Ekonomi
Keragaman dan Keamanan Pangan Optimal Jadi Modal Ketahanan Nasional
Jakarta, Hariansenrana.com —Agenda pangan nasional tahun ini bergerak pada dua arah yang saling mengisi, yakni mendorong masyarakat menerapkan pola pangan yang beragam dan bergizi seimbang, sekaligus memastikan pangan tersebut benar-benar aman untuk dikonsumsi. Keduanya kemudian diterjemahkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui berbagai program dan kegiatan sepanjang 2026.
“Arahnya sejalan dengan misi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian dari pertahanan negara, sekaligus implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang diarahkan untuk mencapai swasembada nasional melalui transformasi sistem pangan,” kata Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, dikutip, Sabtu (12/9/2026).

Pada aspek konsumsi, capaian nasional menunjukkan perubahan yang cukup berarti. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang menggambarkan kualitas dan keragaman konsumsi pangan masyarakat, selalu mencapai target dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kenaikan skor PPH pun terlihat, dari 93,5 pada 2024 menjadi 95,1 pada 2025. Skor ini melampaui target Renstra Bapanas 2025 sebesar 94,0, memberi gambaran bahwa pola konsumsi masyarakat bergerak ke arah yang lebih beragam.
“Target PPH nasional tahun ini kita tetapkan lebih tinggi di 94,5. Artinya capaian tahun 2025 belum bisa dijadikan garis akhir, melainkan menjadi baseline untuk mendorong hasil yang lebih baik lagi,” tegas Andriko.

Angka-angka tersebut tidak berdiri sendiri. Upaya memperbaiki pola konsumsi diterjemahkan melalui sejumlah program yang menyentuh langsung dalam keseharian masyarakat. B2SA Goes to School misalnya, pada tahun 2026 menyasar generasi muda melalui sosialisasi dan edukasi ke berbagai satuan pendidikan di 83 kabupaten/kota dan 15 provinsi.
Ada pula Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal (PUPPL) yang menghubungkan bahan pangan lokal ke sektor industri dan UMKM. Serta Rumah Pangan B2SA yang mendorong pola konsumsi dengan pemanfaatan sumber pangan lokal yang banyak tersedia di sekitar.
“Kalau bicara penganekaragaman konsumsi, ukurannya harus terlihat pada pilihan pangan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Karena itu, program di lapangan harus membantu masyarakat mengenal dan memanfaatkan lebih banyak pangan lokal yang mudah diakses sehari-hari. Ini sudah dilakukan Rumah Pangan B2SA 2026 yang menjangkau 72 lokasi di 68 kecamatan, 47 kabupaten/kota, dan 33 provinsi,” ungkap Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Hamid Sangadji, pada kesempatan yang sama.

Dari program Rumah Pangan B2SA 2026, disebutkan lahir sejumlah inovasi olahan pangan lokal padat gizi, mulai dari nugget ikan gabus, stik daun kelor, sirup rumput laut, es krim talas, hingga mie bayam. Semuanya berasal dari ide para TP PKK untuk mengoptimalkan sumber pangan yang melimpah di daerahnya.
Selain soal keragaman konsumsi pangan sarat gizi, ada ukuran lain yang tak kalah pentingnya, yakni keamanan pangan segar. “Masyarakat mungkin tidak banyak melihat proses perumusan standar, regulasi, hingga pengawasan pangan, tetapi sistem ini sebenarnya menentukan apakah produk pangan yang mereka beli sudah aman untuk disajikan di meja makan,” kata Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Yusra Egayanti.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan pangan, khususnya pangan segar asal tumbuhan, Bapanas turut berkolaborasi dengan berbagai instansi serta kementerian/lembaga terkait, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kolaborasi ini juga mencakup rencana dukungan pada program unggulan presiden, melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk memastikan bahan pangan yang digunakan memenuhi standar keamanan pangan.
Adapun hingga 4 September 2026, tercatat 2.234 permohonan Izin Edar Pangan Segar Asal Tumbuhan Produksi Luar Negeri (PSAT-PL), dengan 1.276 izin telah diterbitkan sepanjang 2026. Sementara itu, Sertifikat Penerapan Penanganan yang Baik Pangan Segar Asal Tumbuhan (SPPB-PSAT) mencapai 202 permohonan, dengan 47 sertifikat telah diterbitkan. Proses sertifikasi dan registrasi tersebut berjalan beriringan dengan investigasi serta penindakan terhadap pangan segar yang tidak memenuhi ketentuan.
“Kita ingin masyarakat mendapatkan pilihan pangan yang semakin beragam, tapi juga dijamin standar mutu keamanannya. Jadi kualitas konsumsi dan keamanan pangan ini perlu dibaca sebagai satu rangkaian. Angka-angka tadi bercerita tentang hasil yang lebih terukur dari upaya menciptakan ketahanan pangan nasional; memperbaiki apa yang ada di piring, dan memastikan keamanan yang masuk ke piring,” pungkas Andriko.(***)
Ekonomi
34 Tahun Bangun Industri Pangan, Direktur PT SPS: Visi Kami Memaksimalkan Potensi Petani Lokal
Jakarta, Hariansentana.com – Direktur PT Sumber Pangan Sukses (SPS), Siti Saidah yang akrab disapa Ida, membagikan perjalanan panjangnya membangun industri pangan terpadu. Berawal dari peternakan ayam hingga kini merambah beras dan kelapa sawit, Ida mengaku visi utamanya tetap sama: memaksimalkan potensi dan memberdayakan petani lokal.
Ida menyebut, dirinya telah menghabiskan 34 tahun di industri peternakan ayam, kemudian 17 tahun di industri olahan tepung kelapa yang 99 persen untuk ekspor. Dalam 8 tahun terakhir, ia fokus di komoditi beras dan 6 tahun terakhir mengembangkan industri kelapa sawit.
“Kita konsentrasi di industri olahan pangan terpadu. Pengalaman saya 34 tahun di peternakan ayam, kemudian 17 tahun di industri olahan tepung kelapa, dan 8 tahun terakhir kita di beras,” ujar Ida Saidah, Direktur PT Sumber Pangan Sukses.
Untuk komoditi beras, Ida menjelaskan SPS tidak hanya mengandalkan impor. Pada 2022-2024 perusahaan sempat 99 persen impor karena kebijakan pemerintah, namun SPS juga tetap membina petani dan penggilingan padi kecil (rice mill) di Karawang, Cikarang, Bekasi hingga Indramayu.
Ia mengungkapkan, SPS membantu rice mill berkapasitas kecil 5 ton, 10 ton hingga 20 ton per hari yang umumnya kekurangan modal. Bantuan itu berupa pengiriman gabah, modal kerja di depan, hingga pendampingan staf untuk meningkatkan kualitas.
“Kita datangkan gabah, lalu kita modal kerja di depan dan semua produksi kita bantu, kita ajari ada staf-staf kita ngajari mereka,” kata Ida.

Tidak hanya beras, untuk kelapa sawit SPS juga bermitra dengan banyak daerah. CPO didatangkan dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bangka, Dumai, Medan, Aceh hingga Lampung. Sementara gabah berasal dari Madura, Bojonegoro, Kudus, Karawang, Cikarang dan Indramayu.
Ida menegaskan, pembinaan petani dilakukan secara intensif melalui pelatihan. Ia mencontohkan, SPS mengumpulkan kelompok petani dan penggilingan padi untuk pelatihan di hotel di Karawang agar kapasitas dan kualitas mereka naik kelas.
“Visi kita bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi para petani lokal, yang kedua bagaimana bisa memberdayakan para petani,” tegasnya…..Ron
Ekonomi
Kesan dan Pesan John N Palinggi Kepada Menkeu Suahasil Pengganti Purbaya
Jakarta, hariansentana.com – PENGAMAT Ekonomi Dr, John N Palinggi, M.M, M.BA mengatakan, perggantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara adalah hak prerogatif Presiden sesuai dengan UUD ‘45 Pasal 17 dan UU No.13 Tahun 2008.
“Jadi tidak perlu ada spekulasi yang bikin resah masyarakat, tentang alasan Presiden Prabowo melakukan pergantian Menteri, karena Menteri adalah pembantu Presiden yang sudah barangtentu harus loyal kepada Presiden bukan kepada yang lain,” ujar Pengusaha, Ketum DPP Assosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN) ini di Jakarta, kemarin.
Mengenai Mekeu baru Suahasil, John menilai Suahasil adalah sosok yang tepat menggantikan Purbaya melihat rekam jejak pengalamannya di Kemenkeu.
“Beliau adalah Wakil Menteri Keuangan selama 7 tahun. 5 Tahun di Kabinet Indonesia Maju dan 2 Tahun di Kabinet Merah Putih sejak November 2024 hingga September 2026,” terang Ketua Assosiasi Mediator Indonesia (ARDIN) ini.
Menurut John, Suahasil adalah sosok yang kalem yang tidak mencari popularitas. “Orangnya masih muda, rendah hati, tidak pernah terpublikasi dan tidak gampang buat statement. padahal dia (Suahasil) Guru Besar UI peraih Bintang Jasa Utama,“ ungkapnya.
Kedepan, John Palinggi berharap Menkeu Suahasil lebih ketat dalam menggelontorkan uang kepada Kementerian dan Lembaga Negara serta menggendalikan hutang negara, khususnya hutang swasta yang ditanggungjawabi negara.
“Banyak Kementerian dan Lembaga/Instansi minta-minta tambah anggaran tanpa jelas tujuan dan peruntukannya, apakah berdampak pada kesejahteraan rakyat. Jangan biarkan swasta ngutang luar negeri yang pada akhirnya menjadi beban negara,” jelasnya.
Selain itu, John Palinggi berharap Menkeu Suhasil loyal kepada Presiden bukan orang lain di balik layar, tidak takut ancaman dari orang yang mengandalkan partai politik sebagai tameng.
“Bersyukur Suhasil adalah sosok Profesional murni, praktisi, independen yang tidak tetkait dengan partai politik manapun,” tutup John.
Ekonomi
Perkuat PPNS di Bidang Pangan, Bapanas Dorong Pengawasan Didukung Sistem Digital
Jakarta, Hariansentana.com — Penguatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang pangan terus dilakukan Badan Pangan Nasional (Bapanas), termasuk melalui penguatan koordinasi dan pemanfaatan sistem digital dalam administrasi penyidikan. Saat ini Bapanas membina sekitar 30 PPNS yang tersebar di pusat dan daerah untuk mendukung pengawasan pangan di seluruh Indonesia.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan digitalisasi administrasi penyidikan akan membantu PPNS menjalankan tugas secara lebih tertib dan sesuai prosedur. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Korwas PPNS Tahun Anggaran 2026 di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
“Bapanas memiliki sekitar 30 PPNS, enam di pusat dan sisanya di daerah. Karena itu, koordinasi dengan Korwas PPNS penting untuk memastikan pelaksanaan pengawasan pangan berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kami juga akan terus memperkuat kapasitas PPNS kita,” ujar Andriko.

Kabareskrim Polri Komjen Pol. Drs. Syahardiantono, M.Si. mengatakan koordinasi antara Penyidik Polri, PPNS, dan Penyidik Tertentu diperlukan untuk mencegah kesenjangan maupun tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas. Menurutnya, masing-masing penyidik perlu menjalankan kewenangannya dengan tetap mengedepankan sinergi dan kolaborasi.
“Koordinasi ini mutlak dilaksanakan guna menghindari kesenjangan dan tumpang-tindih dalam pelaksanaan tugas, demi tercapainya tujuan penegakan hukum yang berkeadilan, berkepastian hukum, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Syahardiantono saat membuka Rakor Korwas PPNS Tahun 2026.
Penguatan tersebut sejalan dengan peluncuran Sistem Laporan (SISLAP) Korwas PPNS dan penguatan penggunaan E-PPNS dalam Rakor Korwas PPNS Tahun 2026. Kedua sistem tersebut ditujukan untuk mendukung pengelolaan laporan dan administrasi penyidikan secara digital.
Disisilain Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Pol. Edy Suranta Sitepu mengatakan SISLAP digunakan untuk mengelola laporan dari jajaran Direktorat Kriminal Khusus dan Satuan Reserse Kriminal di seluruh Indonesia, termasuk dari 508 Polres. Sementara E-PPNS digunakan untuk mendukung administrasi penyidikan PPNS dan telah terhubung dengan SPPTI.
“SISLAP ini adalah sistem pelaporan di Korwas PPNS untuk mengelola laporan dari para Direktur Kriminal Khusus maupun para Kasat Reskrim yang ada di jajaran 508 Polres,” ujar Edy.
Menurut Edy, penerapan E-PPNS akan membuat proses administrasi penyidikan lebih terintegrasi. Penyampaian administrasi penyidikan kepada kejaksaan yang sebelumnya dilakukan secara manual selanjutnya dapat dilakukan melalui sistem secara daring.
Bagi Bapanas, penguatan sistem tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan kapasitas PPNS dalam melaksanakan pengawasan pangan. Ruang lingkup pengawasan PPNS Bapanas meliputi keamanan dan mutu pangan, label, iklan, cadangan pangan, serta aspek ketersediaan pangan sesuai dengan tugas dan kewenangan Bapanas.
Andriko menegaskan, penguatan kapasitas PPNS dan koordinasi dengan Korwas PPNS akan terus dilakukan agar pengawasan pangan di pusat maupun daerah dapat berjalan secara efektif dan sesuai ketentuan.
“Harapannya, dengan adanya Korwas di seluruh Indonesia, pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Bapanas, kami juga akan terus melakukan penguatan kapasitas PPNS untuk melakukan pengawasan pangan di seluruh Indonesia,” ujar Andriko.(***)
-
Polhukam6 days agoPSI Jakarta Utara Minta Jokowi Jadi Ketua Dewan Pembina PSI
-
Ibukota7 days ago1.000 Lebih Berkas PTSL Warga Jakarta Utara Belum Tuntas, Dokumen Hilang Jadi Sorotan
-
Polhukam6 days agoSafari Jum’at di Ngadirojo, Kapolres Wonogiri Ajak Warga Jaga Kerukunan Jelang Pilkades
-
Ibukota6 days agoGebyar PSN dan JUMANTIK RW 02 Pademangan Barat: Perkuat Gerakan Bersama Cegah Penyakit DBD.

