yang tinggi. Namun pada 2016-2017 ternyata pertumbuhan tenaga listrik tidak seperti yang diharapkan. Padahal pada 2015 sudah ada komitmen pembangunan proyek IPP yang sudah berjalan.

“Ini menjadi hal yang harus kita antisipasi. Pada 2019 estimasi diupayakan dikoreksi. Pada 2021 estimasi demand dari 361 TWh, dikoreksi jadi 279 TWh. Target 2022 estimasi demand 392 TWh, dikoreksi jadi 300 TW,” ungkap dia.

Saat ini sebaran sistem kelistrikan secara nasional  semuanya surplus sangat tinggi di atas 30-40 persen. Ada yang bahkan 109 persen di sistem Nias. Untuk Jawa – Bali surplusnya 50 persen.

Munief mengatakan hanya ada beberapa di sistem khatulistiwa yang sistem reserve marginnya 9 persen. Ini menunjukkan cadangan kapasitas listrik banyak yang belum terutilisasi. “PLN perlu arif dan bijaksana agar kapasitas ini bisa dimanfaatkan dan bisa ikut berpartisipasi dalam pengembangan EBT,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Linus Andor Maulana mengatakan, faktor negative cycle menjadi penyebab tidak berkembangnya industri solar PV di Indonesia. Negative cyle yang terjadi akibat ada limited capacity sehingga low economic scale tidak tercapai. Selain itu, low demand, low new investment, serta high cost dan price low feasibility.

“Kalau industri ini mau ditumbuhkan di hulunya, ada peluang bisnis, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan kemampuan nasional,” kata Linus.

Menurut dia, di Indonesia banyak tambang kuarsit untuk dikembangkan. Namun untuk itu perlu investasi yang cukup besar. Untuk penambangan dan pengolahan konsentrat kuarsit dan dikembangkan menjadi kuarsa murni diperlukan investasi US$160 juta. Reduksi dan pemurnian dari kuarsa murni ke metalurgical grade investasinya US$455 juta. “Dan untuk menjadi produk elektronika dan chemical, solar cell dibutuhkan investasi US$250 juta,” kata dia.

Christoper Liawan, Direktur Utama Sky Energy, mengatakan PLTS merupakan salah satu jenis pembangkit EBT dengan potensi terbesar yaitu 207,8 GW. Namun masih ada kendala dalam pengembangan PLTS, khususnya PLTS atap.

Berdasarkan hasil kajian, 92 persen masyarakat masih memiliki keraguan untuk menggunakan PLTS atap. Kurang pemahaman terhadap teknologi PLTS atap, masih menganggap harganya mahal, dan belum mendapatkan jawaban yang tepat terkait produk dan manfaat penghematan listrik dari PLTS atap.

“Selain itu infrastruktur bangunan di Indonesia masih belum mampu mendukung penggunaan solar panel atap konvensional yang terlalu berat,” kata dia.(s)

Ini Delapan Inisiatif Pertamina Perluas Portofolio Energi Hijau

Jakarta, HarianSentana.com – PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Power and Renewable Energy (NRE) terus melakukan transisi dari perusahaan migas menjadi perusahaan energi hijau (green energy) yang mencakup delapan portofolio.

Perluasan portofolio energi hijau tersebut meliputi energi panas bumi, hidrogen, Baterai EV dan sistem penyimpanan energi, gasifikasi, kilang hijau, bioenergy, serta sirkuler ekonomi karbon dan energi baru terbarukan, salah satunya sebagai project developer untuk proyek-proyek solar PV.

Direktur Utama Subholding Power and NRE (PNRE) Pertamina, Dannif Danusaputro mengatakan, di sektor panas bumi perusahaan akan meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Jika pada 2020 PLTP yang  dikelola oleh PT  Pertamina Geothermal, anak usaha Pertamina PNRE sebanyak 672 megawatt (MW) pada 2026 diproyeksian bertambah jadi 1.128 MW.

“Dari pengembangan panas bumi, PNRE juga telah memulai inisiatif pemanfaatan hidrogen hijau di Indonesia yang akan menggunakan listrik dari lapangan panas bumi Pertamina dengan potensi total 8.600 kilo gram hidrogen per hari,” ujar Dannif saat berbicara pada webinar Solusi Kebersamaan Energy and Mining Editor Society (SUKSE2S) dengan tema: “PLTS Atap untuk Industri, Siapa yang Untung?” yang digelar Rabu (23/3/2022).

Selain Danif, hadir sebagai pembicara dalam webinar Munief Budiman, Executive Vice President Pelayanan Pelanggan Retail PLN; Ketua APAMSI; Christoper Liawan, CEO PT Sky Energi Indonesia Tbk; dan Karyanto Wibowo, Direktur Sustainable Development Danone Indonesia.

Menurut Dannif, pada portofolio Baterai EV & Sistem Penyimpanan Energi, PNRE Pertamina berpartisipasi dalam perusahaan patungan pengembangan baterai. PNRE Power memproyeksikan pada 2029 produksi batereai 140 GWh. “Kami juga ikut dalam pengembangan ekosistem batera, termasuk swapping dan charging business,” ujarnya.

Untuk gasifikasi, lanjut dia, PNRE Pertamina juga  mengembangkan pembangunan pabrik methanol untuk gasifikasi dengan
kapasitas 1000 ktpa. Pabrik methanol tersebut diproyeksikan on stream pada 2025. “Kami juga proyeksikan DME dangan kapasitas 5200 KTPA on stream pada tiga tahun ke depan,” katanya.

Ia menambahkan, untuk green refinery konstruksi kilang hijau dengan kapasitas 6 – 100 KTPA diproyeksikan pada 2025. Adapun untuk bioenergi peningkatan kapasitas pembangkit pada 2026, terdiri atas biomassa/Biogas 153 MW, Bio blending Gasoil & bensin, Biocrude dari alga dan etanol 1,00 KTPA on stream pada 2025.

“Kami juga berencana untuk menerapkan Circular Carbon Economy di beberapa daerah. Ada beberapa kegiatan untuk daur ulang pada biomassa dan biogas dan reduce pada solar PV, EV, dan LNG Bunkering serta penggunaan Kembali (reuse) CO2 untuk EOR dan methanol,” jelasnya.

Hingga  empat tahun ke depan, Pertamina PNRE juga focus pengembangan pembangkit PV surya, Angin, dan Hidro. PLTS yang sudah dipasang Pertamina NRE kebanyakan berada di lingkungan Pertamina. “Tahun ini target 200 MW terpasang, kebanyakan adalah rooftop,” ucapnya.

“Saat ini Pertamina NRE memiliki kapasitas solar PV 12,4 MW. Selain PLTS, ada juga pembangkit biomass 4,4 MW serta yang menjadi backbone, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 672 MW dan gas to power 1.760 MW,” tambah dia.

Masih menurut Dannif, dari sisi benefit, PLTS seharusnya sesuatu yang mudah untuk dijual, terutama untuk sister company Pertamina NRE. “Key challenge dari sisi affordability, grid connectivity, regulatory barriers, dan access to financing. Regulatory barrier, menurut saya Indonesia masih single buyer, menjadi challenge untuk pemain di renewable,” katanya.

Peningkatan Besar-besaran di 2028
Sementara itu, PT PLN (Persero) memproyeksikan pengembangan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) akan mengalami peningkatan besar-besaran mulai 2028 dikarenakan kemajuan teknologi baterai yang semakin murah. Setelah itu, kenaikan secara eksponensial akan mulai terjadi pada 2040.

Menurut Munief Budiman, pada 2045 porsi EBT sudah mendominasi total pembangkit. “Dekade berikutnya seluruh pembangkit listirk di Indonesia berasal dari EBT,” ujar Munief.

Ia mengatakan PLN berkomitmen mendukung pemerintah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025 yang ditunjukkan pada pilar transformasi green PLN. Transformasi PLN untuk pilar green dengan berupaya memimpin transisi energi Indonesia melalui peningkatan EBT secara pesat dan efisien.

“Green breakthrough kami adalah implementasi RJPP 2019-2024, launch green booster 3,5 GW, dan launch large scale reneable energy,” kata Munief

Menurut Munief, pada 2015-2019 PLN mempunyai forecast demand dari kebutuhan tenaga listrik yang cukup tinggi. Ini akan menjadi dasar PLN menyiapkan infrastruktur untuk respon pertumbuhan yang tinggi. Namun pada 2016-2017 ternyata pertumbuhan tenaga listrik tidak seperti yang diharapkan. Padahal pada 2015 sudah ada komitmen pembangunan proyek IPP yang sudah berjalan.

“Ini menjadi hal yang harus kita antisipasi. Pada 2019 estimasi diupayakan dikoreksi. Pada 2021 estimasi demand dari 361 TWh, dikoreksi jadi 279 TWh. Target 2022 estimasi demand 392 TWh, dikoreksi jadi 300 TW,” ungkap dia.

Saat ini sebaran sistem kelistrikan secara nasional  semuanya surplus sangat tinggi di atas 30-40 persen. Ada yang bahkan 109 persen di sistem Nias. Untuk Jawa – Bali surplusnya 50 persen.

Munief mengatakan hanya ada beberapa di sistem khatulistiwa yang sistem reserve marginnya 9 persen. Ini menunjukkan cadangan kapasitas listrik banyak yang belum terutilisasi. “PLN perlu arif dan bijaksana agar kapasitas ini bisa dimanfaatkan dan bisa ikut berpartisipasi dalam pengembangan EBT,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Linus Andor Maulana mengatakan, faktor negative cycle menjadi penyebab tidak berkembangnya industri solar PV di Indonesia. Negative cyle yang terjadi akibat ada limited capacity sehingga low economic scale tidak tercapai. Selain itu, low demand, low new investment, serta high cost dan price low feasibility.

“Kalau industri ini mau ditumbuhkan di hulunya, ada peluang bisnis, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan kemampuan nasional,” kata Linus.

Menurut dia, di Indonesia banyak tambang kuarsit untuk dikembangkan. Namun untuk itu perlu investasi yang cukup besar. Untuk penambangan dan pengolahan konsentrat kuarsit dan dikembangkan menjadi kuarsa murni diperlukan investasi US$160 juta. Reduksi dan pemurnian dari kuarsa murni ke metalurgical grade investasinya US$455 juta. “Dan untuk menjadi produk elektronika dan chemical, solar cell dibutuhkan investasi US$250 juta,” kata dia.

Christoper Liawan, Direktur Utama Sky Energy, mengatakan PLTS merupakan salah satu jenis pembangkit EBT dengan potensi terbesar yaitu 207,8 GW. Namun masih ada kendala dalam pengembangan PLTS, khususnya PLTS atap.

Berdasarkan hasil kajian, 92 persen masyarakat masih memiliki keraguan untuk menggunakan PLTS atap. Kurang pemahaman terhadap teknologi PLTS atap, masih menganggap harganya mahal, dan belum mendapatkan jawaban yang tepat terkait produk dan manfaat penghematan listrik dari PLTS atap.

“Selain itu infrastruktur bangunan di Indonesia masih belum mampu mendukung penggunaan solar panel atap konvensional yang terlalu berat,” kata dia.(s)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur Dorong Pesantren Naik Kelas, dari Kemandirian Ekonomi hingga Jejaring Global

Published

on

By

JAKARTA, SENTANA – Pesantren kini tidak hanya dituntut berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga semakin didorong untuk memiliki kemandirian ekonomi dan kemampuan membangun jejaring yang lebih luas.

Semangat tersebut menjadi salah satu perhatian Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Jakarta Timur bersama Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Jakarta Timur dalam memperkuat ekosistem pesantren.

Melalui keterangannya, Rabu (12/8), Ketua HEBITREN Jakarta Timur, K.H. Zaenul Muttaqin, SE, M.Pd, Doctor Candidat, mengatakan, penguatan ekonomi pesantren merupakan bagian penting dari upaya membangun pesantren yang mandiri dan berdaya saing.

Menurutnya, potensi ekonomi yang dimiliki pesantren cukup besar. Selain memiliki sumber daya manusia berupa santri dan para pengelola pesantren, lembaga pendidikan tersebut juga memiliki jaringan alumni serta basis masyarakat yang dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan berbagai unit usaha.

“Pesantren memiliki potensi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara profesional sehingga mampu memberikan nilai tambah dan memperkuat kemandirian pesantren,” ujar K.H. Zaenul Muttaqin.

Ia menilai, HEBITREN dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut, terutama dalam hal pengembangan usaha, peningkatan kapasitas pengelola, berbagi pengalaman dan membangun jaringan antarpesantren.

Namun, menurutnya, kemandirian ekonomi tidak semata-mata diukur dari banyaknya unit usaha yang dimiliki pesantren.

“Yang paling penting adalah membangun ekosistem. Ada peningkatan kapasitas SDM, tata kelola yang baik, jaringan usaha dan keberlanjutan. Jadi bukan sekadar memiliki usaha, tetapi bagaimana usaha itu benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat bagi pesantren,” katanya.

Di sisi lain, FKPP Jakarta Timur memiliki posisi strategis dalam memperkuat komunikasi dan sinergi antarpondok pesantren.

Dewan Penasehat HEBITREN Jakarta Timur sekaligus Ketua FKPP Jakarta Timur, K.H. Mahmud Efendy, Lc., MA, mengatakan, pesantren perlu terus memperkuat komunikasi dan kerja sama agar berbagai potensi yang dimiliki tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Pesantren memiliki karakter dan potensi masing-masing. Dengan komunikasi dan kolaborasi, potensi itu bisa saling menguatkan,” ujar K.H. Mahmud.

Ia menambahkan, perkembangan zaman membuat pesantren harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.

Karena itu, penguatan kelembagaan, pendidikan, ekonomi dan jejaring menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan pesantren ke depan.

Sementara itu, Pengurus DPW HEBITREN DKI Jakarta, Gus Adnan Hafizh, S.Pd., M.Pd, menilai, pengembangan ekonomi pesantren juga harus dibarengi dengan peningkatan kompetensi generasi santri.

Menurutnya, santri tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu memiliki keterampilan kewirausahaan, kemampuan berkomunikasi serta wawasan yang lebih luas.

“Santri harus dipersiapkan menghadapi dunia yang terus berubah. Karena itu, pendidikan, kewirausahaan dan jejaring harus berjalan beriringan,” katanya.

Membuka Jejaring ke Dunia Internasional

Upaya memperluas jejaring tersebut, salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur dengan Lembaga Santri Mendunia.

Kolaborasi tersebut dideklarasikan di Kota Songkhla, Thailand, dengan tujuan membuka ruang kerja sama yang lebih luas bagi pesantren dan santri Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, delegasi HEBITREN Jakarta Timur dipimpin K.H. Zaenul Muttaqin, didampingi K.H. Mahmud Efendy dan Gus Adnan Hafizh. Kolaborasi tersebut juga berlangsung atas arahan Ketua Umum DPW HEBITREN DKI Jakarta, Dr. KH. Sofwan Yahya, Lc., MA.

Dari pihak Santri Mendunia, kerja sama tersebut diinisiasi oleh Gus Muhammad Aziz Baedhowi, S.Pd., M.Pd., PhD, yang dalam kesempatan tersebut diwakili Gus Nizom.

K.H. Zaenul Muttaqin mengatakan, jejaring internasional bukan tujuan akhir, melainkan salah satu sarana untuk membuka akses pengetahuan, pengalaman, kerja sama dan peluang baru bagi pesantren serta santri.

“Ketika pesantren mampu membangun jejaring yang lebih luas, peluang untuk belajar dan berkembang juga semakin terbuka. Tetapi yang harus tetap menjadi pijakan adalah nilai-nilai pesantren dan kepentingan untuk memberikan manfaat,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pesantren memiliki ruang yang semakin luas untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dan kerja sama lintas negara.

Bagi HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur, penguatan pesantren tidak cukup dilakukan melalui satu bidang saja. Kemandirian ekonomi, kualitas pendidikan, kapasitas sumber daya manusia dan jejaring harus dibangun secara beriringan.

“Dari sinilah pesantren diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga berkembang menjadi lembaga yang mandiri, produktif dan mampu memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat. Dari pesantren membangun kemandirian, dari santri menebar manfaat dan dari Indonesia membuka jalan menuju dunia,” pungkas pria Kelahiran Kota Wali Demak ini. (Red).

Continue Reading

Ekonomi

HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia, Teken MoU Strategis Penguatan Bisnis Pesantren Ekspor-Impor

Published

on

By

PENANDATANGANAN MoU-Datuk K.H. Rudi Mhafud, Ketua PCI Malaysia bersama K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, Ketua HEBITREN Jakarta Timur, saat melakukan Penandatanganan MoU. (Foto Ist).

MALAYSIA, SENTANA – Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Jakarta Timur secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PCI Malaysia sebagai langkah strategis memperkuat jejaring ekonomi pesantren di tingkat internasional. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Datuk K.H. Rudi Mhafud, selaku Ketua PCI Malaysia bersama K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, selaku Ketua HEBITREN Jakarta Timur, Jum’at (7/8).

Momentum bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam membangun diplomasi ekonomi pesantren antara Indonesia dan Malaysia. Di tengah dinamika ekonomi global, pesantren dituntut tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pembinaan akhlak, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing internasional.

Melalui kerja sama ini, kedua lembaga berkomitmen mengembangkan ekosistem bisnis pesantren yang berorientasi pada perdagangan ekspor-impor produk halal, penguatan UMKM pesantren, pengembangan koperasi pesantren, investasi syariah, pertukaran informasi pasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses pasar internasional bagi produk-produk unggulan pesantren.

Melalui keterangannya, Jum’at (7/8), K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd menyampaikan bahwa, kemandirian pesantren pada masa depan harus dibangun melalui sinergi antara pendidikan, teknologi dan ekonomi.

“Pesantren harus menjadi pelopor lahirnya ekonomi umat yang kuat. Santri bukan hanya dipersiapkan menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang amanah, profesional dan mampu membawa produk halal Indonesia menembus pasar dunia. Ekspor-impor adalah bagian dari ikhtiar membangun kemandirian ekonomi yang bernilai ibadah dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ungkapnya.

Sementara itu, Datuk K.H. Rudi Mhafud menegaskan bahwa, Malaysia memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perdagangan halal di Asia Tenggara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan bagi produk-produk pesantren Indonesia untuk memasuki pasar Malaysia dan negara-negara lainnya, sekaligus membuka peluang produk Malaysia masuk ke jaringan pesantren Indonesia secara profesional dan saling menguntungkan.

MoU ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem ekonomi syariah yang berlandaskan nilai kejujuran, keberkahan, keadilan, serta kemaslahatan bersama. Pesantren diharapkan mampu menjadi pusat inovasi ekonomi berbasis nilai-nilai Islam yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia akan menginisiasi berbagai program konkret, di antaranya pelatihan ekspor-impor, pendampingan sertifikasi halal, business matching antar pelaku usaha pesantren, promosi produk unggulan, pengembangan logistik perdagangan, serta pembentukan jaringan bisnis pesantren lintas negara.

Penandatanganan MoU di Kuala Lumpur diharapkan menjadi awal lahirnya kolaborasi yang berkelanjutan dalam memperkuat ekonomi pesantren di kawasan ASEAN. Dengan semangat ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan serumpun Indonesia–Malaysia, HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia optimistis mampu menghadirkan model bisnis pesantren yang modern, mandiri, dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi syariah regional maupun global.

“Kerja sama ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi umat, pencetak wirausahawan berintegritas, serta jembatan diplomasi ekonomi yang membawa keberkahan bagi kedua bangsa,” pungkasnya. (Red).

Continue Reading

Ekonomi

Memasuki HUT ke 51 Indocement Perkuat Langkah Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau dan Gemilang

Published

on

By

Jakarta, Hariansentana.com – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) memperingati HUT ke-51 pada 4 Agustus 2026, di Aula ASIST, Kompleks Pabrik Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat secara hybrid.

Perayaan tahun ini mengusung tema Harmoni dalam Sinergi, Kreatif dalam Inovasi, Gemilang dalam Prestasi yang menggambarkan semangat Indocement untuk terus menguatkan kolaborasi, mendorong terobosan, dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya menyampaikan bahwa perjalanan selama lebih dari setengah abad telah membentuk Indocement menjadi perusahaan bahan bangunan yang tangguh, inovatif, dan terpercaya. Pencapaian tersebut merupakan hasil harmoni dari seluruh karyawan Indocement, dukungan dari pelanggan serta mitra usaha, dan kepercayaan dari pemegang saham, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Lima puluh satu tahun merupakan perjalanan panjang yang dibangun melalui kerja keras, ketangguhan, dan semangat kebersamaan. Dengan menghayati nilai harmoni, kreativitas, dan prestasi, kami yakin Indocement akan semakin relevan serta mampu memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dan Indonesia,” ujar Direktur Utama Indocement.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indocement terus memperkuat portofolio bisnis dan ekosistem pendukungnya. Perusahaan memperkuat bisnis mortar melalui pembentukan PT Mortar Prakarsa Utama, hasil kolaborasi antara anak usaha Indocement dan Saint-Gobain Group. Indocement juga membentuk usaha patungan bersama Mondi Industrial Bags GmbH., yaitu PT Mondi Indo Prakarsa Kemasan, untuk mendukung ketersediaan kemasan yang andal dan menjaga kualitas produk.

Selain itu, pada tahun ini Indocement juga berhasil mendapatkan penghargaan PROPER Emas untuk Kompleks Pabrik Citeureup dan PROPER Hijau untuk Kompleks Pabrik Cirebon dan Kompleks Pabrik Tarjun, hal ini menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan dan menjaga lingkungan hidup sudah berada di jalur yang benar.

Transformasi tersebut berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan. Indocement terus memperluas pemanfaatan dan penggunaan refuse-derived fuel (RDF) sebagai salah satu sumber bahan bakar alternatif, memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya di berbagai fasilitas operasional, menggunakan kendaraan listrik untuk operasional pabrik, serta menjalankan beragam inisiatif pengurangan emisi. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi yang berasal dari bahan bakar fosil serta menjadi bagian dari komitmen Indocement terhadap dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan keberlanjutan jangka panjang.

Selain itu, Indocement juga terus melakukan digitalisasi dan adopsi penggunaan artificial intelligence di berbagai lini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam proses produksi dan distribusi produk.

Kondisi pasar semen Indonesia yang masih diwarnai kelebihan kapasitas dan persaingan yang ketat, Indocement terus memperkuat ketangguhan bisnis melalui efisiensi, inovasi, serta penguatan layanan kepada pelanggan. Oleh karena itu, pada semester pertama 2026, Indocement mencatat pertumbuhan volume penjualan semen domestik sebesar +4,9% dari pertumbuhan pasar semen kantong +3,5% dan pasar semen curah +8,6% sehingga pangsa pasar semen Indocement mencapai 28,1%. Kenaikan penjualan tersebut berefek baik kepada kinerja keuangan, Indocement berhasil mencacatkan kenaikan Pendapatan Neto +5,2% dan Marjin EBITDA di angka +18,0% sehingga mencatat Laba Periode Berjalan Rp589,6 miliar atau naik 19,2%.

Memasuki paruh kedua 2026, Indocement tetap optimistis sekaligus waspada terhadap dinamika perekonomian nasional yang masih penuh tantangan internal dan eksternal. Perusahaan akan memprioritaskan efisiensi pada setiap fungsi tanpa mengorbankan kualitas produk, keselamatan kerja, maupun nilai yang diterima pelanggan.

Selain bertumbuh melalui bisnis, Indocement terus memperluas manfaat bagi masyarakat. Beberapa program tersebut adalah program “Bangun Rumah Tukangku”, yang dijalankan bersama para mitra bisnis untuk membantu renovasi rumah tukang bangunan. Program tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada para tukang yang selama ini berkontribusi membangun rumah dan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain itu, terdapat pula program Indocement Peduli yang membantu tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera yaitu berupa pemulihan akses air bersih dan pembangunan ekonomi kreatif di Desa Sekumur, Aceh Tamiang serta pembangunan fasilitas sosial dan sanitasi serta pembangunan jembatan perintis (yang berkolaborasi dengan stakeholder lainnya) di Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah.

Pada peringatan HUT ke-51 ini, Indocement turut memberikan apresiasi kepada para inovator Indocement yang berhasil menang dalam kompetisi Indocement Innovation Awards 2026, serta apresiasi kepada para karyawan yang menjadi jawara di Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), serta Employee of The Year 2026 untuk karyawan yang berhasil memberikan kontribusi bermakna bagi keberhasilan perusahaan. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi karyawan untuk menunjukkan kreativitas, sportivitas, semangat inovasi, dan kebersamaan.

Indocement juga kembali menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam seluruh kegiatan operasional. Perusahaan terus mendorong budaya keselamatan dengan memperkuat kepedulian, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap prosedur agar setiap karyawan, kontraktor, dan mitra kerja dapat bekerja dengan aman serta kembali kepada keluarga dalam keadaan sehat.

“Momentum HUT ke-51 menjadi pengingat bahwa perjalanan Indocement masih panjang. Dengan sinergi yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, komitmen terhadap keberlanjutan serta kepedulian sosial yang konsisten, kami optimis Indocement akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih gemilang, sekaligus berkontribusi dalam mengakselerasi pembangunan Indonesia,” tutup Christian Kartawijaya.

Untuk di ketahui.

Indocement adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia yang memproduksi Semen Tiga Roda, Semen Rajawali, Mortar Tiga Roda, dan Semen Grobogan. Saat ini Indocement dan entitas anaknya bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan semen (sebagai usaha inti) dan beton siap-pakai, serta tambang agregat dan trass, dengan jumlah karyawan sekitar 4.100 orang. Indocement mengoperasikan 14 pabrik milik sendiri serta dua pabrik dan satu grinding mill dengan sistem sewa dengan total kapasitas produksi tahunan sebesar 33,5 juta ton semen. Sepuluh pabrik berlokasi di Kompleks Pabrik Citeureup, Bogor, Jawa Barat; dua pabrik di Kompleks Pabrik Cirebon, Cirebon, Jawa Barat; dan satu pabrik di Kompleks Pabrik Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan; satu pabrik di Grobogan, Jawa Tengah; dua pabrik di Maros, Sulawesi Selatan, dan satu grinding mill di Banyuwangi, Jawa Timur.

Pada 2022, Indocement telah mengoperasikan Pabrik Maros setelah menandatangani Perjanjian Sewa Pakai Aset dengan PT Semen Bosowa Maros dan PT Bosowa Corporindo. Heidelberg Memasuki HUT ke 51 Materials AG telah menjadi pemegang saham mayoritas Indocement sejak 2001…. (Ron)

Continue Reading
Advertisement

Trending