Pendidikan
Pusdiklat Tekfunghan Buka Diklat Teknis Cyber Defence, Perkuat SDM Pertahanan Cyber Kemhan dan TNI
Jakarta, Hariansentana.com — Kapusdiklat Tekfunghan Dra. Endang Purwaningsih, M.Si. memimpin upacara pembukaan Diklat Teknis Cyber Defence TA. 2024 bertempat di Aula Tentara Pelajar Lt. II, Pusdiklat Tekfunghan Badiklat Kemhan, JI. Salemba I No. 25 Jakarta Pusat. Diklat yang dilaksanakan selama 2 bulan ini diikuti oleh 25 orang peserta terdiri dari 22 orang TNI dan 3 orang PNS yang berasal dari UP Kemhan, Mabes TNI dan Angkatan dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya Kapusdiklat Tekfunghan menyampaikan bahwa pelaksanaan Diklat Teknis Cyber Defence bagi Personel Kemhan dan TNI ini merupakan salah satu langkah strategis di era pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini. Sebuah era dimana ketergantungan terhadap jaringan internet semakin tinggi, yang berdampak pada semakin tinggi pula resiko yang dihadapi. Saat ini semua aspek perekonomian, sosial, hingga pertahanan begitu tergantung kepada internet, seperti aktivitas perbankan, transaksi keuangan, pemeliharaan dan penggunaan transportasi, pengendalian persenjataan hingga komunikasi sosial.
Semua orang di seluruh dunia mendapatkan kesempatan yang sama untuk masuk di dalamnya, sehingga sangat dimungkinkan setiap individu yang memiliki kemampuan di bidang siber dapat melakukan pengrusakan atau mengobrak abrik sistem yang ada hingga mampu membobol dan menguasai aset serta pertahanan individu maupun pertahanan negara lain dengan cara yang amat mudah. Itulah salah satu bentuk perang di dunia siber, yaitu perang yang menggunakan jaringan komputer dan Internet atau ruang siber (cyberspace) dalam bentuk strategi pertahanan atau penyerangan sistim informasi lawan,”
Perang siber mengacu pada penggunaan fasilitas www (world wide web) dan jaringan komputer untuk melakukan perang di dunia maya. Pelakunya memanfaatkan teknologi komputer dan internet untuk saling bersaing dan menguasai, mengganggu, menghentikan komunikasi dan bahkan merubah arus informasi dan isi serta berbagai tindakan lain yang dapat merugikan dan menghancurkan lawan.
Saat ini, ancaman atau serangan siber telah menjadi trend dunia yang terus berkembang seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ancaman atau serangan siber merupakan salah satu bentuk ancaman perang modern, sebuah ancaman dengan biaya yang sangat murah, dengan tanpa harus menghadirkan kekuatan militer secara fisik di negara lawan, tetapi dampak yang ditimbulkan dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah maupun keselamatan bangsa. Hal ini tentu relevan dengan amanat UUNo 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, yang menyebutkan bahwa ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa terdiri dari ancaman militer dan ancaman non militer, termasuk diantaranya ancaman siber.

Selanjutnya Kapusdiklat Tekfunghan juga menyampaikan bahwa sebagai salah satu upaya menghadapi ancaman terhadap kedaulatan negara di dunia maya inilah, pembentukan SDM pertahanan siber yang bertugas menjadi benteng pertahanan dunia siber (Cyber Defence) ini menjadi hal penting untuk dilaksanakan. Oleh karenanya, Diklat Teknis Cyber Defence ini dilaksanakan untuk membentuk SDM Pertahanan Siber di lingkungan Kemhan dan TNI, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dengan kompetensi teknis operasional di bidang keamanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk tujuan khusus di bidang Cyber Defence, dan memiliki sikap dan perilaku sesuai tuntutan tugas di lingkungan kerja Kemhan dan TNI.
Selanjutnya para peserta nantinya diharapkan juga mampu mengatasi berbagai teknik, taktik dan strategi pertahanan siber yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena kasus kejahatan cyber setiap tahun terus bertambah dan dapat memberikan dampak negatif bagi pemilik aset maupun instansi pemerintah, sehingga menjadi ancaman serius bagi negara dan pemerintah Indonesia.
Oleh karena itulah, melalui Diklat ini para peserta juga diharapkan memiliki keterampilan dalam mendeteksi kerentanan sistem dan mengatasinya saat terjadi penyerangan cyber.
Untuk itu, dalam Diklat ini para peserta akan dibekali 36 materi Bidang Studi Inti mulai dari Dasar Keamanan Komputer atau Computer Security Fundamental, Keamanan Jaringan atau Network Security, Teknik Serangan Siber dan Antisipasinya, Forensik Teknologi Informasi, dan Kebijakan dan Strategi Perang Informasi.
Yang tidak kalah menariknya nanti akan dipraktekkan Cyber Attack and Defence Simulation menggunakan Aplikasi Pembelajaran Cyber Defence yang dimiliki Pusdiklat Tekfunghan Badiklat Kemhan.
Turut hadir dalam upacara pembukaan Diklat Teknis Cyber Defence antara lain wakil dari Karopeg Setjen Kemhan,para Kapusdiklat Badiklat Kemhan, wakil dari Waaspers Panglima TNI, wakil dari Waaspers Kasad, wakil dari Waaspers Kasal, wakil dari Waaspers Kasau, Kapusdiklat BSSN, Kapushansiber Bainstrahan Kemhan serta Tamu undangan, dan peserta klat Teknis Cyber Defence.(***)
Pendidikan
LSM PRB Desak Disdik Kab Bogor Profesionalkan SPMB, SD-SMP 2026, Usul Sekolah Swasta Digratiskan Lewat APBD
Bogor, Hariansentana .com – Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor membuat Sistem Penerimaan Murid Baru ( SPMB ) SD dan SMP tahun ajaran 2026 lebih profesional dan berpihak ke masyarakat.
Saat di hubungi tlp seluler nya Kamis 25 ,Juni 2026
Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) M Johan Pakpahan ,S .H. mengatakan Sistem Penerimaan Murid Baru ( SPMB ) untuk jenjang wajib belajar 9 tahun seharusnya dipermudah. “SD-SMP ini wajib belajar dan sesuai UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Jadi pemerintah wajib memastikan SD-SMP tidak dipersulit sistem. Administrasi harus mudah, jangan bikin orangtua pusing,” terang nya.
Lebih lanjut Johan mendorong Disdik menambah daya tampung dengan menambah kursi/rombongan belajar ( Rombel ) di sekolah negeri. Tujuannya agar siswa yang orangtuanya tidak mampu ke swasta tetap bisa masuk sekolah negeri.
Ia juga mengusulkan terobosan: Pemda Kab. Bogor mengalokasikan anggaran pendidikan lewat APBD untuk menggratiskan sekolah swasta. “Kalau negeri dan swasta sama-sama gratis, masalah pendidikan di Kab. Bogor terjawab. Nggak ada lagi alasan orangtua tidak menyekolahkan anak SD-SMP karena biaya,” tegasnya.
Johan juga meminta Bupati Bogor memberikan arahan ke DPRD Kab. Bogor agar program “sekolah swasta gratis” bisa diwujudkan dengan alokasi APBD yang cukup. Ia juga meminta Kepala Dinas Pendidikan secara teknis menambah kursi di sekolah negeri SD dan SMP supaya daya tampung naik. “Jangan malas bikin terobosan untuk kebaikan masyarakat,” katanya.
Johan juga menyatakan mendukung program Bupati Bogor, khususnya di bidang pendidikan. “Kami paling khusus dukung kalau ada program sekolah swasta gratis. Ini langkah Kab. Bogor berubah, memberitakan pendidikan sebagai program pokok menuju SDM unggul,” pungkasnya………Ron
Pendidikan
PDIP Tagih Roadmap Sekolah Swasta Gratis SD-SMP Sesuai Putusan MK
JAKARTA, SENTANA – Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati mengingatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menyiapkan peta jalan (roadmap) terkait pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menggratiskan biaya pendidikan pada sekolah swasta jenjang SD-SMP.
MY Esti mengatakan Mahkamah Konstitusi dalam putusannya meminta realisasi putusan tersebut secara bertahap, namun hingga saat ini pihaknya belum menerima peta jalan yang menggambarkan tahapan terkait pelaksanaan putusan tersebut.
“Kami kembali mengingatkan di dalam tambahan anggaran yang diajukan Pak Menteri belum menampakkan klausa berkaitan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi, juga tidak ada roadmap untuk bisa melaksanakan apa yang menjadi putusan tersebut,” kata MY Esti dikutip Sabtu (20/8)
Menurutnya, Kemendikdasmen tetap harus memasukkan keberlanjutan realisasi putusan MK tersebut meski tengah dalam kondisi keterbatasan alokasi anggaran setelah efisiensi.
“Keputusan rapat Komisi X sudah berulang kali mengenai hal ini, tetapi tidak ada tindak lanjut yang kami anggap sangat serius ya. Kalau itu karena keterbatasan anggaran, maka tetap harus ada progres di tahun 2027 apa, tahun 2028 bagaimana dan selanjutnya, itu kan amanah yang diberikan kepada kita semua,” tegasnya.
Sebagai informasi, pada bulan Mei 2025, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa negara, dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah, harus menggratiskan pendidikan dasar yang diselenggarakan pada satuan pendidikan SD, SMP, dan madrasah atau sederajat, baik di sekolah negeri maupun swasta
Pendidikan
MagnaMinds Himpun 109 Peserta dari 31 Institusi dalam Workshop Pendidikan Inklusif dan Neurodiversitas di Manado
MANADO, HARIANSENTANA.COM – Sebanyak 109 peserta dari 31 institusi menghadiri workshop Neurodiversity as a Strength: Strengthening Collaboration in Inclusive Education yang diselenggarakan oleh MagnaMinds di Manado, Sulawesi Utara
Kegiatan yang dibuka oleh Wali Kota Manado, Andrei Angouw ini, mempertemukan perwakilan Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, guru, psikolog, terapis, kepala sekolah, pengelola sekolah inklusi, mahasiswa, orang tua, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki perhatian terhadap pendidikan inklusif dan neurodiversitas.
Dalam sambutannya, Wali Kota Manado, Andrei Angouw. menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa. “Kekayaan sebuah negara adalah sumber daya manusianya. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua,” ujar Andrei Angouw.
Kehadiran berbagai institusi dalam kegiatan ini mencerminkan meningkatnya perhatian dan kebutuhan akan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mengakomodasi beragam kebutuhan belajar. Selain menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan, workshop juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik, orang tua, tenaga kesehatan, dan praktisi untuk bertukar pengalaman dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan perkembangan yang berbeda.
Workshop menghadirkan Anita Chandra, M.Psi., Psikolog, SAP, dari Agents of Behavior Change (ABC) serta Margaretha T. Kuera, M.Psi., Psikolog, yang memiliki pengalaman sebagai psikolog klinis, praktisi CBT, dan konsultan pendidikan kesehatan mental.
Dalam pemaparannya, Anita Chandra menyoroti semakin pentingnya pendidikan inklusif seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap berbagai kebutuhan perkembangan dan gaya belajar anak.
“Ketika kita berbicara mengenai inklusivitas di masa depan, jumlah anak dengan kebutuhan khusus terus meningkat. Karena itu, inklusivitas tidak bisa diabaikan dan harus dipersiapkan dengan baik. Kegiatan seperti ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang neurodiversitas dan bagaimana mendukung anak agar dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.
Menurut Anita, pemahaman terhadap neurodiversitas merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat melihat perbedaan cara berpikir dan belajar sebagai bagian dari keberagaman manusia yang patut dihargai dan didukung.
Sementara itu, Margaretha T. Kuera, M.Psi., Psikolog, menyoroti pentingnya membangun sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak.
Margaretha menggarisbawahi bahwa “keberagaman adalah fakta, keadilan adalah pilihan, inklusi adalah aksi, dan hasilnya adalah perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat.”
Dari materi yang diberikan oleh kedua pembicara, para peserta workshop merasa bahwa wawasan mereka tentang pendidikan khusus dan inklusi semakin kaya.
Salah satu peserta, Fatihah Masloman, seorang mahasiswi dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon, mengatakan bahwa “Sebagai mahasiswa psikologi, kami mendapat banyak ilmu baru. Acara ini bukan hanya sekadar untuk bertukar pikiran, tetapi kami juga mendapat banyak relasi baru dan tentunya wawasan kami di dunia pendidikan inklusi menjadi lebih luas.
Sebagai kaum muda, saya juga terinspirasi untuk mengajak pemuda-pemudi lainnya berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam inklusivitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.”
Sementara itu, peserta lainnya, Lini Mondigir, ketua Sekolah Inklusi Amadeus, menekankan bahwa setiap anak memiliki kekuatan dan kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing.
“Anak-anak itu berbeda, tetapi berbeda bukan berarti kurang. Mereka memiliki cara bertumbuh dan belajar yang berbeda. Sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut melalui program pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya.
Menurut Lini, salah satu poin penting yang terungkap dalam workshop adalah perlunya program pembelajaran yang lebih individual dan fleksibel agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensinya.
Salah satu peserta dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus, Merry Christian Wuisan, mengatakan, “Sebagai pegawai dinas pendidikan, saya merasa sangat termotivasi untuk lebih menggalakkan pendidikan inklusi. Mari kita bersama-sama dengan pemerintah pusat mengelola sekolah yang menerima dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, serta berkolaborasi dengan baik agar anak-anak ini dapat memperoleh hak dan kewajiban yang setara dengan anak-anak di sekolah reguler.”
Dalam sesi diskusi, para peserta juga menyoroti pentingnya memperkuat kolaborasi antara sekolah inklusi dan pusat terapi. Para peserta menilai bahwa kemitraan yang lebih erat antara pendidik, terapis, psikolog, dan orang tua dapat membantu memastikan anak mendapatkan dukungan yang konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Para narasumber juga menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini pada anak dengan kebutuhan perkembangan khusus. Semakin cepat kebutuhan perkembangan seorang anak dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan dukungan, terapi, dan intervensi yang tepat sehingga anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Banyak peserta menyampaikan bahwa Sulawesi Utara membutuhkan lebih banyak pelatihan, forum berbagi praktik baik, dan ruang kolaborasi seperti ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas dan pendidikan inklusif.

MagnaMinds didirikan 1 tahun yang lalu oleh Ryan Winston Angouw, seorang remaja yang peduli terhadap isu neurodiversitas dan pendidikan inklusif. Menurut Ryan, workshop ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis mengenai pendekatan inklusif, strategi komunikasi, serta adaptasi lingkungan yang mendukung individu neurodivergen, termasuk mereka yang hidup dengan autisme, ADHD, maupun disleksia.
“Kami berharap setiap peserta pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan inklusivitas di lingkungan masing-masing. Guru, terapis, psikolog, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan mendukung bagi individu neurodivergen,” ujar Ryan.
Selain workshop, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran buku Panduan Praktis Neurodiversitas yang ditulis oleh Ryan Winston Angouw dan dibagikan secara gratis kepada para peserta.
Dalam kata pengantarnya, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), Subsp.Neuro(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak dan Konsultan Saraf Anak, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Ryan terhadap anak-anak dengan autisme dan berbagai gangguan perkembangan lainnya.
Menurut Prof. Hardiono, di usia 15 tahun, Ryan telah menunjukkan keberanian untuk belajar, mendengarkan pengalaman keluarga, terlibat dalam kegiatan sosial, serta berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia menilai bahwa keputusan Ryan untuk mempelajari kebutuhan anak-anak dengan gangguan perkembangan dan menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah buku merupakan sebuah usaha yang sungguh mengagumkan.
Salah satu benang merah yang muncul sepanjang workshop adalah bahwa keberhasilan pendidikan dan perkembangan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau keluarga semata, melainkan juga oleh ekosistem pendukung di sekitarnya. Kolaborasi antara orang tua, guru, terapis, psikolog, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membantu setiap anak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.
Dalam konteks pendidikan inklusif, penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki potensi, cara berpikir, dan kekuatan yang unik. Terkadang yang kita anggap sebagai keterbatasan hanyalah kemampuan yang belum sepenuhnya kita pahami. Karena itu, tugas kita bukan hanya memberikan dukungan yang mereka butuhkan, tetapi juga membuka ruang agar potensi mereka dapat berkembang dan memberi makna bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, MagnaMinds berharap dapat terus menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun pemahaman yang lebih baik tentang neurodiversitas. Sejalan dengan filosofi “Not All Great Minds Think Alike,” yang artinya tidak semua orang hebat berpikir dengan cara yang sama, MagnaMinds meyakini bahwa keberagaman cara berpikir, belajar, dan berkembang merupakan kekuatan yang perlu dipahami, dihargai, dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. (***)
-
Ekonomi6 days agoKetum Garuda Nofalia Heikal Safar Kunjungan Kerja ke IKN Jajaki Peluang Usaha Kuliner Khususnya UMKM
-
Nasional3 days agoSiapa Biang Keladi Ricuh di Munas PBNU?
-
Ibukota5 days agoApel Jaga Jakarta Pilah Sampah Komitmen Wujudkan Jakarta Kota Bersih.
-
Selebritis6 days agoBornstar Indonesia Akan Gelar Event Spektakuler, Hadirkan Dua Idol Korea

