Ekonomi
Transisi Energi dan Ketahanan Pertamina
SETELAH penghargaan sebagai Tokoh Ketahanan Energi, Nicke Widyawati selaku Direktur Utama Pertamina tentu tidak dapat berpuas diri, kerena di depan mata ada tantangan yang lebih besar yakni bagaimana berselancar dalam gombang yang cukup dahsyat yakni transisi energi.
Tantangan ini telah dihadapi Pertamina, dan ada dalam tubuh Pertamina sekarang. Berbagai regulasi baik yang mengikat seperti UU ratifikasi perubahan iklim maupun yang sifatnya belum mengingat seperti kebijakan perbankan dan sektor keuangan internasional segara akan menjadi tantangan serius bagi Pertamina.
Pelajaran paling berharga dapat dipetik dari masalah yang dihadapi perusahaan migas dalam setengah dekade terakhir. Banyak perusahaan migas multi nasional terpaksa harus mengambil langkah langkah yang tidak populer dalam menghadapi maslaha yang dihadapi.
Banyak diantara perusahaan migas meninggallkan ladang ladang minyak di negara negara berkembang karena komitmen negaranya terhadap perjanjian terhadap perjanjian iklim, penurunan emisi, pajak karbon dan tekanan keuangan lainnya.
Tidak sedikit juga diantara mereka yang terpaksa memangkas belanja dalam jumlah yang sangat significant, menahan proyek proyek fosil mereka dan bahkan memPHK karyawannya.
Perusahaan migas besar telah mengambil langkah langkah penting untuk mengembangkan energi non fosil agar tetap mendapatkan insentif keuangan dan perpajakan yang telah menjadi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka. Namun walaupun telah sedemikian banyak usaha mereka untuk transisi energi namun tidak banyak yang akan bisa selamat di masa mendatang.
Dalam suatu pertemuan dengan praktisi dan pelaku bisnis migas mengemuka proyeksi tentang masa depan industri migas. Berapa lama. Mereka semua bisa bertahan? ada pandangan bahwa 30 tahun usia yang terlalu cepat untuk perusahaan migas namun 80 tahun adalah usia yang terlalu lama.
Itulah mengapa negara negara maju seperti Eropa telah mengambil posisi 2050 atau 30 tahun lagi paling lama akan bertahan di fosil. Negara negara berkembang mengambil posisi 2060. Apakah itu waktu yang lama? Tentu saja tidak ini adalah langkah yang day to day haruslah makin konkrit dan detail.
Bagaimana Pertamina?
Indonesia adalah pioner dalam industri migas, dari sini salah satunya usaha penggalian minyak dimulai di dunia. Pertamina adalah tulang punggung ekonomi Indoensia selama berpuluh puluh tahun bahkan sampai dengan saat ini, walau dengan ukuran yang relatif makin berkurang.
Di masa lampau Pertamina adalah salah satu perusahaan terbesar di Asia, diluar perusahaan perusahan Jepang. Memiliki aset yang tersebar luas di seluruh dunia, di London, Newyork dan Tokyo. Sebelum kejatuhan besar besaran indonesia pada krisis 1998 Pertamina masih merupakan perusahan besar di Asia. Krisis 98 yang dipicu oleh krisis perbankan dan keuangan merobohkan sendi sendi ekonomi Indonesia termasuk juga migas.
Pertamina kembali merangkak, memastikan kebutuhan energi minyak nasional terpenuhi. Pertamina harus berbagi dengan kontraktor kontraktor swasta asing dalam memguasai ladang ladang migas Indoensia. Namun semua yang dimiliki sekarang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Sejak covid 19, lalu diikuti dengan transisi energi banyak perusahaan migas yang pergi karena tidak sanggup menanggung beban operasi mereka, dan kontrak yang jatuh tempo. Ladang minyak asing dan aset asetnya dibeli oleh Pertamina sebagai cara menjaga pasokan minyak nasional agar tidak terganggu namun semua masih kurang, beluk cukup memenuhi kebutuhan minyak nasional. Apakah karena kebutuhan kita sangat besar? Tentu saja tidak. Indonesia adalah negara konsumen minyak perkapita yang relatif kecil di dunia. Tapi kemampuan ladang ladang minyak nasional menghasilkan minyak tetap tidak cukup.
Langkah Ke Depan
Bagi Pertamina tugas utama dari negara adalah bagaimana menjaga pasokan minyak nasional dengan harga yang diatur oleh pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung, baik melalui regulasi maupun melalui tekanan politik. Aturan pemerintah tidak selalu menguntungkan Pertamina, bahkan lebih banyak merugikan perusahan migas ini.
Untuk menjaga pasokan maka Pertamina harus tetap punya uang, memastikan belanja mereka untuk mencari ladang ladang minyak baru, memastikan ratiai pasok tidak terputus, memastikan rantau nilai tidak tersumbat, memastikan pemerintah tetap konsisten membayar sunsidi dan kompensasi. Semua karena memang Pertamina memerlukan uang untuk menjaga ketahanan energi.
Transisi energi, keuangang dan ketahanan energi adalah kalimat sakti yang menakutkan saat ini. Sulit sekali mendapatkan uang jika tidak menjalankan transisi energi, sulit sekali memastikan ketahanan energi kalau tidak ada uang. Tepatnya bukan sulit lagi tapi tidak akan bisa!
Maka di sini lah sang nakhoda berselancar, gelombang ini besar, maka semua harus dicek, kekuatan perahu, dimana harus bersandar pada saat darurat, bendera apa yang harus dikibarkan dalam kancah internasional.
Nakhoda butuh bendera transisi energi yang besar untuk dikibarkan. Apakah Pertamina memiliki bendera itu? Banyak jika sesekali memyelami dasar lautan. Sekarang Indonesia adalah climate change super power. Super power baru, paradigma baru, dan salah satu perahu besarnya untuk mengangkat ini adalah Pertamina.
Selamat atas penghargaan tokoh ketahanan energi kepada Direktur Utama Pertamina Ibu Nicke Widyawati. Semoga Pertamina terus berjaya.
Oleh: Salamuddin Daeng, Pengamat Energi/Peneliti AEPI
Ekonomi
34 Tahun Bangun Industri Pangan, Direktur PT SPS: Visi Kami Memaksimalkan Potensi Petani Lokal
Jakarta, Hariansentana.com – Direktur PT Sumber Pangan Sukses (SPS), Siti Saidah yang akrab disapa Ida, membagikan perjalanan panjangnya membangun industri pangan terpadu. Berawal dari peternakan ayam hingga kini merambah beras dan kelapa sawit, Ida mengaku visi utamanya tetap sama: memaksimalkan potensi dan memberdayakan petani lokal.
Ida menyebut, dirinya telah menghabiskan 34 tahun di industri peternakan ayam, kemudian 17 tahun di industri olahan tepung kelapa yang 99 persen untuk ekspor. Dalam 8 tahun terakhir, ia fokus di komoditi beras dan 6 tahun terakhir mengembangkan industri kelapa sawit.
“Kita konsentrasi di industri olahan pangan terpadu. Pengalaman saya 34 tahun di peternakan ayam, kemudian 17 tahun di industri olahan tepung kelapa, dan 8 tahun terakhir kita di beras,” ujar Ida Saidah, Direktur PT Sumber Pangan Sukses.
Untuk komoditi beras, Ida menjelaskan SPS tidak hanya mengandalkan impor. Pada 2022-2024 perusahaan sempat 99 persen impor karena kebijakan pemerintah, namun SPS juga tetap membina petani dan penggilingan padi kecil (rice mill) di Karawang, Cikarang, Bekasi hingga Indramayu.
Ia mengungkapkan, SPS membantu rice mill berkapasitas kecil 5 ton, 10 ton hingga 20 ton per hari yang umumnya kekurangan modal. Bantuan itu berupa pengiriman gabah, modal kerja di depan, hingga pendampingan staf untuk meningkatkan kualitas.
“Kita datangkan gabah, lalu kita modal kerja di depan dan semua produksi kita bantu, kita ajari ada staf-staf kita ngajari mereka,” kata Ida.

Tidak hanya beras, untuk kelapa sawit SPS juga bermitra dengan banyak daerah. CPO didatangkan dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bangka, Dumai, Medan, Aceh hingga Lampung. Sementara gabah berasal dari Madura, Bojonegoro, Kudus, Karawang, Cikarang dan Indramayu.
Ida menegaskan, pembinaan petani dilakukan secara intensif melalui pelatihan. Ia mencontohkan, SPS mengumpulkan kelompok petani dan penggilingan padi untuk pelatihan di hotel di Karawang agar kapasitas dan kualitas mereka naik kelas.
“Visi kita bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi para petani lokal, yang kedua bagaimana bisa memberdayakan para petani,” tegasnya…..Ron
Ekonomi
Kesan dan Pesan John N Palinggi Kepada Menkeu Suahasil Pengganti Purbaya
Jakarta, hariansentana.com – PENGAMAT Ekonomi Dr, John N Palinggi, M.M, M.BA mengatakan, perggantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara adalah hak prerogatif Presiden sesuai dengan UUD ‘45 Pasal 17 dan UU No.13 Tahun 2008.
“Jadi tidak perlu ada spekulasi yang bikin resah masyarakat, tentang alasan Presiden Prabowo melakukan pergantian Menteri, karena Menteri adalah pembantu Presiden yang sudah barangtentu harus loyal kepada Presiden bukan kepada yang lain,” ujar Pengusaha, Ketum DPP Assosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN) ini di Jakarta, kemarin.
Mengenai Mekeu baru Suahasil, John menilai Suahasil adalah sosok yang tepat menggantikan Purbaya melihat rekam jejak pengalamannya di Kemenkeu.
“Beliau adalah Wakil Menteri Keuangan selama 7 tahun. 5 Tahun di Kabinet Indonesia Maju dan 2 Tahun di Kabinet Merah Putih sejak November 2024 hingga September 2026,” terang Ketua Assosiasi Mediator Indonesia (ARDIN) ini.
Menurut John, Suahasil adalah sosok yang kalem yang tidak mencari popularitas. “Orangnya masih muda, rendah hati, tidak pernah terpublikasi dan tidak gampang buat statement. padahal dia (Suahasil) Guru Besar UI peraih Bintang Jasa Utama,“ ungkapnya.
Kedepan, John Palinggi berharap Menkeu Suahasil lebih ketat dalam menggelontorkan uang kepada Kementerian dan Lembaga Negara serta menggendalikan hutang negara, khususnya hutang swasta yang ditanggungjawabi negara.
“Banyak Kementerian dan Lembaga/Instansi minta-minta tambah anggaran tanpa jelas tujuan dan peruntukannya, apakah berdampak pada kesejahteraan rakyat. Jangan biarkan swasta ngutang luar negeri yang pada akhirnya menjadi beban negara,” jelasnya.
Selain itu, John Palinggi berharap Menkeu Suhasil loyal kepada Presiden bukan orang lain di balik layar, tidak takut ancaman dari orang yang mengandalkan partai politik sebagai tameng.
“Bersyukur Suhasil adalah sosok Profesional murni, praktisi, independen yang tidak tetkait dengan partai politik manapun,” tutup John.
Ekonomi
Perkuat PPNS di Bidang Pangan, Bapanas Dorong Pengawasan Didukung Sistem Digital
Jakarta, Hariansentana.com — Penguatan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang pangan terus dilakukan Badan Pangan Nasional (Bapanas), termasuk melalui penguatan koordinasi dan pemanfaatan sistem digital dalam administrasi penyidikan. Saat ini Bapanas membina sekitar 30 PPNS yang tersebar di pusat dan daerah untuk mendukung pengawasan pangan di seluruh Indonesia.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan digitalisasi administrasi penyidikan akan membantu PPNS menjalankan tugas secara lebih tertib dan sesuai prosedur. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Korwas PPNS Tahun Anggaran 2026 di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
“Bapanas memiliki sekitar 30 PPNS, enam di pusat dan sisanya di daerah. Karena itu, koordinasi dengan Korwas PPNS penting untuk memastikan pelaksanaan pengawasan pangan berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kami juga akan terus memperkuat kapasitas PPNS kita,” ujar Andriko.

Kabareskrim Polri Komjen Pol. Drs. Syahardiantono, M.Si. mengatakan koordinasi antara Penyidik Polri, PPNS, dan Penyidik Tertentu diperlukan untuk mencegah kesenjangan maupun tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas. Menurutnya, masing-masing penyidik perlu menjalankan kewenangannya dengan tetap mengedepankan sinergi dan kolaborasi.
“Koordinasi ini mutlak dilaksanakan guna menghindari kesenjangan dan tumpang-tindih dalam pelaksanaan tugas, demi tercapainya tujuan penegakan hukum yang berkeadilan, berkepastian hukum, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Syahardiantono saat membuka Rakor Korwas PPNS Tahun 2026.
Penguatan tersebut sejalan dengan peluncuran Sistem Laporan (SISLAP) Korwas PPNS dan penguatan penggunaan E-PPNS dalam Rakor Korwas PPNS Tahun 2026. Kedua sistem tersebut ditujukan untuk mendukung pengelolaan laporan dan administrasi penyidikan secara digital.
Disisilain Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Pol. Edy Suranta Sitepu mengatakan SISLAP digunakan untuk mengelola laporan dari jajaran Direktorat Kriminal Khusus dan Satuan Reserse Kriminal di seluruh Indonesia, termasuk dari 508 Polres. Sementara E-PPNS digunakan untuk mendukung administrasi penyidikan PPNS dan telah terhubung dengan SPPTI.
“SISLAP ini adalah sistem pelaporan di Korwas PPNS untuk mengelola laporan dari para Direktur Kriminal Khusus maupun para Kasat Reskrim yang ada di jajaran 508 Polres,” ujar Edy.
Menurut Edy, penerapan E-PPNS akan membuat proses administrasi penyidikan lebih terintegrasi. Penyampaian administrasi penyidikan kepada kejaksaan yang sebelumnya dilakukan secara manual selanjutnya dapat dilakukan melalui sistem secara daring.
Bagi Bapanas, penguatan sistem tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan kapasitas PPNS dalam melaksanakan pengawasan pangan. Ruang lingkup pengawasan PPNS Bapanas meliputi keamanan dan mutu pangan, label, iklan, cadangan pangan, serta aspek ketersediaan pangan sesuai dengan tugas dan kewenangan Bapanas.
Andriko menegaskan, penguatan kapasitas PPNS dan koordinasi dengan Korwas PPNS akan terus dilakukan agar pengawasan pangan di pusat maupun daerah dapat berjalan secara efektif dan sesuai ketentuan.
“Harapannya, dengan adanya Korwas di seluruh Indonesia, pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Bapanas, kami juga akan terus melakukan penguatan kapasitas PPNS untuk melakukan pengawasan pangan di seluruh Indonesia,” ujar Andriko.(***)
-
Polhukam5 days agoIPW : Dugaan Rekayasa Menghabisi Karier Prof. Dasaad Mulijono Berujung Pidana.
-
Daerah2 days agoSelly Gantina Kecam Pembunuhan Anak dan Ibu di Madiun, Minta Pelaku Dihukum Berat
-
Nasional5 days agoBuka OKK Angkatan 25 Tahun 2026, Ketua PWI Jaya Kesit B Handoyo: Wartawan Harus Bisa Menulis.
-
Polhukam3 days agoKetua LSM PRB Desak KPK Segera Tetapkan Tersangka Kasus Upah Pungut Bappenda Kabupaten Bogor

