Kesehatan
Atasi Masalah Sampah & Jaga Kelestarian Lingkungan, BRI Peduli “Yok Kita Gas’’ Berhasil Dijalankan di 40 Kota
Jakarta, Hariansentana.com — BRI melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (Corporate Social Responsibility/CSR) terus melakukan berbagai inisiatif dalam mengatasi persoalan sampah melalui program-program yang secara nyata dapat membantu mengatasi masalah sampah di berbagai wilayah di Indonesia.
Sejak digulirkan pada tahun 2021, program BRI Peduli “Yok Kita Gas” telah dilaksanakan di 41 (empat puluh satu) lokasi di Indonesia yang terdiri dari 5 (lima) lokasi di Pasar Tradisional dan 36 (tiga puluh enam) lokasi di lingkungan masyarakat.
Melalui keterangannya di Jakarta, Jum’at (23/2), Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto mengungkapkan bahwa, BRI “Peduli Yok Kita Gas” secara nyata telah memberikan dampak bagi masyarakat di berbagai wilayah baik dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan.
Hal ini sejalan dengan komitmen BRI mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang tersirat pada Pilar Pembangunan Sosial, Pilar Pembangunan Ekonomi dan Pilar Pembangunan Lingkungan.
Masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia terutama di wilayah padat pemukiman atau wilayah kota mendapatkan manfaat dari program ini antara lain mendapatkan wawasan tentang kondisi pengelolaan sampah, mendapatkan keterampilan dalam memilah sampah dari rumah, sehingga mampu mengatasi persoalan sampah dari rumah tangga.
Dari sisi sosial, masyarakat mendapatkan edukasi tentang pengelolan sampah dan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan pengelolaan sampah, pelatihan pembuatan laporan, pelatihan pembukuan, pelatihan management SDM dan pemakaian alat-alat pengelolaan sampah.
Selain itu, sebanyak 3.065 pedagang pasar di berbagai wilayah tercatat telah mengikuti sosialisasi tentang bank sampah dan pengelolaan sampah di pasar.
Dari sisi lingkungan, BRI “Peduli Yok Kita Gas” memeberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah baik organik maupun anorganik, dimana sampah yang terkumpul tersebut dipilih dan dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik dapat diolah lagi menjadi barang-barang bernilai ekonomis.
Dalam mendukung pengelolaan sampah tersebut, BRI telah menyalurkan 173 unit bak maggot komunal dan 50 unit kandang Black Soldier Fly (BSF).
“Hasilnya hingga saat ini sudah terkumpul 236.153 kg sampah organik dan 471.323 kg sampah anorganik di bank sampah. Selain itu juga tercatat sebanyak 6.921,5 kg maggot terjual dan juga sebanyak 34.739.868 Kg CO2e karbon tereduksi melalui bank sampah,” ungkap Catur.
Lebih lanjut dari sisi ekonomi, Gerakan Anti Sampah “Yok Kita Gas” berhasil mengubah cara pandang masyarakat tentang mengubah sampah jadi uang. Sampah anorganik akan dicacah menggunakan alat pencacah sampah yang disediakan BRI bagi masyarakat. Setelah sampah dicacah, sampah pun dijual kepada pengumpul sampah dan masyarakat pun memperoleh pendapatan.
Hasilnya, tercatat total tabungan masyarakat yang melakukan penukaran sampah jadi duit di bank sampah sebanyak Rp104.420.916 dengan jumlah nasabah bank sampah yang terdaftar sebanyak 8.699 nasabah.
Upaya Nyata Mengatasi Perubahan Iklim, Catur menjelaskan, BRI Peduli “Yok Kita Gas” merupakan program pengelolaan sampah terpadu yang mengoptimalkan lahan dan sumber daya yang dimiliki secara berkelanjutan.
Pada akhirnya gerakan ini dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, mendorong terciptanya energi bersih dan terjangkau, serta membantu penanganan perubahan iklim.
“Sampah yang dibuang diharapkan dapat dikelola dan dimanfaatkan menjadi energi listrik, didaur ulang menjadi industri kertas, dimanfaatkan untuk campuran aspal, bahan baku plastik atau untuk jenis organik, bisa dikelola menjadi kompos atau sumber energi listrik,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, BRI Peduli “Yok Kita Gas” diimplementasikan dalam dua bentuk yaitu melalui “Yok Kita Gas” di Pasar Tradisional dan di lingkungan masyarakat (Stand Alone Location).
Untuk implementasi di lingkungan masyarakat, pelaksanaan program dilakukan di lokasi Bank Sampah atau Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang telah dikelola oleh masyarakat yang berlokasi padat penduduk baik di Kota/Desa.
Khusus pasar tradisional, program ini telah dilakukan di 5 (lima) Pasar Tradisional yang memiliki peringkat terbaik dalam program pasar.id yang berlokasi di kota Bandung, Semarang, Surabaya, Malang dan Denpasar.
“Kami menyadari bahwa Pasar merupakan salah satu sarana publik tempat berlangsungnya aktivitas ekonomi masyarakat, dimana aktivitas di Pasar menimbulkan sampah setiap hari. Oleh Karena itu, kami mengajak pedagang maupun masyarakat yang beraktivitas di pasar untuk menjaga kebersihan pasar di mana sampah yang dihasilkan dapat dipilah dan diolah dengan tepat,” pungkas Catur. (Red).
Kesehatan
Kasus ISPA Tembus 174 Ribu Akibat Karhutla, DPR Desak Pemerintah Bertindak
Lonjakan ISPA akibat karhutla mendapat sorotan dari Obet Rumbruren, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Data Kementerian Kesehatan periode pertengahan Agustus hingga 21 September 2026 jadi acuannya: 174.694 kasus ISPA di wilayah terdampak, 40.363 di antaranya balita, tersebar di tujuh provinsi prioritas, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur.
Obet menyebutnya sinyal darurat kesehatan masyarakat, khususnya generasi muda. Angka 40 ribu balita terpapar asap beracun, katanya, adalah peringatan keras bahwa karhutla sudah jadi krisis kedaruratan kesehatan anak. “Jika kita gagal melindungi mereka hari ini, kita sedang menggadaikan masa depan bangsa,” ujarnya.
Legislator Dapil Papua Barat ini merinci bahaya polutan asap karhutla bagi organ pernapasan: batuk, sesak napas, pilek, iritasi mata, sampai risiko memperburuk kondisi pernapasan jangka panjang.
Tiga desakan Obet ke pemerintah:
Penguatan respons darurat lewat mobilisasi tenaga medis, ambulan, dan ruang perawatan intensif anak dengan penanganan cepat dan tepat, plus perbanyak pos kesehatan dan jamin stok obat-obatan, tabung oksigen, serta masker standar di wilayah terdampak. Pemantauan kualitas udara secara berkala untuk penanganan yang terukur. Penegakan hukum di hulu, menindak tegas pelaku pembakaran lahan agar bencana ekologis ini berhenti berulang tiap tahun.
Obet menutup: “Kesehatan rakyat, utamanya anak-anak, adalah prioritas paling utama dan investasi masa depan bangsa. Melindungi mereka dari dampak karhutla adalah kewajiban moral sekaligus konstitusional negara.”
Kesehatan
Indonesia Bersiap Miliki Standar Nasional Smart Hospital: RSNI3 Disetujui Secara Konsensus
Prof. Dr. Eko Supriyanto. (Foto Doc. Pribadi).
JAKARTA, SENTANA — Indonesia mencatatkan langkah penting dalam modernisasi infrastruktur dan manajemen pelayanan kesehatan nasional. Hal ini ditandai dengan disetujuinya draf Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI3) Smart Hospital dalam Rapat Konsensus Komite Teknis 03-14 Manajemen Organisasi Pelayanan Kesehatan yang digelar secara daring dan luring pekan lalu.
Hal tersebut diungkapkan Prof. Eko Supriyanto selaku Wakil Ketua Komite Teknis SNI Smart Hospital melalui keterangannya kepada wartawan, Rabu (19/8).
Prof. Eko menjelaskan, Keputusan tersebut diambil secara mufakat oleh 15 anggota Komite Teknis yang hadir dalam rapat yang telah memenuhi kuorum tersebut. Anggota Komite Teknis yang hadir dan menyetujui draf tersebut mencakup keterwakilan multisektoral, terdiri dari 1 perwakilan BPJS Kesehatan, 4 perwakilan Kementerian Kesehatan, 1 perwakilan Badan Standardisasi Nasional (BSN), 1 perwakilan Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI), 1 perwakilan Asosiasi Rumah Sakit Kemenkes Indonesia (ARSKI), serta 1 perwakilan Konsil Kesehatan
Indonesia (KKI). Selain unsur pemerintah dan lembaga, forum ini juga dihadiri oleh masing-masing 1 perwakilan dari Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB Indonesia), Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI), Masyarakat Standardisasi Indonesia (MASTAN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Persetujuan draf RSNI3 Smart Hospital ini menjadi pijakan awal dalam memenuhi kebutuhan integrasi teknologi informasi, efisiensi operasional, keandalan fasilitas teknis, serta peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di era digital. Kehadiran standar ini diproyeksikan menjadi acuan nasional agar fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia dapat mengadopsi teknologi cerdas secara terstruktur, aman dan berkelanjutan sebelum nantinya ditetapkan secara formal oleh BSN,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, standar nasional ini dijadwalkan akan disosialisasikan kepada publik dan para pemangku kepentingan kesehatan pada 17 hingga 19 September 2026 di Jakarta.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari agenda tahunan International Healthcare Engineering Forum (INAHEF) 2026 yang diselenggarakan bersama oleh BSN, Kementerian Kesehatan, PTPI dan para mitra terkait. Seiring dengan agenda tersebut, Kementerian Kesehatan turut mengundang serta mengimbau seluruh jajaran manajemen dan praktisi rumah sakit di Indonesia untuk hadir berpartisipasi aktif, guna mempersiapkan fasilitas kesehatan masing-masing dalam mengimplementasikan standar baru ini.
Adapun sasaran undangan mencakup pimpinan rumah sakit umum pusat maupun daerah di seluruh Provinsi Indonesia, rumah sakit TNI/Polri dan Kementerian Pertahanan, RS di bawah Indonesia Healthcare Corporation (IHC), RS swasta, RS perguruan tinggi, hingga jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran se-Indonesia, dengan pendelegasian yang mewakili unsur manajemen/keuangan, pelayanan medik, serta penunjang teknik/operasional.
Ditambahkannya, kehadiran dalam INAHEF 2026 memberikan nilai strategis bagi jajaran manajemen dan praktisi rumah sakit di seluruh Indonesia. Mengusung tema “Smart Healthcare Facilities Financing: Building Affordable Access for All”, forum ini menjadi wadah untuk mempelajari strategi pembiayaan fasilitas cerdas yang terjangkau, mengikuti seminar bersama pakar nasional dan global, serta melihat pameran teknologi (Technology Exhibition) dan peluncuran produk inovasi alat kesehatan terbaru (Product Launching).
“Para peserta juga dapat menjalin kerja sama dengan penyedia solusi melalui forum Business Matching, mempelajari skema perencanaan anggaran fasilitas yang efisien (Budget Planning), serta menyaksikan penganugerahan Innovation Award. Rangkaian acara ini diharapkan dapat mendorong akselerasi modernisasi layanan kesehatan yang berdaya saing di Indonesia,” pungkasnya. (Red).
Kesehatan
SWICC Bogor Raya Hadir dengan Layanan Kanker Terpadu Pertama di Wilayah Penyangga Jakarta
Sentul, Hariansentana.com – Kehadiran Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, menjadi pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok.
Fasilitas ini menjadi semakin penting dan mudah di akses, mengingat kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Diharapkan SWICC bisa menjadi pusat harapan baru bagi pasien kanker, sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata Sentra Medika dalam pembangunan sektor kesehatan nasional.
Demikian hal tersebut diungkapkan Presiden Director Sentra Medika Hospital Group Dr. drg. Eddy Suharso, S.H, M Kes, dalam acara perayaan 1 Tahun Perjalanan Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) melalui Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Aston Hotel Sentul Bogor Minggu (2/8/2026).

Forum ilmiah onkologi nasional yang menyoroti penguatan akses layanan kanker terpadu ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebagai keynote speaker yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia.
Menurut Menkes, deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat kanker yang masih tinggi.
“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat, termasuk memperluas akses skrining agar kanker dapat terdeteksi lebih awal,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya,

Kehadiran pusat kanker terpadu SWICC di wilayah penyangga Jakarta menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan onkologi yang komprehensif.
“Kami mengusung konsep One Stop Cancer Care, sehingga pasien dapat memperoleh layanan mulai dari edukasi, deteksi dini, diagnosis, hingga terapi dalam satu sistem terintegrasi,” Eddy Suharso.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GCO) 2024, jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai lebih dari 1,13 juta kasus, dengan 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian.
Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker.
Dalam forum ilmiah tersebut, sejumlah pakar onkologi nasional turut menjadi pembicara utama, di antaranya Dr. dr. M. Yadi Permana, Sp.B(K)Onk, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, FINASIM, dan Dr. dr. Angela Giselvania, Sp.Onk.Rad(K). Mereka membahas perkembangan terbaru penanganan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, paru, serviks, kolorektal, hingga leukemia.
Selain itu, pembicara dari berbagai daerah juga turut berpartisipasi, seperti dr. Venita Eng dari Bali, Prof. dr. Linda W. A. Rotty, Sp.PD-KHOM dari Sentra Medika Hospital Minahasa Utara, serta dr. Trinugroho Heri Fadjari, Sp.PD-KHOM dari Bandung.
Secara keseluruhan, lebih dari 30 dokter onkologi berpengalaman terlibat dalam simposium ilmiah ini.

Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani MARS, CRMP, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring antar tenaga medis.
“Kami ingin memastikan penanganan kanker di Indonesia semakin terstandarisasi dan berbasis perkembangan ilmu terbaru,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu tahun, SWICC juga menjalankan program 500 skrining kanker gratis bagi masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat sebagai upaya memperluas akses deteksi dini.
Kampanye edukasi bertajuk “Stronger in Awareness, Together in Detection” turut digencarkan melalui webinar nasional dan seminar kesehatan.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan serta deteksi dini kanker.
SWICC yang berada di bawah naungan Sentra Medika Hospital Group merupakan pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok. Layanan yang tersedia mencakup pemeriksaan diagnostik seperti CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik, serta terapi seperti bedah onkologi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi target.
Pendekatan multidisiplin diterapkan dalam setiap penanganan pasien, sehingga rencana terapi dapat disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, dan kondisi klinis masing-masing individu.
Ke depan, SWICC menargetkan penguatan jejaring layanan kanker serta peningkatan kesadaran masyarakat agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas.
Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kasus kanker stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup pasien di wilayah Bogor dan sekitarnya. (***)
-
Polhukam7 days agoPSI Jakarta Utara Minta Jokowi Jadi Ketua Dewan Pembina PSI
-
Polhukam6 days agoSafari Jum’at di Ngadirojo, Kapolres Wonogiri Ajak Warga Jaga Kerukunan Jelang Pilkades
-
Ibukota7 days agoGebyar PSN dan JUMANTIK RW 02 Pademangan Barat: Perkuat Gerakan Bersama Cegah Penyakit DBD.
-
Polhukam4 days agoIPW : Dugaan Rekayasa Menghabisi Karier Prof. Dasaad Mulijono Berujung Pidana.

