Kesehatan
IIF dan APACI Meminta Pemerintah Mengintegrasikan Vaksinasi Influenza kedalam Sistem Kesehatan Masyarakat Berkelanjutan
Jakarta, Hariansentana.com – Indonesian Influenza Foundation (IIF) berkolaborasi dengan Asia Pacific Alliance for the Control of Influenza (APACI) menyerukan dan mengajak masyarakat untuk mengadvokasi pencegahan Influenza, serta meminta kepada Pemerintah untuk mengintegrasikan vaksinasi influenza ke dalam sistem kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Influenza (flu) merupakan penyebab penyakit Infeksi saluran pernapasan yang sering pada anak, terutama balita. Influenza juga penyebab utama kunjungan anak ke gawat darurat dan perawatan di rumah sakit. Influenza merupakan penyakit yang serius yang mengakibatkan ribuan perawatan rumah sakit, terutama pada balita. Rata-rata diperkirakan 20.000 balita dirawat karena komplikasi penyakit influenza, dan sebagian di antaranya meninggal.
“Dengan meningkatnya kasus flu di berbagai negara dan bukti kuat manfaat vaksinasi. enaga kesehatan berperan penting dalam mengedukasi masyarakat dan memastikan kelompok berisiko mendapatkan perlindungan yang optimal”.
Demikian hal tersebut disampaikan oleh Prof Cissy B Kartasadmita, M,Sc.Ph.D. SpA Respirologi (K) usai menghadiri simposium “Flu Forward: Advancing Protection, Policy, and Practice in a Post-Pandemic Worid” di DoubleTree Hilton Jakarta Sabtu (1/11/2025).
Simposium ini mengajak para pemangku kepentingan untuk menguatkan pencegahan, terutama melalui vaksinasi influenza
rutin pada kelompok berisiko, seperti, tenaga kesehatan, lansia, penyandang komorbid seperti
diabetes & penyakit jantung, ibu hamil, serta pelaku perjalanan (termasuk Haji/Umrah).
Menurutnya influenza pada anak bervariasi luas. Infeksi influenza pada anak sulit dibedakan secara klinis, dengan penyakit akibat infeksi virus lain-nya, seperti selesma, Comd-19 dan RSV, dimana kepastian penyebabnya hanya bisa didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium.
Vaksinasi tahunan yang teratur merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah influenza musiman, disamping melakukan pencegahan non-vaksinasi.
Vaksinasi dianjurkan untuk semua usia mulai dari bayi berusia 6 bulan, hingga lansia, menggunakan vaksin yang sama. Vaksmasi infuenza sangat penting untuk melindungi diri sendiri dan orang disekitar kita.
Pencegahan Influenza selain vaksinasi adalah dengan sering mencuci tangan dengan benar menghindari orang yang bergejala flu, tutup mulut dan hidung dengan tissue saat batuk dan bersin, jangan dengan telapak tangan, serta beristirahat di rumah bila sakit.,” terangnya.
Gejala Influenza.
Gejala flu dimulai dengan tiba-tiba demam, kemudian disusul dengan nyeri tenggorokan, pilek, batuk kering, sakit kepala, sakit otot dan badan, badan lemas, rasa lelah. serta pada sebagian penderita terdapat mual-mual, muntah, dengan atau tanpa diare.
Perlu diperhatikan bahwa pada penderita influenza selalu terdapat demam.
“Anak-anak pada umumnya menderita gejala influenza selama 1 minggu. tetapi mereka tetap merasakan rasa lelah dan lemas hingga 3 — 4 minggu. Meskipun penyakit umumnya ringan dan sembuh segera,” terangnya.
Pada beberapa keadaan bila terdapat faktor risiko, bisa timbul komplikasi, seperti pada lansia. penderita penyakit kronik (asma, diabetes, penyakit Jantung), Ibu hamil dan balita, Komplikasi yang terjadi dapat radang paru (pnsumonia) yang bisa sangat berat dan mengancam nyawa, hingga meninggal.
Kompikasi lain dari influenza berupa radang telinga tengah (otitis media) dan sinusitis. Penderita inffuenza bisa dirawat dirumah, tetapi jika terdapat tanda bahaya, harus dibawa ke rumah sakit, seperti bila terdapat napas cepat, sulit bernapas, bibir dan muka membiru, nyeri dada, tidak ada rasa tertarik setiap kali bernafas, sakit otot hebat sehingga tidak bisa berjalan, dehidrasi, penurunan kesadaran, kejang, demam yang tidak turun dengan obat demam, anak berusia kurang dari 12 minggu, anak yang telah membaik demam dan batuk nya namun tiba-tiba kembali dan memburuk.
Perbedaan Influenza dengan Selesma
Influenza dan selesma merupakan penyakit saluran napas yang menular namun disebabkan oleh virus yang berbeda. Influenza hanya disebabkan oleh virus influenza, sedangkan selesma dapat disebabkan oleh berbagai virus, seperti rhinovirus, parainfluenza. dan virus corona musiman. Karena gejala infiuezna dan selesma mirip. sulit dibedakan hanya dari gejalanya. Secera umum influenza lebih parah dari selesma. gejalanya lebih berat dan mendadak. Selesma umumnya lebih ringan dari influenza. Penderita selesma biasanya mengalami hidung meler atau tersumbat dibandingkan penderita Influenza, dan biasanya tidak serius, tidak mengakibatkan pneumonia infeksi sekunder bakterial. atau perawatan di rumah sakit.
Virus Influenza
Virus influenza ada 4 macam influenza A, B, C dan D. Namun yang mengakibatkan penyakit pada manusia adalah virus Influenza A, B, dan C. Influenza A dan B merupakan 2 tipe virus utama yang secara berkala menyebar pada manusia dan mengakibatkan epidemi flu musiman, sedangkan influenza C menyebabkan infeksi saluran napas ringan dan tidak menyebabkan epidemi.
Virus influenza A dan B mempunyai banyak sub-tipe. Virus influenza sering bermutasi, virus yang beredar setiap tahun berbeda-beda, sehingga jenis virus untuk vaksin setiap tahun berubah, yang menjadi penyebab mengapa vaksinasi influenza harus diberikan secara rutin setiap tahunnya.
Di negara 4 musim, musim penyakit influenza biasanya terjadi di musim dingin, sedangkan di negara tropis influenza terjadi sepanjang tahun, Dimana pada musim hujan kejadiannya lebih tinggi.
Pengobatan Influenza
Tidak ada pengobatan khusus untuk influenza. Bila sudah pasti penyebabnya virus influenza dapat diberikan obat antivirus Oseltamivir (Tamiflu). Tarniflu obat yang aman dan dapat diberikan pada anak berusia di atas 1 tahun.
Oseltamivir harus diberikan sebelum 48 jam penyakitnya berlangsung. Umumnya, apalagi bila tidak berat, dapat diberikan obat untuk mengurangi gejala saja, seperti asetaminofen atau ibuprofen untuk mengurangi demam dan nyeri badan, obat untuk mengurangi penyumbatan hidung (dekongestan) seperti pseudoefedrine, obat batuk untuk menekan batuk kering, atau ekspektoran untuk batuk yang berdahak. Tidak diperlukan antibiotika kecuali ditemukan infeksi sekunder bakterial.
Pencegahan Influenza
Cara terbaik untuk mencegah influenza adalah dengan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahunnya. Setiap tahun, vaksin flu baru tersedia sebelum musin flu dimulai.
Saat ini telah tersedia vaksinasi melalui Injeksi dan semprotan hidung (nasal spray). Di Indonesia, teknologi nasal spray ini belum ada. Injeksi vaksin flu diberikan secara intramuskular. Untuk bayi dan anak berusia muda disuntikan di paha, sedangkan pada anak yang sudah bisa berjalan diberikan di lengan atas.
Pada anak usia 6 bulan sampai 8 tahun pemberian primer memerlukan 2 kali penyuntikan dengan selang 1 bulan, agar terbangun proteksi yang baik. Setelah itu vaksinasi infiwenza cukup diberikan satu kali setiap tahun. Pada anak berusia 9 tahun keatas vaksinasi influenza diberikan setiap tahun secara teratur berselang 12 bulan.
Vaksinasi sangat krusial pada anak yang memiliki komorbid, misalnya anak dengan kondisi gangguan jantung dan paru kronis, anak dengan diabetes, penyakit ginjal dan hati, sistem imun lemah misal penderita HIV/AIDS, atau penggunaan steroid atau obat yang menekan sistem imun jangka panjang, dan penyakit darah seperti penyakit sickle cell.
Vaksinasi flu juga perlu diberikan pada anak yang mempunyai keluarga dengan kondisi kesehatan kronis, anak yang minum aspirin jangka panjang, dan anak dari orang tua atau pengasuh yang ber-risiko tinggi untuk mendapat komplikasi dari influenza. Untuk mencegah penularan infiuenza dapat dilakukan dengan menutup hidung dan mulut bila batuk atau bersin, melatih anak menggunakan tisu atau menutup dengan siku lengan bila batuk atau bersin, cuci tangan sebelum dan sesudah mengurus anak, membersihkan permukaan di rumah.
Keamanan Vaksin
Vaksin influenza aman, tidak menyebabkan flu, maupun reaksi simpang berat lainnya. Reaksi simpang yang mungkin muncul adalah nyeri di tempat penyuntikan, sakit kepala ringan, atau demam ringan, yang biasanya menghilang dalam waktu satu sampai dua hari saja. bahkan segera menghilang.(***)
Kesehatan
SWICC Bogor Raya Hadir dengan Layanan Kanker Terpadu Pertama di Wilayah Penyangga Jakarta
Sentul, Hariansentana.com – Kehadiran Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, menjadi pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok.
Fasilitas ini menjadi semakin penting dan mudah di akses, mengingat kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Diharapkan SWICC bisa menjadi pusat harapan baru bagi pasien kanker, sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata Sentra Medika dalam pembangunan sektor kesehatan nasional.
Demikian hal tersebut diungkapkan Presiden Director Sentra Medika Hospital Group Dr. drg. Eddy Suharso, S.H, M Kes, dalam acara perayaan 1 Tahun Perjalanan Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) melalui Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Aston Hotel Sentul Bogor Minggu (2/8/2026).

Forum ilmiah onkologi nasional yang menyoroti penguatan akses layanan kanker terpadu ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebagai keynote speaker yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia.
Menurut Menkes, deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat kanker yang masih tinggi.
“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat, termasuk memperluas akses skrining agar kanker dapat terdeteksi lebih awal,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya,

Kehadiran pusat kanker terpadu SWICC di wilayah penyangga Jakarta menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan onkologi yang komprehensif.
“Kami mengusung konsep One Stop Cancer Care, sehingga pasien dapat memperoleh layanan mulai dari edukasi, deteksi dini, diagnosis, hingga terapi dalam satu sistem terintegrasi,” Eddy Suharso.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GCO) 2024, jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai lebih dari 1,13 juta kasus, dengan 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian.
Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker.
Dalam forum ilmiah tersebut, sejumlah pakar onkologi nasional turut menjadi pembicara utama, di antaranya Dr. dr. M. Yadi Permana, Sp.B(K)Onk, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, FINASIM, dan Dr. dr. Angela Giselvania, Sp.Onk.Rad(K). Mereka membahas perkembangan terbaru penanganan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, paru, serviks, kolorektal, hingga leukemia.
Selain itu, pembicara dari berbagai daerah juga turut berpartisipasi, seperti dr. Venita Eng dari Bali, Prof. dr. Linda W. A. Rotty, Sp.PD-KHOM dari Sentra Medika Hospital Minahasa Utara, serta dr. Trinugroho Heri Fadjari, Sp.PD-KHOM dari Bandung.
Secara keseluruhan, lebih dari 30 dokter onkologi berpengalaman terlibat dalam simposium ilmiah ini.

Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani MARS, CRMP, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring antar tenaga medis.
“Kami ingin memastikan penanganan kanker di Indonesia semakin terstandarisasi dan berbasis perkembangan ilmu terbaru,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu tahun, SWICC juga menjalankan program 500 skrining kanker gratis bagi masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat sebagai upaya memperluas akses deteksi dini.
Kampanye edukasi bertajuk “Stronger in Awareness, Together in Detection” turut digencarkan melalui webinar nasional dan seminar kesehatan.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan serta deteksi dini kanker.
SWICC yang berada di bawah naungan Sentra Medika Hospital Group merupakan pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok. Layanan yang tersedia mencakup pemeriksaan diagnostik seperti CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik, serta terapi seperti bedah onkologi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi target.
Pendekatan multidisiplin diterapkan dalam setiap penanganan pasien, sehingga rencana terapi dapat disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, dan kondisi klinis masing-masing individu.
Ke depan, SWICC menargetkan penguatan jejaring layanan kanker serta peningkatan kesadaran masyarakat agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas.
Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kasus kanker stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup pasien di wilayah Bogor dan sekitarnya. (***)
Kesehatan
RS Mandaya Puri Hadirkan Robot Da Vinci Xi, Permudah Operasi Saluran Cerna, Hati, Empedu, & Pankreas
Jakarta, Hariansentana.com – Perkembangan teknologi bedah tidak hanya membawa manfaat bagi pasien, tetapi juga memberikan dukungan yang lebih optimal bagi dokter saat menjalankan operasi. Melalui berbagai inovasi robotik, dokter kini dapat melakukan tindakan bedah kompleks dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, visualisasi yang lebih jelas, serta kendali instrumen yang semakin stabil. Salah satu teknologi tersebut adalah Da Vinci Xi, robot bedah generasi terbaru yang kini resmi hadir di RS Mandaya Royal Puri.
Hadirnya Da Vinci Xi memberikan pengalaman baru bagi tim dokter bedah RS Mandaya Royal Puri dalam menangani berbagai operasi kompleks. Dengan empat lengan robotik yang dikendalikan melalui konsol berteknologi tinggi, dokter memperoleh fleksibilitas lebih besar saat melakukan tindakan pada area tubuh yang sempit dan sulit dijangkau.
Robot bedah ini diperkenalkan secara resmi dalam seminar publik bertajuk “Mengenal Operasi Robotik pada Saluran Cerna, Hati, Empedu, & Pankreas” yang diselenggarakan di RS Mandaya Royal Puri pada Minggu (19/7).

Seminar tersebut menghadirkan Prof. Dr. Iswanto Sucandy, MD, FACS, ahli bedah digestif dan hepatopankreatobilier dari AdventHealth Tampa, Amerika Serikat, yang memiliki pengalaman luas dalam operasi robotik dan akan mendampingi tim dokter Mandaya sebagai mentor dalam pengembangan layanan Da Vinci Xi.
Acara ini juga dihadiri oleh tim dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif RS Mandaya Royal Puri, yaitu Prof. Dr. dr. Toar Jean Maurice Lalisang, Sp.B., Subsp.BD(K), dr. Emerson Budiarman Masli, Sp.B., Subsp.BD(K), dan dr. Ocsyavina, Sp.B., Subsp.BD(K), bersama Co-Founder dan President Director Mandaya Hospital Group, dr. Benedictus R. Widaja, MBChB (UK).
Dalam pembukaan seminar, dr. Ben mengatakan, “Kami bangga telah berhasil membawa robot Da Vinci generasi terbaru ke Indonesia, yaitu Da Vinci Xi. Ini merupakan robot ke-5 yang kami miliki, dan mungkin menjadikan RS Mandaya Royal Puri sebagai rumah sakit dengan teknologi robotik terbanyak di Indonesia saat ini. Bahkan dengan 1 robot Da Vinci Xi saja, kami bisa melakukan berbagai macam operasi, seperti reseksi tumor hati, transplantasi ginjal, pengangkatan prostat, pengangkatan kanker rahim, reseksi usus besar, dan di masa depan bahkan melakukan bypass jantung.”
Da Vinci Xi merupakan sistem bedah robotik yang dikendalikan sepenuhnya oleh dokter melalui konsol dengan tampilan tiga dimensi (3D) beresolusi tinggi. Robot ini tidak menggantikan peran dokter dalam mengambil keputusan maupun melakukan operasi, melainkan menjadi alat yang membantu meningkatkan akurasi setiap gerakan selama prosedur berlangsung.
Salah satu keunggulan utama Da Vinci Xi adalah teknologi tremor filtration, yang menyaring getaran halus pada tangan operator. Dengan demikian, instrumen bedah hanya mengikuti gerakan yang benar-benar diinginkan dokter sehingga tindakan menjadi lebih stabil, terutama ketika bekerja di area tubuh yang sempit dan kompleks. Selain itu, empat lengan robotik yang dimiliki Da Vinci Xi memberikan keleluasaan lebih bagi dokter. Dalam operasi seperti reseksi hati atau transplantasi ginjal, dokter dapat melakukan beberapa manuver sekaligus, seperti menjepit jaringan, menahan organ, memotong, dan menjahit secara bersamaan melalui satu konsol. Hal ini membantu meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi tingkat presisi dan keamanan pasien selama operasi.
Visualisasi 3D-nya juga membantu dokter melihat struktur anatomi secara lebih detail, sehingga proses pembedahan dapat dilakukan dengan lebih teliti.
Di RS Mandaya Royal Puri, Da Vinci Xi dimanfaatkan untuk berbagai tindakan bedah kompleks, termasuk operasi hati, transplantasi ginjal, pengangkatan prostat, operasi ginjal, pengangkatan rahim dan miom, serta operasi usus besar. Tim dokter RS Mandaya Royal Puri juga telah berhasil melakukan transplantasi ginjal menggunakan Da Vinci Xi.
Ke depan, teknologi ini akan dimanfaatkan untuk prosedur Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) atau operasi bypass jantung dengan sayatan minimal.
Melengkapi Ekosistem Teknologi Robotik Mandaya Da Vinci Xi menjadi robot ke-5 yang dimiliki RS Mandaya Royal Puri dan semakin memperkuat posisi rumah sakit ini sebagai Indonesia’s Center for Advanced Robotics & Precision Technology.
Di bidang urologi tersedia Zamenix, robot fleksibel untuk menangani batu ginjal berukuran besar secara minimal invasif, serta MonaLisa, sistem robotik yang membantu meningkatkan akurasi biopsi prostat.
Untuk layanan ortopedi, RS Mandaya Royal Puri memiliki CORI Robotic System yang membantu dokter melakukan operasi penggantian sendi lutut dengan penempatan implan yang lebih presisi sesuai anatomi pasien.
Sementara itu, pada bidang bedah saraf tersedia 3D Brain Neuronavigation yang dipadukan dengan robotic microscope alignment. Teknologi ini membantu dokter menemukan lokasi tumor otak secara real-time dengan akurasi tinggi sekaligus menjaga jaringan otak sehat selama tindakan berlangsung.
Dengan semakin lengkapnya teknologi robotik yang dimiliki, RS Mandaya Royal Puri terus mendukung para dokter melalui berbagai inovasi bedah modern. Kehadiran sistem robotik tersebut memungkinkan tindakan operasi dilakukan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, sekaligus memberikan manfaat bagi pasien melalui prosedur minimal invasif dan pemulihan yang lebih cepat.
Kesehatan
Massa Desak BPOM Transparan Ungkap Dugaan Mafia Skincare, Pertanyakan Hilangnya Rilis Resmi
Jakarta – Sejumlah massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (29/6/2026). Mereka mendesak BPOM bersikap transparan dalam penanganan dugaan mafia skincare, sekaligus meminta penjelasan terkait hilangnya rilis resmi BPOM tertanggal 11 Oktober 2024 dari situs resmi lembaga tersebut.
Juru bicara massa yang juga pakar hukum, Mirwansyah, mengatakan aksi tersebut merupakan tindak lanjut atas dua surat yang telah dikirimkan kepada BPOM pada 23 Juni 2026 dan 29 Juni 2026. Menurutnya, hingga aksi berlangsung, belum ada penjelasan yang dinilai memadai mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut.
“Kedatangan kami hari ini untuk meminta kejelasan terkait rilis BPOM tanggal 11 Oktober 2024 mengenai dugaan mafia skincare. Sebelumnya kami sudah dua kali melayangkan surat, namun belum memperoleh jawaban yang jelas,” kata Mirwansyah.
Ia mengungkapkan, selama audiensi pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah unit di BPOM, mulai dari bidang pengawasan obat, humas hingga advokasi. Namun, tidak ada satu pun pihak yang dapat menjelaskan siapa yang berwenang menerbitkan maupun menghapus rilis tersebut dari situs resmi BPOM.
Menurut Mirwansyah, perwakilan BPOM menyatakan identitas pihak yang diduga terlibat belum dapat dipublikasikan karena masih mengedepankan asas praduga tidak bersalah dan belum adanya putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap.
“Kami berharap ada jawaban yang tegas sehingga tidak menimbulkan berbagai asumsi di tengah masyarakat. Namun hingga saat ini BPOM masih beralasan menggunakan asas praduga tidak bersalah,” ujarnya.
Mirwansyah menilai masyarakat berhak mengetahui identitas perusahaan maupun produk yang diduga melakukan pelanggaran, sebagaimana pernah disebutkan dalam rilis BPOM pada Oktober 2024. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam perlindungan konsumen.
“Kalau memang ada pabrik yang ditutup dan produk yang dihentikan peredarannya, sampaikan kepada publik agar masyarakat tahu produk mana yang harus dihindari. Fungsi BPOM bukan hanya melakukan pengawasan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, hingga kini publik masih mempertanyakan siapa pihak yang dimaksud sebagai “mafia skincare” sebagaimana tercantum dalam rilis BPOM yang pernah dipublikasikan.
Sementara itu, berdasarkan penjelasan yang diterima peserta audiensi, BPOM menyatakan belum dapat membuka identitas perusahaan maupun produk yang dimaksud karena proses hukum masih berjalan dan belum terdapat dasar hukum yang memungkinkan pengungkapan identitas pihak terkait.
Hingga aksi berakhir, massa mengaku belum memperoleh jawaban mengenai keberadaan rilis BPOM yang hilang dari situs resmi maupun identitas pihak yang diduga terlibat dalam kasus dugaan mafia skincare tersebut. Mereka berharap BPOM segera memberikan penjelasan resmi demi menjaga kepercayaan publik sekaligus memberikan kepastian informasi kepada masyarakat.
-
Ekonomi6 days agoHotel Jannah Firdaus Makkah, Travel Umroh Pertama di Indonesia dan Dunia yang Memiliki Hotel Sendiri Di Kota Mekkah
-
Polhukam6 days agoPRB, M. Johan Pakpahan, Meminta Kejagung Segera Memeriksa Dugaan Aliran Dana dari Tambang Ilegal Kepada oknum Pejabat di Wilayah Bogor Barat,
-
Ibukota6 days agoSinergitas Lurah Pademangan Barat dan Tokoh Masyarakat Perkuat Penataan Kawasan Sesuai Ingub Nomor 5 Tahun 2026
-
Ibukota4 days agoPedagang Gugat Pengelola Pancoran Chinatown Point Rp1,83 Miliar, Kuasa Hukum: Satu Kios Disewakan ke Dua Pihak

