Connect with us

Hiburan

Buku Pengalaman Spiritual Connie Constantia Diluncurkan

Published

on

Artis lawas Connie Constantia saat peluncuran buku ke 2 di Jakarta, Minggu (2/2/2020)

Jakarta, HarianSentana

Artis lawas kelahiran Manado, 23 Januari 1963, Martha Constantia Pinontoan atau yang lebih akrab disapa Connie Constantia, meluncurkan buku “Tuhan Tidak Adil”, merupakan buku kedua karya Connie Constantia setelah Satu Cinta yang ditulis 2010 lalu.

Buku setebal 272 halaman ini merupakan pengembaraan spiritual yang dilalui Connie Constantia, dalam menapaki sebuah pencarian makna dan hakikat keesaan Tuhan. Pengalaman spiritual yang berlangsung dalam pasang surut kehidupan, membuat dirinya semakin serius untuk mendalami dan menuliskannya dalam sebuah buku.

Kesulitan hidup masa kecil membuat ia makin matang dalam menjalani kehidupan, dan makin serius dalam mencari Keesaan Tuhan. Jatuh bangun dalam menjalani kehidupan makin mendapatkan pengalaman spiritual.
Ternyata Pengalaman hidupnya yang getir membuat Connie Constantia terus mencari firman Tuhan dan keadilan Tuhan yang ia cari selama ini.

Pengalaman hidupnya tentang pencarian kasih Tuhan ia tuangkan Dalam catatan kecil, yang kemudian dikisahkan kepada sahabat-sahabatnya, dan kemudian mendapatkan chemistry dalam penuangan kisah hidupnya kepada penulis handal M. Jadul Maula dari Yogyakarta.

Buku soal perjalanan spiritual yang dialami bersama pasang surut, getir dan pahit itu, Connie mengaku tidak begitu percaya diri, tapi Jadul Maula menilai sangat menarik dan inspiratif, sehingga muncul keberanian dirinya membukukan kisah perjalanan dan pencarian akan keesaan Tuhan itu dalam judul yang menggugah, “Tuhan Tidak Adil”.

“Sebenarnya saya nggak pede membukukan perjalananan keimanan saya. Tapi kata mas Jadul, kisahnya menarik dan menginpirasi banyak orang. Akhirnya saya putuskan membuat buku ini, ” ujar Connie Constantia ketika ditemui saat peluncuran buku karyanya di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu (20/2/2020).

Buku yang diterbitkan oleh penerbit LAMC Jakarta bekerja sama dengan PT.LKis Pelangi Aksara ini, ditulis sangat manis dan merangsang akal untuk menyelaminya dengan kerangka berpikir yang luas. Postulasi dan dalil-dalil yang kuat tentang arti sebuah perjalanan spiritual di dalam buku ini juga tertata apik.

Buku ini mengajak kepada pemeluk agama-agama untuk bersungguh-sungguh di dalam meyakini Tuhan yang Maha Esa, tidak semata-mata menggunakan akal, tetapi juga hati nurani yang tulus bersih.

“Saya akan mengerahkan segenap kemampuan jiwaraga saya untuk menyampaikan kabar baik ini kepada sesama. Dan saya selalu berdo’a kepada Tuhan Allah YME, agar apa yang saya sampaikan bisa mudah diterima oleh masyarakat. Dan saya tegaskan buku ini tidak membentuk haluan keyakinan baru atau mencari pengikut, tapi saya berharap buku saya ini bisa menginpirasi semua kalangan,” tandas Connie.

Hadir pula oleh rekan artis dan musisi, antara lain Titiek Puspa, Ian Antono, Ermy Kulit, Vonny Sumlang, Taraz Bistara, Doddy Katamsi, Miing Bagito.

 

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hiburan

MA Menangkan Badai Eks Kerispatih, PT Halo Entertainment Dihukum Bayar Rp300 Juta

Published

on

By

JAKARTA — Mahkamah Agung (MA) memenangkan musisi sekaligus pencipta lagu Badai eks Kerispatih dalam perkara pelanggaran hak moral atas lagu I Still Love You. Dalam putusan kasasi, MA menghukum PT Halo Entertainment Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp300 juta kepada Badai.

Putusan tersebut menjadi kemenangan penting bagi Badai dalam memperjuangkan haknya sebagai pencipta lagu. MA menyatakan Badai merupakan pencipta lagu I Still Love You yang berhak mendapatkan perlindungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

MA juga menyatakan adanya pelanggaran hak moral terkait pencantuman nama pencipta yang berbeda dari identitas Badai pada sejumlah platform musik digital.

Kuasa hukum Badai, Minola Sebayang, menegaskan bahwa hak moral merupakan bagian penting dari perlindungan hak cipta yang tidak boleh diabaikan oleh pelaku industri musik.

Menurut Minola, hak cipta tidak hanya berkaitan dengan hak ekonomi, seperti royalti atas pemanfaatan karya, tetapi juga hak moral yang menjamin pengakuan terhadap identitas pencipta.

“Sering sekali kita melihat pertunjukan, kita tahu nama penyanyinya siapa, tetapi kita tidak tahu siapa nama penciptanya. Padahal, lagu itu tidak akan pernah ada tanpa penciptanya,” ujar Minola.

Nama Pencipta Lagu Dipersoalkan di Tiga Platform Digital

Perkara ini bermula ketika Badai menemukan persoalan pencantuman nama pencipta lagu I Still Love You pada tiga platform musik digital, yakni Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

Lagu tersebut dibawakan oleh penyanyi yang disebut sebagai Ray Pong. Namun, informasi pencipta lagu yang tercantum pada platform tersebut dinilai tidak sesuai dengan identitas Badai sebagai pencipta.

Sebelum menggugat ke pengadilan, pihak Badai mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan somasi kepada pihak yang dinilai bertanggung jawab atas pengunggahan lagu.

Karena upaya tersebut tidak menghasilkan penyelesaian yang disepakati, Badai kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pada tingkat pertama, gugatan Badai tidak dikabulkan. Pihaknya kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Dalam putusan kasasi, MA membatalkan putusan pengadilan sebelumnya dan mengadili sendiri perkara tersebut. MA menegaskan kedudukan Badai sebagai pencipta lagu sekaligus menyatakan adanya pelanggaran hak moral.

Badai Minta Pencipta Lagu Tidak Dianggap Pelengkap

Badai menyambut putusan MA sebagai langkah penting dalam memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hukum bagi pencipta lagu di Indonesia.

Ia menilai profesi pencipta lagu masih kerap dipandang sebagai pelengkap dalam industri musik, meskipun karya mereka menjadi fondasi lahirnya lagu yang dinikmati masyarakat.

“Terus terang, kami merasa negara ini belum sepenuhnya mendukung profesi kami. Kami masih dianggap sebagai pelengkap dari sebuah karya,” kata Badai.

Menurutnya, pencipta lagu tidak hanya berhak memperoleh manfaat ekonomi dari karya yang dihasilkan, tetapi juga berhak mendapatkan pengakuan atas identitas dan reputasinya.

Badai mengaku baru mengetahui persoalan pencantuman nama tersebut pada 2025. Setelah mengetahuinya, ia memilih meminta pertanggungjawaban pihak yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengunggahan lagu, bukan mempermasalahkan penyanyi yang membawakannya.

Sementara itu, Minola meminta PT Halo Entertainment Indonesia melaksanakan putusan MA, termasuk membayar ganti rugi Rp300 juta sesuai amar putusan.

Jika putusan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut tidak dilaksanakan, pihak Badai membuka kemungkinan menempuh langkah hukum lanjutan sesuai prosedur yang berlaku.

Putusan ini diharapkan memperkuat perlindungan hak moral pencipta lagu, terutama dalam distribusi musik melalui platform digital. Pencantuman nama pencipta secara benar merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak cipta yang wajib diperhatikan oleh pelaku industri musik.

Continue Reading

Seni Budaya

BFF Akan Gelar Konser Mini Lagu-Lagu Batak Kenangan

Published

on

Jakarta, hariansentana.com – KOMUNITAS “Batak Friends Forever” (BFF) akan mrnggelar konser mini Lagu-lagu Batak kenangan di W & S Cafe Cilandak Town Square (Citos) lantai dasar, Jumat, 25 September 2026, mulai pukul, 19:00 WIB.

Konser bertajuk; “DI INGOT HO DOPE” mengundang para “My Batak Friends Forever” yang terdiri dari lintas Suku dan Agama.

“Kita (BFF) pakai kata “My” di depan Batak Friends Forever untuk memberi kesan bahwa orang batak itu mudah bersahabat, terbuka, setia dan pejuang. karakter inilah yang ingin kita tularkan ke sahabat kita di luar batak,” terang Koordinator BFF, Leecarlo Lumbangaol di W & S Cafe, Rabu (24/09/2026) malam.

Adapun artis batak yang akan memeriahkan konser mini itu yakni: Trio E2I, Putri Silitonga, Erick Sihotang dan lainnya, dengan music Director, Markus Hutasoit.

Filosofi orang batak lainnya yang ingin dibagikan kepada sahabat batak adalah bahwa orang batak, sesusah dan semiskin apapun tetap berjuang menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.

“Ada prinsip di orangtua batak bahwa anak harus lebih sukses dari orangtuanya. misalnya, orangtuanya cuma taman SMA, kerja jadi supir, anaknya harus Sarjana dan kerja jadi pegawai atau di atas supir,” ungkap Leecarlo.

Tentang konser mini di cafe W&S, Leecarlo menjelaskan. tamu yang hadir dibatasi 150, maksimal 170 orang dengan harga tiket berbeda-beda.

“Sudah full booking, untuk VIP Rp.5 juta untuk table 5 orang, free 1 botol minuman Wisky impor, terendah kelas Standing Rp. 200 rb dapat Softdrink, ada yang kelas sofa A & B, harga Rp, 2,5 – 3 juta pertable untuk 4 orang free sebotol Wisky impor,” jelasnya.

Para pendiri (Founder) Batak’s Friends Forever

Lewat konser mini ini pula, BFF ingin mengingatkan generasi muda batak, baik yang perantauan dan yang sudah lahir, besar di kota perantauan seperti Jakarta untuk ingat dan mau membangun Bona Pasogit (kampung halaman).

“Kedepan kita (BFF) akan bikin konser musik – budaya Batak yang lebih besar lagi seperti; diadakan di Stadion dengan jumlah hadirin yang lebih besar,” ujar Leecarlo.

Diketahui, BFF didirikan oleh 5 sekawan pemuda batak. mereka adalah; Leecarlo Lumbangaol (koordinator BFF), Rahma br. Situmorang (Bendahara BFF), V Simanjuntak, David Pakpahan dan Paul Siagian.

Continue Reading

Hiburan

CAS Production Siapkan Last Witness sebagai Jembatan Menuju Layar Lebar

Published

on

By

JAKARTA, Sentana — CAS Production mulai memperluas langkahnya dalam mengembangkan produksi film dengan menghadirkan karya kedua berjudul Last Witness. Film yang masih dipasarkan melalui platform YouTube tersebut diposisikan bukan sekadar sebagai tontonan digital, tetapi juga menjadi ruang bagi para pemain untuk mengasah kemampuan sebelum masuk ke produksi layar lebar.

Hal itu disampaikan tim produksi dalam konferensi pers yang digelar Sabtu (5/9/2026) di sebuah kafe di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Berbeda dengan produksi perdana yang mengangkat genre horor, Last Witness menawarkan cerita yang lebih berfokus pada konflik keluarga, luka masa lalu, serta persoalan balas dendam. Pergeseran genre tersebut menjadi bagian dari upaya CAS Production menguji kemampuan pemain dalam membawakan karakter dengan konflik yang lebih kompleks.

Perwakilan tim produksi mengatakan, setiap proyek yang dibuat menjadi bagian dari proses evaluasi untuk meningkatkan kualitas pemain maupun tim di balik layar.

“Ini masih tahap pembelajaran. Kita ingin mereka mengevaluasi apa yang sudah mereka lakukan, mengoreksi kekurangan masing-masing, supaya ketika nanti disiapkan untuk yang lebih besar lagi, mereka bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Jadi Ruang Belajar Pemain Muda

Kehadiran sejumlah pemain berpengalaman juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Aktor Yama Carlos dan Catherine Wilson turut ambil bagian dalam Last Witness, sehingga para pemain muda dan pendatang baru memiliki kesempatan belajar langsung dari aktor yang lebih berpengalaman.

Dalam film tersebut, Yama Carlos berperan sebagai Pak Dharmo, sedangkan Catherine Wilson memerankan karakter Bu Rini.

Sementara itu, jajaran pemain lainnya terdiri dari Tsani Prillia sebagai Naya/Nara, Kefan Sj sebagai Raka, Musa Zulfikar sebagai Adit, Dewanti sebagai Tari, Rumyrach sebagai Kirana, Taufik Hidayat sebagai Dion, serta Fadli sebagai Faris.

Tim produksi juga menerapkan pendekatan karakter yang relatif dekat dengan kepribadian para pemain. Strategi tersebut dinilai dapat membantu pemain, khususnya mereka yang masih minim pengalaman akting, untuk lebih mudah beradaptasi dengan karakter yang dimainkan.

Meski demikian, pendekatan natural tersebut tetap diarahkan untuk membantu pemain memahami pentingnya pendalaman karakter dan disiplin dalam proses produksi film.

YouTube Bukan Tujuan Akhir

Pemilihan YouTube sebagai platform penayangan juga menjadi bagian dari strategi CAS Production dalam mengembangkan karya sekaligus melihat respons penonton.

Bagi tim, respons publik terhadap Last Witness dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kekuatan maupun kekurangan produksi. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal ketika CAS Production mulai meningkatkan skala produksi.

“Kita memang ingin mereka lebih siap. Jadi ketika waktunya sudah tepat dan masuk ke layar lebar, mereka sudah mempunyai pengalaman dan lebih matang,” lanjutnya.

CAS Production juga membuka peluang untuk menghadirkan produksi dengan genre yang berbeda pada proyek berikutnya. Setelah mengawali perjalanan melalui film horor dan kemudian menghadirkan Last Witness dengan pendekatan konflik keluarga, drama menjadi salah satu genre yang berpotensi dieksplorasi.

Dengan demikian, Last Witness tidak hanya menjadi proyek film kedua CAS Production. Produksi ini sekaligus menjadi bagian dari proses membangun talenta, menguji konsep cerita, serta mempersiapkan tim untuk menghadirkan karya dengan skala yang lebih besar.

YouTube dalam perjalanan tersebut ditempatkan sebagai salah satu tahapan menuju target yang lebih jauh, yakni membawa karya dan para pemain CAS Production ke industri layar lebar.

Continue Reading
Advertisement

Trending