Pendidikan
MagnaMinds Himpun 109 Peserta dari 31 Institusi dalam Workshop Pendidikan Inklusif dan Neurodiversitas di Manado
MANADO, HARIANSENTANA.COM – Sebanyak 109 peserta dari 31 institusi menghadiri workshop Neurodiversity as a Strength: Strengthening Collaboration in Inclusive Education yang diselenggarakan oleh MagnaMinds di Manado, Sulawesi Utara
Kegiatan yang dibuka oleh Wali Kota Manado, Andrei Angouw ini, mempertemukan perwakilan Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, guru, psikolog, terapis, kepala sekolah, pengelola sekolah inklusi, mahasiswa, orang tua, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki perhatian terhadap pendidikan inklusif dan neurodiversitas.
Dalam sambutannya, Wali Kota Manado, Andrei Angouw. menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa. “Kekayaan sebuah negara adalah sumber daya manusianya. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua,” ujar Andrei Angouw.
Kehadiran berbagai institusi dalam kegiatan ini mencerminkan meningkatnya perhatian dan kebutuhan akan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mengakomodasi beragam kebutuhan belajar. Selain menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan, workshop juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik, orang tua, tenaga kesehatan, dan praktisi untuk bertukar pengalaman dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan perkembangan yang berbeda.
Workshop menghadirkan Anita Chandra, M.Psi., Psikolog, SAP, dari Agents of Behavior Change (ABC) serta Margaretha T. Kuera, M.Psi., Psikolog, yang memiliki pengalaman sebagai psikolog klinis, praktisi CBT, dan konsultan pendidikan kesehatan mental.
Dalam pemaparannya, Anita Chandra menyoroti semakin pentingnya pendidikan inklusif seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap berbagai kebutuhan perkembangan dan gaya belajar anak.
“Ketika kita berbicara mengenai inklusivitas di masa depan, jumlah anak dengan kebutuhan khusus terus meningkat. Karena itu, inklusivitas tidak bisa diabaikan dan harus dipersiapkan dengan baik. Kegiatan seperti ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang neurodiversitas dan bagaimana mendukung anak agar dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.
Menurut Anita, pemahaman terhadap neurodiversitas merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan yang lebih inklusif. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat melihat perbedaan cara berpikir dan belajar sebagai bagian dari keberagaman manusia yang patut dihargai dan didukung.
Sementara itu, Margaretha T. Kuera, M.Psi., Psikolog, menyoroti pentingnya membangun sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak.
Margaretha menggarisbawahi bahwa “keberagaman adalah fakta, keadilan adalah pilihan, inklusi adalah aksi, dan hasilnya adalah perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat.”
Dari materi yang diberikan oleh kedua pembicara, para peserta workshop merasa bahwa wawasan mereka tentang pendidikan khusus dan inklusi semakin kaya.
Salah satu peserta, Fatihah Masloman, seorang mahasiswi dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon, mengatakan bahwa “Sebagai mahasiswa psikologi, kami mendapat banyak ilmu baru. Acara ini bukan hanya sekadar untuk bertukar pikiran, tetapi kami juga mendapat banyak relasi baru dan tentunya wawasan kami di dunia pendidikan inklusi menjadi lebih luas.
Sebagai kaum muda, saya juga terinspirasi untuk mengajak pemuda-pemudi lainnya berpartisipasi dan berkontribusi aktif dalam inklusivitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.”
Sementara itu, peserta lainnya, Lini Mondigir, ketua Sekolah Inklusi Amadeus, menekankan bahwa setiap anak memiliki kekuatan dan kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing.
“Anak-anak itu berbeda, tetapi berbeda bukan berarti kurang. Mereka memiliki cara bertumbuh dan belajar yang berbeda. Sekolah inklusi harus mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut melalui program pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya.
Menurut Lini, salah satu poin penting yang terungkap dalam workshop adalah perlunya program pembelajaran yang lebih individual dan fleksibel agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensinya.
Salah satu peserta dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus, Merry Christian Wuisan, mengatakan, “Sebagai pegawai dinas pendidikan, saya merasa sangat termotivasi untuk lebih menggalakkan pendidikan inklusi. Mari kita bersama-sama dengan pemerintah pusat mengelola sekolah yang menerima dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, serta berkolaborasi dengan baik agar anak-anak ini dapat memperoleh hak dan kewajiban yang setara dengan anak-anak di sekolah reguler.”
Dalam sesi diskusi, para peserta juga menyoroti pentingnya memperkuat kolaborasi antara sekolah inklusi dan pusat terapi. Para peserta menilai bahwa kemitraan yang lebih erat antara pendidik, terapis, psikolog, dan orang tua dapat membantu memastikan anak mendapatkan dukungan yang konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Para narasumber juga menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini pada anak dengan kebutuhan perkembangan khusus. Semakin cepat kebutuhan perkembangan seorang anak dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan dukungan, terapi, dan intervensi yang tepat sehingga anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Banyak peserta menyampaikan bahwa Sulawesi Utara membutuhkan lebih banyak pelatihan, forum berbagi praktik baik, dan ruang kolaborasi seperti ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas dan pendidikan inklusif.

MagnaMinds didirikan 1 tahun yang lalu oleh Ryan Winston Angouw, seorang remaja yang peduli terhadap isu neurodiversitas dan pendidikan inklusif. Menurut Ryan, workshop ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis mengenai pendekatan inklusif, strategi komunikasi, serta adaptasi lingkungan yang mendukung individu neurodivergen, termasuk mereka yang hidup dengan autisme, ADHD, maupun disleksia.
“Kami berharap setiap peserta pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan inklusivitas di lingkungan masing-masing. Guru, terapis, psikolog, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan mendukung bagi individu neurodivergen,” ujar Ryan.
Selain workshop, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran buku Panduan Praktis Neurodiversitas yang ditulis oleh Ryan Winston Angouw dan dibagikan secara gratis kepada para peserta.
Dalam kata pengantarnya, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), Subsp.Neuro(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak dan Konsultan Saraf Anak, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Ryan terhadap anak-anak dengan autisme dan berbagai gangguan perkembangan lainnya.
Menurut Prof. Hardiono, di usia 15 tahun, Ryan telah menunjukkan keberanian untuk belajar, mendengarkan pengalaman keluarga, terlibat dalam kegiatan sosial, serta berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia menilai bahwa keputusan Ryan untuk mempelajari kebutuhan anak-anak dengan gangguan perkembangan dan menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah buku merupakan sebuah usaha yang sungguh mengagumkan.
Salah satu benang merah yang muncul sepanjang workshop adalah bahwa keberhasilan pendidikan dan perkembangan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau keluarga semata, melainkan juga oleh ekosistem pendukung di sekitarnya. Kolaborasi antara orang tua, guru, terapis, psikolog, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membantu setiap anak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.
Dalam konteks pendidikan inklusif, penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki potensi, cara berpikir, dan kekuatan yang unik. Terkadang yang kita anggap sebagai keterbatasan hanyalah kemampuan yang belum sepenuhnya kita pahami. Karena itu, tugas kita bukan hanya memberikan dukungan yang mereka butuhkan, tetapi juga membuka ruang agar potensi mereka dapat berkembang dan memberi makna bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, MagnaMinds berharap dapat terus menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun pemahaman yang lebih baik tentang neurodiversitas. Sejalan dengan filosofi “Not All Great Minds Think Alike,” yang artinya tidak semua orang hebat berpikir dengan cara yang sama, MagnaMinds meyakini bahwa keberagaman cara berpikir, belajar, dan berkembang merupakan kekuatan yang perlu dipahami, dihargai, dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. (***)
Pendidikan
Publikasi Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor 2026
Kepala Dinas,Dr. RUSLIANDY, S.STP., M.Si., M.E.
Gambaran Umum.

Gambaran Capaian Organaisasi Tahun 2026
Bogor, Sentana – Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor kembali mencatatkan capaian positif dalam penguatan integritas dan tata kelola penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor berhasil memperoleh nilai 75,46 dengan kategori “Adaptif”.
Capaian tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan hasil SPI Pendidikan Tahun 2024, di mana Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor memperoleh nilai 71,46 dengan kategori “Integritas Korektif”. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 4,00 poin dalam kurun waktu dua tahun.
Tidak hanya mengalami peningkatan secara internal, capaian SPI Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2026 juga berhasil melampaui indeks nasional yang berada pada angka 73,30. Dengan nilai 75,46, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor berada 2,16 poin di atas indeks nasional, menjadi indikator positif atas berbagai upaya penguatan integritas yang telah dilakukan.

(Capaian hasil SPI Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2026)
Program Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS)
Dalam rangka menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) pada jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta pendidikan kesetaraan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor melaksanakan berbagai upaya secara terintegrasi dan berkelanjutan. Penanganan ATS dilakukan melalui pendekatan berbasis data, koordinasi lintas sektor, serta penjaringan langsung di lingkungan masyarakat.
Tahap awal dilakukan melalui identifikasi dan verifikasi data ATS pada portal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang melibatkan satuan pendidikan di seluruh Kabupaten Bogor. Data tersebut menjadi dasar untuk memastikan ketepatan sasaran, mengetahui kondisi dan keberadaan ATS, serta memetakan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selanjutnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor melakukan kolaborasi dengan perangkat daerah terkait, kecamatan, desa/kelurahan, hingga RT dan RW untuk melaksanakan penjaringan dan gerakan “Kembali ke Sekolah” secara door to door. Melalui pendekatan ini, keberadaan ATS dapat ditelusuri secara langsung sekaligus menggali berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah, sehingga dapat ditentukan alternatif penanganan yang sesuai.
Upaya tersebut diperkuat melalui visitasi langsung ke satuan pendidikan dan wilayah yang teridentifikasi memiliki jumlah ATS relatif tinggi. Visitasi dilakukan untuk melakukan verifikasi lapangan, koordinasi dengan pihak sekolah dan pemangku kepentingan setempat, serta mendorong tersedianya solusi agar anak dapat kembali memperoleh layanan pendidikan.
Sebagai salah satu alternatif bagi ATS yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor juga mencanangkan Program “Kembali ke Sekolah” melalui jalur pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, Paket B, dan Paket C yang diselenggarakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Program ini dikembangkan di 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor, sehingga memberikan kesempatan yang lebih luas kepada ATS untuk memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Dengan berbagai langkah tersebut, penanganan ATS di Kabupaten Bogor diarahkan tidak hanya pada pendataan, tetapi juga pada verifikasi, penjangkauan, pendampingan, dan pengembalian anak ke layanan pendidikan, baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan. Sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan gerakan bersama “Kembali ke Sekolah” dan memastikan setiap anak di Kabupaten Bogor mendapatkan hak atas pendidikan.

(Kepala Dinas Pendidikan (Tengah) memimpin rapat koordinasi program pengentasan ATS Tingkat kecamatan)
Program Beasiswa S1 Bagi Tenaga Pendidik Paud
Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya pada sektor tenaga pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pendidikan mencanangkan Program Beasiswa Pendidikan S1 bagi 300 Guru PAUD pada Tahun 2026.
Program ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor dalam meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalisme tenaga pendidik PAUD.
Melalui kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 1 (S1), para guru PAUD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, kompetensi, serta kemampuan dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini.
Dalam pelaksanaannya, program beasiswa ini bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) sebagai mitra perguruan tinggi. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi para guru PAUD, sekaligus mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan layanan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Bogor.
Dengan adanya program ini, diharapkan 300 guru PAUD penerima beasiswa dapat meningkatkan kualifikasi akademiknya hingga jenjang S1 dan selanjutnya mampu mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh dalam proses pembelajaran.
Peningkatan kualitas tenaga pendidik tersebut pada akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap terwujudnya layanan PAUD yang semakin profesional, berkualitas, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak.

(Pengarahan Pertama Masa Orientasi Bagi Mahasiswa Beasiswa SI Paud Kab Bogor)
Pemberian Insentif Bagi Guru Paud
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik sekaligus mendorong peningkatan mutu dan kualitas pembelajaran pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pendidikan terus memberikan perhatian dan dukungan kepada para Guru PAUD melalui Program Pemberian Insentif Guru PAUD.
Program ini merupakan salah satu bentuk komitmen Bupati Bogor dalam mendukung keberadaan dan peran strategis Guru PAUD sebagai garda terdepan dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Peningkatan kesejahteraan diharapkan dapat memberikan motivasi kepada para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kualitas layanan pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik.
Pada Tahun 2026, program ini diberikan kepada 7.200 Guru Paud Di Kabupaten Bogor sebagai penerima insentif. Setiap penerima memperoleh bantuan insentif sebesar Rp2.400.000 per orang per tahun, yang disalurkan langsung melalui rekening masing-masing penerima.
Penyaluran insentif dilakukan setiap enam bulan sekali, dengan besaran Rp1.200.000 untuk setiap periode penyaluran. Mekanisme penyaluran secara langsung melalui rekening penerima diharapkan dapat memberikan kemudahan, transparansi, serta memastikan bantuan dapat diterima secara tepat sasaran.

(Jajaran Bidang Pembinaan Paud Dikmas Disdik Kab Bogor, berfoto bersama para calon penerima program Insentif Guru Paud Tahun 2026)
Program Beasiswa Bagi Murid SMP Swasta Di Kabupaten Bogor
Dalam upaya meningkatkan pemerataan akses dan kualitas pendidikan bagi seluruh masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pendidikan menghadirkan Program Beasiswa bagi Murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta. Program ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Daerah dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak, berkualitas, dan berkelanjutan tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, program beasiswa ini menyasar sebanyak 8.015 peserta didik yang menempuh pendidikan pada jenjang SMP di 256 SMP Swasta yang telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor.
Program ini diprioritaskan bagi peserta didik yang berasal dari keluarga yang telah terdata dalam kelompok Desil 1 sampai dengan Desil 5, sebagai kelompok masyarakat yang menjadi sasaran prioritas dalam pemberian bantuan pendidikan.
Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan dukungan pembiayaan berupa pembebasan biaya operasional layanan pendidikan bagi peserta didik penerima beasiswa selama mereka menempuh pendidikan di sekolah yang telah bekerja sama dalam program tersebut.
Dengan adanya program ini, diharapkan tidak ada lagi peserta didik yang harus menghadapi hambatan dalam melanjutkan pendidikan hanya karena keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga. Selain meringankan beban orang tua atau wali peserta didik, program beasiswa ini juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Bogor dalam menekan angka putus sekolah, meningkatkan angka partisipasi pendidikan, serta memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas.
Pemerintah Kabupaten Bogor terus mendorong sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan swasta, orang tua, dan masyarakat agar program ini dapat terlaksana secara tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
Melalui dukungan pembiayaan pendidikan tersebut, diharapkan para murid dapat belajar dengan lebih tenang, fokus mengembangkan potensi diri, serta memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih prestasi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

(Kepala Dinas Pendidikan (Kiri) didampingi Kepala Bidang Pembinaan SMP (Kanan) sedang berfoto bersama siswa penerima program beasiswa)

(Ron)
Pendidikan
Bedah Buku “NGAJI SUGIH”, Mengajak Masyarakat Menemukan Kekayaan Dari Dalam Diri
BEDAH BUKU-Dr. Suyanto, CFP bersama Bunda Anita menerima Buku usai acara Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI. (Foto Ist).
BANJARMASIN, SENTANA – Ada yang berbeda di Wisma Hijau Intira, Banjarmasin. Sebuah forum literasi tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan isi buku, tetapi berkembang menjadi perjumpaan antara budaya, spiritualitas, pengalaman hidup dan semangat membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI berlangsung hangat dan inspiratif dengan dihadiri 99 peserta secara langsung, menghadirkan perpaduan literasi, budaya, refleksi spiritual, hingga praktik terapi Quantum Touch, Senin (7/9). Acara juga disiarkan secara daring dan disaksikan lebih dari 1.000 peserta dari jaringan MAHANTIRA, serta masyarakat umum.
Mengusung semangat “Ngaji Sugih, Hidup Berkah, Masa Depan Lebih Cerah”, kegiatan ini membawa pesan bahwa makna “sugih” atau kaya tidak semata-mata berbicara mengenai kelimpahan materi.
Lebih jauh, kekayaan juga menyangkut kejernihan pikiran, ketenangan batin, keluasan rasa syukur, hubungan yang baik dengan sesama, serta kebermanfaatan hidup.
Dibuka Musik Panting, Budaya Menjadi Pintu Masuk Refleksi
Acara diawali dengan penampilan Musik Panting Nusantara (MUPANTARA) pimpinan Dr. Suyanto, CFP, yang membawakan lagu Baras Kuning dan Lir-Ilir.
Penampilan tersebut tidak berhenti sebagai hiburan pembuka. Lagu-lagu yang dibawakan turut diulas dari perspektif nilai dan makna spiritual, sehingga musik tradisional menjadi medium untuk mengajak peserta melakukan refleksi. Lir-Ilir, misalnya, dimaknai sebagai pesan tentang kesadaran untuk “bangun” dan memperbaiki diri. Manusia tidak cukup hanya menjalani kehidupan secara fisik, tetapi juga perlu terus menghidupkan kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan bekal kebaikan.

BEDAH BUKU-Dr. Suyanto, CFP bersama Bunda Anita menerima Buku usai acara Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI. (Foto Ist).
Sementara nuansa Banjar melalui Baras Kuning menghadirkan kedekatan acara dengan akar budaya lokal. Perpaduan tersebut seakan menegaskan bahwa kearifan tradisi tetap relevan untuk menjadi pintu masuk pembelajaran kehidupan di tengah masyarakat modern.
Soraya: Ketika Ada Masalah, Belajarlah Bertanya ke Dalam
Acara dipandu oleh Gusti Fadhila Maulida, Direktur MAHANTIRA, perusahaan yang bergerak di bidang digital marketing profesional dan telah memiliki jaringan lebih dari 620 seller di Indonesia.
Soraya hadir sebagai narasumber utama, didampingi Bunda Anita dan Dr. Suyanto, CFP, sebagai sahabat dalam perjalanan perjuangan dan pembelajaran.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika Soraya mengungkap perjalanan pemikiran di balik lahirnya judul “Ngaji Sugih”. Menurutnya, manusia sering mencari jawaban terlalu jauh ketika menghadapi persoalan, padahal ada satu ruang yang kerap terlupakan: diri sendiri.
“Banyak orang kalau terjadi masalah dan stres selalu bertanya ke luar dirinya, dan sering kali tidak ada jalan keluarnya. Kita lupa bertanya ke ‘dalam’ diri. Padahal hukum semesta mengatakan, apa yang terjadi di ‘dalam’, itu yang terjadi di luar,” kata Soraya.
Soraya yang juga dikenal sebagai praktisi Terapi Quantum Touch, kemudian menekankan empat hal sederhana namun mendasar dalam menjalani kehidupan. “Sadar, sabar, syukur dan perbanyak menabung kebaikan adalah kunci utamanya,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam bedah buku. “Sugih” tidak ditempatkan sebatas sebagai tujuan finansial, melainkan sebagai kondisi ketika seseorang mampu mengelola dirinya, mensyukuri kehidupan, bertumbuh dari persoalan, serta terus meninggalkan jejak kebaikan.
“Menabung Kebaikan”, sebagai Investasi Kehidupan
Gagasan tentang menabung kebaikan mendapat perhatian tersendiri. Dalam konteks Ngaji Sugih, kebaikan dipandang sebagai investasi kehidupan yang tidak selalu menghasilkan balasan secara langsung maupun dalam bentuk materi.
Membantu orang lain, berbagi ilmu, menjaga perkataan, memudahkan urusan sesama hingga menghadirkan manfaat sekecil apa pun merupakan bentuk “tabungan” yang nilainya dapat kembali melalui jalan yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, buku “Ngaji Sugih” membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih mendasar: sebelum sibuk mengubah dunia di luar diri, sudahkah manusia memahami dan membenahi apa yang ada di dalam dirinya?
Pertanyaan itulah yang membuat diskusi berkembang bukan sekadar menjadi bedah buku, tetapi menjadi ruang refleksi bersama.
Dari Spiritualitas Menuju Pemberdayaan Ekonomi
Menariknya, acara juga menghubungkan pembahasan spiritual dengan kehidupan ekonomi masyarakat masa kini.
Dalam penutupan acara, Gusti Fadhila Maulida mengajak peserta membangun lingkungan yang produktif dan positif. Menurutnya, kualitas lingkungan dan komunitas dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bertumbuh dan mengambil peluang.
“Secara energi manusia saling terhubung, yang sejenis akan menarik yang sejenis, like attracts like. Jika Anda ingin mempunyai penghasilan tambahan dan berkumpul dengan orang-orang yang bervibrasi positif, bergabunglah di MAHANTIRA,” kata Gusti Fadhila Maulida.
Pesan tersebut sekaligus mempertemukan dua dimensi yang menjadi warna acara: penguatan dari dalam diri dan keberanian mengambil langkah nyata dalam kehidupan.
Ditutup “Sangu Batolak” dan Praktik Quantum Touch
Menjelang akhir kegiatan, MUPANTARA kembali menghadirkan musik tradisional dengan membawakan lagu “Sangu Batolak”.
Lagu tersebut menjadi penutup yang selaras dengan keseluruhan perjalanan acara. Setelah berbicara tentang kesadaran, kesabaran, rasa syukur, kebaikan dan kebermanfaatan, peserta seolah diingatkan bahwa kehidupan pada akhirnya merupakan sebuah perjalanan dan setiap perjalanan memerlukan “sangu” atau bekal.
Bukan hanya bekal materi, tetapi juga ilmu, karakter, kebaikan dan nilai-nilai yang dapat dibawa sepanjang kehidupan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik Terapi Quantum Touch kepada sembilan peserta, yang menjadi pengalaman langsung sekaligus penutup rangkaian bedah buku. Dari musik panting hingga diskusi buku, dari refleksi ke dalam diri hingga pemberdayaan ekonomi, acara “Ngaji Sugih” meninggalkan satu pesan sederhana: manusia boleh memiliki cita-cita untuk hidup berkecukupan, tetapi perjalanan menuju keberlimpahan selayaknya tidak membuatnya kehilangan kesadaran, rasa syukur dan kebermanfaatan bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, ukuran “sugih” barangkali bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga berapa banyak kebaikan yang berhasil ditinggalkan. Seperti semangat yang mengiringi akhir kegiatan.
Sadar dalam menjalani. Sabar dalam berproses. Syukur dalam menerima. Dan jangan pernah berhenti menabung kebaikan.
Begitulah adanya, begitulah kenyataannya. SEMPURNA.
(Red).
Pendidikan
Pondok Pesantren Qurrota A’yun Go Internasional, Jalin Kerja Sama Strategis dengan PCI Malaysia
FOTO BERSAMA-K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, Ketua HEBITREN Jakarta Timur bersama rombongan, foto bersama usai melakukan kunjungan ke PCI Malaysia. (Foto Ist).
MALAYSIA, SENTANA – Pondok Pesantren Qurrota A’yun Jakarta, terus meneguhkan langkah menuju pesantren berkelas dunia melalui kerja sama strategis dengan PCI (Pimpinan Cabang Istimewa) Malaysia yang dipimpin oleh Datuk K.H. Rudi Mahfudz. Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring pendidikan, dakwah, ekonomi dan pemberdayaan umat di kawasan ASEAN, Jum’at (7/8).

PENANDATANGANAN MoU-Datuk K.H. Rudi Mhafud, Ketua PCI Malaysia bersama K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, Ketua HEBITREN Jakarta Timur, saat melakukan Penandatanganan MoU. (Foto Ist).
Kerja sama tersebut merupakan bagian dari visi besar Roadmap Qurrota A’yun 2030, yaitu membangun pesantren yang unggul dalam ilmu keislaman, berkarakter, menguasai teknologi, memiliki wawasan global, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi peradaban Islam dan kemajuan bangsa.
Melalui keterangannya, Jum’at (7/8), Pengasuh Pondok Pesantren Qurrota A’yun, K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd, menyampaikan bahwa, era globalisasi menuntut pesantren untuk mampu membangun kolaborasi lintas negara tanpa meninggalkan jati diri sebagai lembaga pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Pesantren tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan dunia. Pesantren harus hadir sebagai pusat lahirnya generasi berakhlak mulia, berwawasan internasional, menguasai bahasa, teknologi, kewirausahaan dan siap membangun peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya.

Menurutnya, melalui kerja sama dengan PCI Malaysia, Pondok Pesantren Qurrota A’yun akan mengembangkan berbagai program strategis, antara lain pertukaran wawasan pendidikan pesantren, peningkatan kompetensi guru dan santri, penguatan dakwah internasional, pengembangan ekonomi pesantren, bisnis halal, ekspor-impor produk unggulan pesantren, hingga pengembangan jejaring investasi dan kewirausahaan berbasis syariah.
Sementara itu, Datuk K.H. Rudi Mahfudz, menyambut baik sinergi ini sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah antara Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan global melalui inovasi, ekonomi dan pendidikan.
“Kerja sama ini diharapkan menjadi awal lahirnya berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Selain memperkuat hubungan antarlembaga, sinergi ini juga membuka peluang bagi santri untuk memiliki pengalaman internasional, memperluas jejaring keilmuan, serta mengenal praktik terbaik dalam pengelolaan pendidikan, ekonomi, dan dakwah di tingkat regional,” ujarnya.
Dengan semangat “Think Globally, Act Locally, and Serve Universally”, Pondok Pesantren Qurrota A’yun optimistis mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga menjadi inovator, entrepreneur, pendidik dan pemimpin yang mampu bersaing di tingkat global.
Langkah menuju “Qurrota A’yun Go Internasional”, bukan sekadar slogan, melainkan ikhtiar nyata untuk menjadikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam modern yang mengintegrasikan keunggulan tahfiz Al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), kewirausahaan, serta diplomasi pendidikan internasional.
“Melalui kolaborasi dengan PCI Malaysia, diharapkan akan lahir generasi santri yang siap menjadi duta Islam yang moderat, berilmu, mandiri, dan mampu membangun peradaban yang membawa kemaslahatan bagi umat di tingkat regional maupun global,” pungkas Zaenul. (Red).
-
Nasional5 days agoMusim Tanam Mundur, Suwendra Wanti-Wanti Harga Beras Naik Jelang Lebaran
-
Daerah7 days agoOmbudsman Temukan Pengungsian NTT Tak Layak, Matindas Desak Tenda Darurat Penuhi Standar
-
Polhukam3 days agoLSM PRB Soroti Jembatan Penyebrangan Orang ( JPO ) di Depan Pengadilan Cibinong, Dinilai Tidak Tepat Sasaran dan Pemborosan Anggaran
-
Travelling5 days agoSAHID Hotels & Resorts Kerja Sama dengan PT Cipta Sinergi Berkarya Sejahtera, Hadirkan De Auraya Villas Managed by SAHID Pangandaran

