Ekonomi

PLTU Tanjung Jati B Raih Penghargaan Proper Emas 2019

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B untuk pertama kalinya meraih penghargaan Proper Emas dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kahutanan (KLHK) tahun 2019. Salah satu tantangan pengoperasian PLTU berbasis bahan bakar batubara ini adalah menjaga kualitas lingkungan sekitarnya agar tidak tercemar oleh proses produksi listrik, mulai dari baku mutu udara, air, dan tanah.

“Ini tahun pertama PLTU Tanjung Jati B meraih penghargaan Proper Emas dari KLHK. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan usaha yang berwawasan lingkungan dan melaksanakan komitmen pencegahan kerusakan lingkungan yang disepakati dalam Paris Agreement,” kata General Manager PLTU Tanjung Jati B, Rachmat Aswin dalam keterangan persnya yang diterima HarianSentana.com di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Menurut dia, Proper Emas menjadi penghargaan tertinggi dari penilaian sebagai bukti upaya berkelanjutan perusahaan dalam bidang lingkungan, melakukan inovasi dalam aspek pemberdayaan sumber daya serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, yang artinya perusahaan telah menerapkan pengelolaan lingkungan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

“Selain itu, sebagai wujud kepedulian sosial, PLN juga terus memberdayakan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan melakukan pembinaan kepada masyarakat setempat untuk membudidayakan rajungan yang sempat hampir punah akibat penangkapan yang dilakukan secara serampangan akibat pengetahuan yang terbatas,” papar Rachmat.

Ia mengatakan, salah satu program unggulan adalah milik PLN Tanjung Jati B yang memanfaatkan Artificial Patch Reef (APR) untuk transplantasi karang langka dan budidaya rajungan dengan metode In Situ yang merupakan pertama kalinya diterapkan di Indonesia.

“Melalui program CSR yang kami kelola, secara kontinyu kami melakukan pembinaan kepada warga sekitar pembangkit, mengembangkan peternakan sampai dengan pengelolaan biogasnya, menyelamatkan karang langka hingga berkembang menjadi lebih dari 3.800 koloni, termasuk menebar bibit rajungan sebanyak kurang lebih 4,3 juta di perairan di sekitar PLTU Tanjung Jati B,” jelasnya.

Rachmat menambahkan, penggunaan air untuk operasi pembangkit juga berhasil diturunkan hingga 170 ribu meter kubik. Selain itu, juga dilakukan inovasi dengan efisiensi energi sebesar 6 juta Giga Joule. Yang lebih penting lagi, PLTU Tanjung Jati B juga mampu menurunkan beban pencemaran air hingga 3,7 ton polutan, menurunkan emisi udara hingga 3,2 ribu ton SOx, 853 ton Nox, dan 661 ribu ton karbon dioksida.

“Limbah B3 yang berhasil dikurangi mencapai 176 ribu ton, mengurangi sampah hingga 48 ton, yang jika dikalkulasikan semuanya, penghematannya atau efisiensinya mencapai Rp2,17 triliun,” tambah Rachmat.

Sementara Mustain, salah satu warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan, mengakui bahwa pendampingan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dijalankan oleh PLN mampu menghidupkan kembali ekosistem pesisir yang sebelumnya rusak, termasuk perbaikan terumbu karang dan wisata bawah laut di Pulau Panjang.

“Dengan bantuan peralatan produksi dari PLN untuk mengolah hasil tangkapan laut, nelayan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik, sekitar Rp4,7 juta per bulan. Sedangkan ibu-ibu juga mendapatkan penghasilan tambahan sekitar Rp1 juta per bulan dari hasil mengolah tangkapan laut,” tutur Mustain.

Penilaian Proper dilakukan oleh dewan juri independen dari berbagai perguruan tinggi, dengan penilaian yang sangat ketat. Tidak hanya pada waktu sesaat tetapi juga apakah sebuah perusahaan mampu menjaga kualitas lingkungan, baik air, tanah, maupun udara, secara konsisten.

Untuk mempertahankan Proper Emas, PLTU Tanjung Jati B terus berupaya bersama warga untuk menjaga terciptanya kualitas lingkungan yang baik.(sl)

Click to comment

Trending

Exit mobile version