Connect with us

Ekonomi

Tak Mau Miskin Permanen, Kawasan Timur Perlu Galang Solidaritas Oceania

Published

on

Jakarta, HarianSentana.vom – Kawasan Timur Indonesia perlu menggalang solidaritas Oceania karena memiliki karakter wilayah yang sama. Oceania akan menjadi hotspot masa depan dunia. G20 di Bali semestinya menjadikan Oceania sebagai blue – green development dibandingkan dengan kawasan lain.

Hal itu terungkap dalam forum diskusi terbatas dari berbagai elemen di kawasan timur yang diinisiasi Archipelago Solidarity Foundation di Jakarta, Minggu (6/11/2022), yang dihadiri Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Prof. Dr. Jan Sopahelawakan, Dr. Ing. Ignas Iryanto, Dr. Ishak Tan, Drs. Robert Bala, MA; kandidat Dr. Laus Calvin Rumayom, Web Warouw, Demianus Meriam, Hengky Ap, Drs. Theopilus Luis, Syarif Lussy, SE dan Daniel Tagukawi.

Sesuai data resmi pemerintah, Provinsi Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku merupakan empat provinsi termiskin di Indonesia dari satu rezim ke rezim yang lain, tetapi tidak ada kebijakan yang nyata untuk mengangkat kawasan ini. Sementara di satu sisi, sumber daya alamnya dieksploitasi sedemikian rupa.

Engelina Pattiasina mengatakan, forum itu sengaja dirancang untuk mengidentifikasi solusi dan akar persoalan, sehingga kawasan timur tidak semakin tertinggal dari kawasan lain. Dia mengatakan, kalau wilayah yang kaya secara sumber daya alam tetapi terpuruk dalam kategori termiskin selama bertahun-tahun, maka hal itu harus dihentikan, sehingga keterpurukan ini tidak berlanjut ke generasi kini dan mendatang.

Menurutnya, kawasan timur memiliki kekayaan alam yang sangat lengkap baik di darat, laut dan di dalam laut. Pada masa keemasan rempah, juga tidak membawa perubahan di Maluku. Begitu juga dengan saat ini, dimana kekayaan sumber daya alam hanya dieksploitasi tetapi tidak membawa kemajuan bagi masyarakatnya. Justru, masuk sebagai kawasan termiskin, karena Papua, Papua Barat, Maluku dan NTT hanya bergantian nomor urut kemiskinan.

Engelina menegaskan, kawasan ini membutuhkan satu kebijakan khusus untuk mengubah situasi, sehingga tidak menjadi kawasan miskin permanen. “Kita bisa mengangkat situasi keterpurukan ini, termasuk dengan menjalin kerja sama dengan kawasan Oceania,” tegasnya.

Engelina mengatakan, sangat penting untuk membangun kolaborasi dengan kawasan Oceania, karena memang memiliki karakter wilayah yang sama sebagai kawasan dengan perairan laut, pulau-pulau kecil, dan memiliki kemiripan dalam budaya.

Ia menambahkan, kalau dikaitkan dengan even Pemilu 2024, maka siapapun presiden dan wakil presiden terpilih, harus memiliki mindset atau cara pandang kemaritiman untuk kawasan timur. Sebab, tanpa memiliki solusi dan rencana yang paten mengenai karakter wilayah dan kultur kawasan timur yang berbasis maritim, maka hanya mengulang kekeliruan kebijakan kontinental di kawasan timur.

“Kalau tidak paham kawasan timur, sebaiknya jangan coba-coba jadi capres atau cawapres, karena tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi, kalau hanya mau melanggengkan kekuasaan dan korporasi. Jangan begitu ya, karena persoalan di kawasan timur nyata adanya,” tegas Engelina.

Karakter Bahari
Prof.Dr. Jan Sopahelawakan menjelaskan, selama ini kawasan timur dikelola sama seperti pembangunan kawasan kontinental, sehingga melupakan karakter bahari dari kawasan ini. Menurutnya, orang kontinental akan melihat laut sebagai pemisah, sedangkan orang bahari akan melihat laut sebagai pemersatu. Kultur bahari itu sangat berbeda dengan kultur kontinental, karena masyarakat bahari sangat kental dengan keterbukaan dan saling percaya.

Untuk itu, katanya, keberagaman kebudayaan ini tidak tampak dalam berbagai kebijakan Negara, karena cenderung mengedepankan persatuan yang bisa dimaknai secara sempit sebagai keseragaman. Keberagaman hanya bisa terjadi, jika didukung dengan kebijakan desentralisasi asimetris.

“Kita itu sebenarnya sebagai Negara bahari, bukan Negara kepulauan. Karena ‘wilayah kepulauan’ merupakan sudut pandang orang kontinental,” katanya.

Geolog ini mengatakan, kawasan timur itu memiliki sumber daya yang sangat lengkap. Hampir semua yang dibutuhkan dunia di masa depan ada di kawasan ini. Kawasan timur ini membutuhkan sumber daya manusia (pendidikan), teknologi dan financial untuk bangkit dari keterpurukan.

Jan Sopahelawakan sangat mendorong adanya kolaborasi dengan kawasan Oceania, baik antar individu, lembaga ataupun sosial untuk bersama-sama mengembangkan potensi sesuai dengan karakter wilayah yang ada.

Dia menegaskan, kawasan Oceania akan menjadi hotspot masa depan dunia dan kawasan timur ada di dalamnya.
Sopahelawakan mengatakan, akan sangat riskan kalau pembangunan kawasan timur hanya melihat dari sisi pragmatis politik, karena jumlah penduduk atau pemilih tidak signifikan untuk membangun posisi tawar.

“Kalau hanya melihat jumlah dukungan pemilih untuk membangun, maka situasi akan semakin buruk. Kawasan timur membutuhkan manajemen disaster untuk keluar dari keterpurukan,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Ing. Ignas Iryanto, dengan berbagai kekayaan alam yang di kawasan timur, sebenarnya kawasan ini tidak pantas menjadi kawasan miskin. Hal ini, kata Ignas, menjadi sangat ironi, karena G20 yang digelar di Bali, antara lain, mengusung leave no one behind sebagai salah satu komitmen global untuk memberantas kemiskinan dalam segala bentuknya.

Para peserta G20, jelas Ignas, sebenarnya perlu menyadari bahwa ada satu kawasan di Indonesia yang terpuruk dalam kemiskinan, tetapi memiliki sumber daya alam yang sangat kaya.

“Kalau memang komitmen global itu nyata, semestinya kawasan timur ini tidak boleh ditinggalkan. Tapi, kok dibiarkan dalam kemiskinan,” tukasnya.

Ignas juga menyadari, kalau penguatan kepemimpinan dan kelembagaan di daerah itu sangat penting, karena dalam praktek seringkali ada penyimpangan kewenangan, sehingga hal ini juga menganggu pengembangan potensi daerah. “Misalnya, bagaimana orang berinvestasi tetapi dengan birokrasi yang berbelit-belit,” katanya.

“Sangat penting untuk menjajaki kerjasama dengan kawasan Oceania, karena kawasan timur merupakan satu kawasan dalam gugusan Oceania, tentu memiliki kesamaan dalam keadaan geografis dan kultur,” pungkasnya.

 

 

 

 

Siap dengan Program Energi Bersih
Dosen S2 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Winaya Mukti Bandung Dr. Ishak Tan mengatakan, kawasan timur Indonesia merupakan kawasan yang sangat siap dengan program energi bersih, baik green maupun blue energi.

“Kalau disandingkan dengan agenda global saat ini dan di masa depan, maka sebenarnya kawasan timur yang paling siap dengan program energi bersih, baik green maupun blue energi,” kata Dr. Ishak dalam forum diskusi terbatas dari berbagai elemen di kawasan timur yang diinisiasi Archipelago Solidarity Foundation di Jakarta, Minggu (6/11/2022).

Menurut dia, sebenarnya peserta G20 perlu melihat kawasan timur sebagai model dalam pengembangan energi bersih.

“Dengan wilayah pulau-pulau kecil, serta laut dan berbagai potensi energi bersih, kita memang yang paling siap untuk energi bersih,” tegasnya.

Terkait salah satu agenda G20 mengenai pangan, menurut Ishak, sebenarnya kekhawatiran itu hanya pada negara-negara maju, karena kebutuhan pangan yang terus meningkat. Tetapi, di kawasan timur, agenda ini tidak terlalu relevan karena kawasan timur memiliki keragaman pangan lokal, yang selama ini telah diabaikan.

“Kearifan lokal untuk mengelola pangan dan menjaga kesinambungan itu sudah diajarkan dari turun-temurun. Misalnya, di Maluku, ada yang disebut “sasi” sebagai larangan untuk memanen atau mengambil ikan. Ini bagian untuk menjaga kesinambungan pangan yang diajarkan generasi lalu, tetapi tidak dikembangkan,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Robert Bala mengatakan, dengan potensi alam yang ada sebaiknya untuk mengarahkan semua energi membangun kemampuan atau kapasitas, sehingga energi tidak habis untuk mengajukan tuntutan yang mungkin saja tetap tidak bisa mengubah situasi.

“Tetapi, dengan terus-menerus mengembangkan kemampaun dan potensi, secara perlahan akan mengubah situasi yang ada,” ujarnya.

Mengenai kekhawatiran terhadap krisis pangan, Robert melihat, memang pangan lokal terlalu lama diabaikan dan kembali menarik perhatian setelah persoalan pangan sudah ada di depan mata.

Dia mencontohkan, pangan lokal Sorgum (sorghum bicolor) sangat dikenal hampir di seluruh wilayah NTT sebagai bahan makanan. Tetapi, kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk mengembangkan pangan andalan orang NTT ini.

“Namun, pastor di Flores Timur berusaha untuk mengembangkan tanaman sorgum di beberapa ribu hektar lahan. Hal seperti ini, katanya, perlu terus dikembangkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan,” pungkasnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Cenderawasih, Laus Calvin Rumayom, yang sedang menyelesaikan program doktor mengatakan, memang sangat membutuhkan perhatian serius untuk mengurai tantangan di kawasan timur.

Menurutnya, kawasan timur ini menjadi ajang konflik kebijakan tata ruang. Jadi, tidak mengherankan, ketika ada kebijakan dari satu kementerian bertabrakan dengan kementerian lain atau bahkan saling meniadakan. “Hal-hal seperti itu terjadi dalam praktek,” katanya.

Kebijakan paling mutakhir, katanya, mengenai pemekaran tiga provinsi di Papua, juga membawa masalah lanjutan mengenai kesiapan sumber daya manusia untuk mengisi berbagai posisi sebagai dampak dari keberadaan provinsi baru. “Sekarang masalahnya, bagaimana mengisi personel. Mau ambil darimana?” katanya.

Laus Rumayom mengingatkan, tiga negara besar sudah memasukkan kawasan timur dalam rencana pembangunan mereka untuk 150 tahun ke depan, tentu termasuk dengan rencana anggarannya. Untuk itu, katanya, sangat mengherankan, kalau Indonesia sendiri tidak memiliki rencana yang jelas untuk kawasan timur, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Rencana negara lain, jelasnya, tentu ingin mengambil manfaat dari berbagai potensi kekayaan di kawasan timur.

“Ada tiga negara sudah memasukkan kawasan timur dalam RPJMN mereka untuk 150 tahun ke depan. Termasuk mengenai rencana tambang emas untuk jangka panjang,” katanya.

Menurutnya, kawasan timur harus memperkuat kelembagaan masyarakat asli. Selain memiliki kearifan lokal, juga memiliki daya tawar yang kuat dalam berbagai forum internasional. Sebab, posisi masyarakat asli terhadap berbagai isu lebih menggambarkan situasi nyata daripada sekadar laporan formal.

Laus juga menyoroti dari berbagai forum, dimana isu perempuan dan anak kurang mendapat perhatian, tetapi persoalan ini menjadi tantangan serius di lapangan. Laus mencontohkan, Tana Papua (Papua dan Papua Barat) dan Papua New Guinea. Kedua wilayah ini sama-sama bertumbuh. Tetapi, kalau dibandingkan jumlah penduduk, PNG sudah memiliki Sembilan juta penduduk. Sementara Tanah Papua masih tetap bercokol di angka dua juta. Artinya, patut diduga, angka kematian di Tana Papua lebih tinggi dari PNG. “Saya kira hal-hal seperti ini patut mendapat perhatian,” katanya.(s)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur Dorong Pesantren Naik Kelas, dari Kemandirian Ekonomi hingga Jejaring Global

Published

on

By

JAKARTA, SENTANA – Pesantren kini tidak hanya dituntut berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga semakin didorong untuk memiliki kemandirian ekonomi dan kemampuan membangun jejaring yang lebih luas.

Semangat tersebut menjadi salah satu perhatian Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Jakarta Timur bersama Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Jakarta Timur dalam memperkuat ekosistem pesantren.

Melalui keterangannya, Rabu (12/8), Ketua HEBITREN Jakarta Timur, K.H. Zaenul Muttaqin, SE, M.Pd, Doctor Candidat, mengatakan, penguatan ekonomi pesantren merupakan bagian penting dari upaya membangun pesantren yang mandiri dan berdaya saing.

Menurutnya, potensi ekonomi yang dimiliki pesantren cukup besar. Selain memiliki sumber daya manusia berupa santri dan para pengelola pesantren, lembaga pendidikan tersebut juga memiliki jaringan alumni serta basis masyarakat yang dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan berbagai unit usaha.

“Pesantren memiliki potensi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara profesional sehingga mampu memberikan nilai tambah dan memperkuat kemandirian pesantren,” ujar K.H. Zaenul Muttaqin.

Ia menilai, HEBITREN dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut, terutama dalam hal pengembangan usaha, peningkatan kapasitas pengelola, berbagi pengalaman dan membangun jaringan antarpesantren.

Namun, menurutnya, kemandirian ekonomi tidak semata-mata diukur dari banyaknya unit usaha yang dimiliki pesantren.

“Yang paling penting adalah membangun ekosistem. Ada peningkatan kapasitas SDM, tata kelola yang baik, jaringan usaha dan keberlanjutan. Jadi bukan sekadar memiliki usaha, tetapi bagaimana usaha itu benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat bagi pesantren,” katanya.

Di sisi lain, FKPP Jakarta Timur memiliki posisi strategis dalam memperkuat komunikasi dan sinergi antarpondok pesantren.

Dewan Penasehat HEBITREN Jakarta Timur sekaligus Ketua FKPP Jakarta Timur, K.H. Mahmud Efendy, Lc., MA, mengatakan, pesantren perlu terus memperkuat komunikasi dan kerja sama agar berbagai potensi yang dimiliki tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Pesantren memiliki karakter dan potensi masing-masing. Dengan komunikasi dan kolaborasi, potensi itu bisa saling menguatkan,” ujar K.H. Mahmud.

Ia menambahkan, perkembangan zaman membuat pesantren harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.

Karena itu, penguatan kelembagaan, pendidikan, ekonomi dan jejaring menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan pesantren ke depan.

Sementara itu, Pengurus DPW HEBITREN DKI Jakarta, Gus Adnan Hafizh, S.Pd., M.Pd, menilai, pengembangan ekonomi pesantren juga harus dibarengi dengan peningkatan kompetensi generasi santri.

Menurutnya, santri tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu memiliki keterampilan kewirausahaan, kemampuan berkomunikasi serta wawasan yang lebih luas.

“Santri harus dipersiapkan menghadapi dunia yang terus berubah. Karena itu, pendidikan, kewirausahaan dan jejaring harus berjalan beriringan,” katanya.

Membuka Jejaring ke Dunia Internasional

Upaya memperluas jejaring tersebut, salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur dengan Lembaga Santri Mendunia.

Kolaborasi tersebut dideklarasikan di Kota Songkhla, Thailand, dengan tujuan membuka ruang kerja sama yang lebih luas bagi pesantren dan santri Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, delegasi HEBITREN Jakarta Timur dipimpin K.H. Zaenul Muttaqin, didampingi K.H. Mahmud Efendy dan Gus Adnan Hafizh. Kolaborasi tersebut juga berlangsung atas arahan Ketua Umum DPW HEBITREN DKI Jakarta, Dr. KH. Sofwan Yahya, Lc., MA.

Dari pihak Santri Mendunia, kerja sama tersebut diinisiasi oleh Gus Muhammad Aziz Baedhowi, S.Pd., M.Pd., PhD, yang dalam kesempatan tersebut diwakili Gus Nizom.

K.H. Zaenul Muttaqin mengatakan, jejaring internasional bukan tujuan akhir, melainkan salah satu sarana untuk membuka akses pengetahuan, pengalaman, kerja sama dan peluang baru bagi pesantren serta santri.

“Ketika pesantren mampu membangun jejaring yang lebih luas, peluang untuk belajar dan berkembang juga semakin terbuka. Tetapi yang harus tetap menjadi pijakan adalah nilai-nilai pesantren dan kepentingan untuk memberikan manfaat,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pesantren memiliki ruang yang semakin luas untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dan kerja sama lintas negara.

Bagi HEBITREN dan FKPP Jakarta Timur, penguatan pesantren tidak cukup dilakukan melalui satu bidang saja. Kemandirian ekonomi, kualitas pendidikan, kapasitas sumber daya manusia dan jejaring harus dibangun secara beriringan.

“Dari sinilah pesantren diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga berkembang menjadi lembaga yang mandiri, produktif dan mampu memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat. Dari pesantren membangun kemandirian, dari santri menebar manfaat dan dari Indonesia membuka jalan menuju dunia,” pungkas pria Kelahiran Kota Wali Demak ini. (Red).

Continue Reading

Ekonomi

HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia, Teken MoU Strategis Penguatan Bisnis Pesantren Ekspor-Impor

Published

on

By

PENANDATANGANAN MoU-Datuk K.H. Rudi Mhafud, Ketua PCI Malaysia bersama K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, Ketua HEBITREN Jakarta Timur, saat melakukan Penandatanganan MoU. (Foto Ist).

MALAYSIA, SENTANA – Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Jakarta Timur secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PCI Malaysia sebagai langkah strategis memperkuat jejaring ekonomi pesantren di tingkat internasional. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Datuk K.H. Rudi Mhafud, selaku Ketua PCI Malaysia bersama K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, selaku Ketua HEBITREN Jakarta Timur, Jum’at (7/8).

Momentum bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam membangun diplomasi ekonomi pesantren antara Indonesia dan Malaysia. Di tengah dinamika ekonomi global, pesantren dituntut tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pembinaan akhlak, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing internasional.

Melalui kerja sama ini, kedua lembaga berkomitmen mengembangkan ekosistem bisnis pesantren yang berorientasi pada perdagangan ekspor-impor produk halal, penguatan UMKM pesantren, pengembangan koperasi pesantren, investasi syariah, pertukaran informasi pasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses pasar internasional bagi produk-produk unggulan pesantren.

Melalui keterangannya, Jum’at (7/8), K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd menyampaikan bahwa, kemandirian pesantren pada masa depan harus dibangun melalui sinergi antara pendidikan, teknologi dan ekonomi.

“Pesantren harus menjadi pelopor lahirnya ekonomi umat yang kuat. Santri bukan hanya dipersiapkan menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang amanah, profesional dan mampu membawa produk halal Indonesia menembus pasar dunia. Ekspor-impor adalah bagian dari ikhtiar membangun kemandirian ekonomi yang bernilai ibadah dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ungkapnya.

Sementara itu, Datuk K.H. Rudi Mhafud menegaskan bahwa, Malaysia memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perdagangan halal di Asia Tenggara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan bagi produk-produk pesantren Indonesia untuk memasuki pasar Malaysia dan negara-negara lainnya, sekaligus membuka peluang produk Malaysia masuk ke jaringan pesantren Indonesia secara profesional dan saling menguntungkan.

MoU ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem ekonomi syariah yang berlandaskan nilai kejujuran, keberkahan, keadilan, serta kemaslahatan bersama. Pesantren diharapkan mampu menjadi pusat inovasi ekonomi berbasis nilai-nilai Islam yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia akan menginisiasi berbagai program konkret, di antaranya pelatihan ekspor-impor, pendampingan sertifikasi halal, business matching antar pelaku usaha pesantren, promosi produk unggulan, pengembangan logistik perdagangan, serta pembentukan jaringan bisnis pesantren lintas negara.

Penandatanganan MoU di Kuala Lumpur diharapkan menjadi awal lahirnya kolaborasi yang berkelanjutan dalam memperkuat ekonomi pesantren di kawasan ASEAN. Dengan semangat ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan serumpun Indonesia–Malaysia, HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia optimistis mampu menghadirkan model bisnis pesantren yang modern, mandiri, dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi syariah regional maupun global.

“Kerja sama ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi umat, pencetak wirausahawan berintegritas, serta jembatan diplomasi ekonomi yang membawa keberkahan bagi kedua bangsa,” pungkasnya. (Red).

Continue Reading

Ekonomi

Memasuki HUT ke 51 Indocement Perkuat Langkah Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau dan Gemilang

Published

on

By

Jakarta, Hariansentana.com – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) memperingati HUT ke-51 pada 4 Agustus 2026, di Aula ASIST, Kompleks Pabrik Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat secara hybrid.

Perayaan tahun ini mengusung tema Harmoni dalam Sinergi, Kreatif dalam Inovasi, Gemilang dalam Prestasi yang menggambarkan semangat Indocement untuk terus menguatkan kolaborasi, mendorong terobosan, dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya menyampaikan bahwa perjalanan selama lebih dari setengah abad telah membentuk Indocement menjadi perusahaan bahan bangunan yang tangguh, inovatif, dan terpercaya. Pencapaian tersebut merupakan hasil harmoni dari seluruh karyawan Indocement, dukungan dari pelanggan serta mitra usaha, dan kepercayaan dari pemegang saham, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Lima puluh satu tahun merupakan perjalanan panjang yang dibangun melalui kerja keras, ketangguhan, dan semangat kebersamaan. Dengan menghayati nilai harmoni, kreativitas, dan prestasi, kami yakin Indocement akan semakin relevan serta mampu memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dan Indonesia,” ujar Direktur Utama Indocement.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indocement terus memperkuat portofolio bisnis dan ekosistem pendukungnya. Perusahaan memperkuat bisnis mortar melalui pembentukan PT Mortar Prakarsa Utama, hasil kolaborasi antara anak usaha Indocement dan Saint-Gobain Group. Indocement juga membentuk usaha patungan bersama Mondi Industrial Bags GmbH., yaitu PT Mondi Indo Prakarsa Kemasan, untuk mendukung ketersediaan kemasan yang andal dan menjaga kualitas produk.

Selain itu, pada tahun ini Indocement juga berhasil mendapatkan penghargaan PROPER Emas untuk Kompleks Pabrik Citeureup dan PROPER Hijau untuk Kompleks Pabrik Cirebon dan Kompleks Pabrik Tarjun, hal ini menunjukkan bahwa upaya keberlanjutan dan menjaga lingkungan hidup sudah berada di jalur yang benar.

Transformasi tersebut berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan. Indocement terus memperluas pemanfaatan dan penggunaan refuse-derived fuel (RDF) sebagai salah satu sumber bahan bakar alternatif, memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya di berbagai fasilitas operasional, menggunakan kendaraan listrik untuk operasional pabrik, serta menjalankan beragam inisiatif pengurangan emisi. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi yang berasal dari bahan bakar fosil serta menjadi bagian dari komitmen Indocement terhadap dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan keberlanjutan jangka panjang.

Selain itu, Indocement juga terus melakukan digitalisasi dan adopsi penggunaan artificial intelligence di berbagai lini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam proses produksi dan distribusi produk.

Kondisi pasar semen Indonesia yang masih diwarnai kelebihan kapasitas dan persaingan yang ketat, Indocement terus memperkuat ketangguhan bisnis melalui efisiensi, inovasi, serta penguatan layanan kepada pelanggan. Oleh karena itu, pada semester pertama 2026, Indocement mencatat pertumbuhan volume penjualan semen domestik sebesar +4,9% dari pertumbuhan pasar semen kantong +3,5% dan pasar semen curah +8,6% sehingga pangsa pasar semen Indocement mencapai 28,1%. Kenaikan penjualan tersebut berefek baik kepada kinerja keuangan, Indocement berhasil mencacatkan kenaikan Pendapatan Neto +5,2% dan Marjin EBITDA di angka +18,0% sehingga mencatat Laba Periode Berjalan Rp589,6 miliar atau naik 19,2%.

Memasuki paruh kedua 2026, Indocement tetap optimistis sekaligus waspada terhadap dinamika perekonomian nasional yang masih penuh tantangan internal dan eksternal. Perusahaan akan memprioritaskan efisiensi pada setiap fungsi tanpa mengorbankan kualitas produk, keselamatan kerja, maupun nilai yang diterima pelanggan.

Selain bertumbuh melalui bisnis, Indocement terus memperluas manfaat bagi masyarakat. Beberapa program tersebut adalah program “Bangun Rumah Tukangku”, yang dijalankan bersama para mitra bisnis untuk membantu renovasi rumah tukang bangunan. Program tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada para tukang yang selama ini berkontribusi membangun rumah dan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain itu, terdapat pula program Indocement Peduli yang membantu tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera yaitu berupa pemulihan akses air bersih dan pembangunan ekonomi kreatif di Desa Sekumur, Aceh Tamiang serta pembangunan fasilitas sosial dan sanitasi serta pembangunan jembatan perintis (yang berkolaborasi dengan stakeholder lainnya) di Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah.

Pada peringatan HUT ke-51 ini, Indocement turut memberikan apresiasi kepada para inovator Indocement yang berhasil menang dalam kompetisi Indocement Innovation Awards 2026, serta apresiasi kepada para karyawan yang menjadi jawara di Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), serta Employee of The Year 2026 untuk karyawan yang berhasil memberikan kontribusi bermakna bagi keberhasilan perusahaan. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi karyawan untuk menunjukkan kreativitas, sportivitas, semangat inovasi, dan kebersamaan.

Indocement juga kembali menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam seluruh kegiatan operasional. Perusahaan terus mendorong budaya keselamatan dengan memperkuat kepedulian, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap prosedur agar setiap karyawan, kontraktor, dan mitra kerja dapat bekerja dengan aman serta kembali kepada keluarga dalam keadaan sehat.

“Momentum HUT ke-51 menjadi pengingat bahwa perjalanan Indocement masih panjang. Dengan sinergi yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, komitmen terhadap keberlanjutan serta kepedulian sosial yang konsisten, kami optimis Indocement akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih gemilang, sekaligus berkontribusi dalam mengakselerasi pembangunan Indonesia,” tutup Christian Kartawijaya.

Untuk di ketahui.

Indocement adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia yang memproduksi Semen Tiga Roda, Semen Rajawali, Mortar Tiga Roda, dan Semen Grobogan. Saat ini Indocement dan entitas anaknya bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan semen (sebagai usaha inti) dan beton siap-pakai, serta tambang agregat dan trass, dengan jumlah karyawan sekitar 4.100 orang. Indocement mengoperasikan 14 pabrik milik sendiri serta dua pabrik dan satu grinding mill dengan sistem sewa dengan total kapasitas produksi tahunan sebesar 33,5 juta ton semen. Sepuluh pabrik berlokasi di Kompleks Pabrik Citeureup, Bogor, Jawa Barat; dua pabrik di Kompleks Pabrik Cirebon, Cirebon, Jawa Barat; dan satu pabrik di Kompleks Pabrik Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan; satu pabrik di Grobogan, Jawa Tengah; dua pabrik di Maros, Sulawesi Selatan, dan satu grinding mill di Banyuwangi, Jawa Timur.

Pada 2022, Indocement telah mengoperasikan Pabrik Maros setelah menandatangani Perjanjian Sewa Pakai Aset dengan PT Semen Bosowa Maros dan PT Bosowa Corporindo. Heidelberg Memasuki HUT ke 51 Materials AG telah menjadi pemegang saham mayoritas Indocement sejak 2001…. (Ron)

Continue Reading
Advertisement

Trending