Ekonomi
Soal Harga Gas Industri, Kadin Dinilai Tak Dewasa
Jakarta, HarianSentana.com – Direktur Executive Energi Watch Mamit Setiawan merasa lucu atas sikap Ketua Umum Kadin yang harus menulis surat ke Presiden Joko Widodo untuk memprotes rencana kenaikan harga gas indsutri oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN).
“Saya merasa KADIN ini seperti kumpulan anak kecil yang sebentar-bentar mengadu kepada orang tuanya. Sebagai kumpulan dari para pengusaha harusnya mereka bisa memahami kenapa PT PGN harus menaikan harga gas tersebut,” kata Mamit dalam keterangan tertulisnya yang diterima HarianSentana.com di Jakarta, Rabu (30/10).
“Seharusnya PT PGN yang mengadu kepada Presiden karena saat ini PT PGN merupakan BUMN bagian dari sub holding migas. Kondisi keuangan PT PGN dalam semester I 2019 kurang apik dimana keuntungan perusahaan anjlok 69.87% dibandingan semester I 2018 sebesar US$ 54,04 juta berbanding US$ 179.39 juta,” lanjut Mamit.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan tertekannya kinerja bottom line PGAS di antaranya tidak naiknya harga gas, anjloknya penjualan minyak dan gas, serta rugi selisih kurs. Berdasarkan data, sejak tahun 2013 sampai saat ini kenaikan kurs dolar Amerika Serikat naik sampai 50% sedangkan semua biaya yang dipakai menggunakan acuan dolar Amerika Serikat. “Harga jual gas PGN yang saat ini US $ 7 – US $ 10 MMBTU, dimana berdasarkan data dari Woodmack (2018) masih lebih murah dibandingkan harga gas untuk industry di Singapore sebesar US $ 12.5 – US $ 14.5 MMBTU,” ujarnya.
Saat ini bahkan harga gas industri lebih murah jika dibandingkan harga gas untuk golongan Rumah Tangga 1 (R1) sebesar Rp 4.250/m3 dan Rumah Tangga R 2 (R2) sebesar Rp 6.000 m3 jauh dibandingkan harga gas industri golongan B1 sebesar Rp 3.300/m3.
“Melihat kondisi tersebut dimana sebagai sesama pengusaha seharusnya KADIN bisa memahami kondisi yang dialami oleh PT PGN dan tidak menolak rencana tersebut apalagi sampai mengadu kepada Presiden Joko Widodo. Seharusnya dicari solusi dan duduk bersama terkait kenaikan ini,” lanjut dia.
Sekalian saja, kata Mamit, KADIN meminta kepada Presiden Joko Widodo subsidi untuk harga gas industri jika memang mau harganya murah. Sama seperti yang diberikan oleh pemerintah Malaysia yang mensubdisi harga gas industri mereka.
“Saat ini, harga beli gas PT PGN di hulu adalah sebesar US$ 6- US$ 8 per MMBtu. Belum lagi investasi yang dilakukan oleh PT PGN untuk membangun pipa transmisi dan distrubusi yang saat ini mencapai hampir 10.000 km untuk sampai ke end user. Jadi, dengan beban yang begitu besar saya kira PT PGN harus tetap melanjutkan kenaikan harga gas industry ini sesuai dengan yang direncanakan,” pungkas Mamit Setiawan.(sl)
Editor: Syarief Lussy