Ekonomi
Konsorsium Jasindo Cover Puluhan Proyek Migas di Indonesia
Jakarta, HarianSentana.com – Konsorsium PT Jasindo menjadi salah satu leader konsorsium SKK Migas dan meng-cover puluhan proyek migas di Indonesia, yang merupakan industri padat modal, padat teknologi dan besar resiko. Dan akan menjadi pangsa pasar yang cukup menjanjikan.
Tapi menurut Direktur Bisnis Strategis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Syah Amandaris, pihak asuransi juga harus bisa berhitung dengan tepat dan akurat, jangan sampai menjadi buntung karena salah perhiungan sejak awal.
“Saat ini, ada 123 blok migas yang di-cover konsosrsium Jasindo. Kebanyak pengeboran migas di lepas pantai atau offshore,” kata pria yang biasa disapa Aris itu pada webinar yang digelar Energy Watch dan Ruangenergi.com, Rabu (14/7/2021).
Dikatakan Aris, sejak 2012-2021, Jasindo sudah melakukan 313 suervei, yang meliputi 145 survei resiko, 127 survei valuasi dan sisanya 41 survei pengeboran migas.
Sementara, dari Jasindo dalam periode yang sama sudah menyelesaikan 121 klaim asuransi yang meliputi aset dan konstruksi. “Klaim proyek konstruksi tercacat sebesar US$200,839 juta, dan kalim aset sebesar US$323,323 juta,” tandas Aris.
Menurutnya, klaim asuransi migas di Indonesia naik mulai 2010 dan mencapai puncaknya tahun 2018. “Dengan nilai pertanggungan sekitar US$ 523 juta. Kemudian turun, sejalan dengan rendahnya harga minyak dunia, dan belakang kembali merangkak naik,” papar Aris.
Umumnya, kata dia, yang dicover adalah untuk offshore property. Namun sejak tahun 2017 mulai menurun. Kemudian trennya naik lagi pada tahun 2019. Tren nilai pertanggungan ini meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas proses pengeboran migas sejak dari 2010 – 2012.
“Selanjutnya menurun karena berkaitan dengan menurunnya aktivitas industri hulu migas karena turunnya harga minyak mentah dunia,” ujarnya.
Menurut Aris, kebanyakan yang dicover oleh pihak konsorsium itu adalah offshore konstruksi. “Ada 34 offshore dan 14 di onshore. Totalnya terdapat 48 proyek konstruksi yang dicover oleh konsorsium sejak periode tahun 2010 hingga saat ini,” tutur Aris.
Bila digrafikan dari tahun 2010 hingga sekarang adalah proyek offshore. Dan yang tertinggi adalah pada periode 2012 – 2014. “Saat itu harga minyak mentah mendekati 100 USD per barel. Setelah itu terjadi penurunan seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia,” ungkapnya.
Lebih jauh dia kembali mengutarakan bahwa nilai pertanggungan konsorsium asuransi proyek konstruksi SKK Migas yang meningkat terus dari 2010 hingga 2018. “Kemudian menurun dan sekarang diharapkan meningkat lagi dengan adanya program 1 juta barel dari SKK Migas. Kami dari Konsorsium Asuransi Nasional siap untuk mengcover jika terjadi mitigas resiko sehingga program tersebut bisa berjalan dengan baik. Bila terjadi hal-hal kerugian dapat kita atasi di konsorsium ini,” papar Aris.
Sebagai informasi, Konsorsium Asurasi SKK Migas memberikan layanan mitigasi resiko kepada SKK Migas dan KKKS, sesuai dengan peran dari asuransi. “Kita bagi dua, yaitu aset dan proyek konstruksi dari SKK Migas dan KKKS. Dalam proyek pembangunan tersebut kita cover jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian setelah beroperasi maka asetnya, sumur dan LNG dari KKKS kita cover juga. Sebelum proyek itu berjalan dan setelah operasional itulah yang kita cover,” jelasnya.
Konsorsium ini terdiri dari 7 perusahaan asuransi nasional, yang mengcover untuk periode tahun 2021-2023. PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai leader. Anggotanya, PT Asuransi Tugu Pratama, PT Asuransi Wahana Tata, PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Kredit Indonesia, PT Asuransi Astra Buana dan PT Asuransi Jasaraharja Putera.
Untuk periode pertanggungan 1 Juni 2021 hingga 31 Juni 2023 Konsorsium memberikan proteksi terhadap 123 blok migas yang beroperasi di Indonesia, baik di onshore dan offshore.
“Alhamdulillah hingga kini bisa menjalankan peran sebagai asuransi yang memproteksi kegiatan tersebut dengan baik,” ujar Aris.
Menurut dia, yang dicover oleh konsorsium adalah onshore property, artinya aset-aset yang ada di darat. Kemudian, aset-aset yang berada di lepas pantai, serta control of well yang meliputi pengendalian sumur, pemboran ulang, pembersihan pencemaran akibat sumur.
“Yang terakhir hull and machinery, yaitu rangka kapal dan mesin-mesinnya. Ini khusus mesin kapal yang tidak bergerak, yang ada di offshore,” pungkasnya.(s)