Polhukam
LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) Soroti Sistem Penerimaan Siswa Baru SMA di Bogor, Minta Gubernur Jabar Evaluasi Skema “Sekolah Maung”
BOGOR, SENTANA – Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) menyoroti proses penerimaan siswa SMA di Kabupaten dan Kota Bogor yang dinilai menyulitkan calon siswa berprestasi, khususnya terkait sistem “sekolah maung” dan kendala administrasi yang sempit.
Ketika di hubungi tlp seluler Kerua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) Kamis 28 Mei 2026 mengatakan,
banyak siswa berprestasi dari SMP yang ingin mendaftar ke SMA N 1 Kota Bogor dan SMA N lainnya terkendala waktu pendaftaran yang hanya satu tahap dan batas akhir pada 29 Mei. Kondisi diperparah dengan adanya hari libur panjang dan gangguan pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, sehingga siswa kesulitan mengurus dokumen,”jels Johan.
“Siswa yang nilainya bagus dan berprestasi ambisi masuk SMA N1 Kota Bogor terkendala administrasi. Syarat yang diminta seperti IKD dan tanda tangan rekomendasi kepsek SMP bikin siswa pintar terhambat proses dan waktu,” ujar Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) M Johan Pakpahan S.H.
Ia menilai pelabelan “sekolah maung” dan “tidak maung” menimbulkan persepsi yang kurang baik. Menurutnya, semua SMAN menggunakan kurikulum dan guru yang sama, sehingga perbedaan seharusnya terletak pada semangat belajar siswa, bukan pada label sekolah,”terang nya.
“Kalau ada kata ‘maung’, banyak siswa di sekolah lain jadi merasa tidak maung. Padahal sekolah negeri semuanya sama. Persepsi ini kurang baik karena dianggap terjadi pembedaan,” katanya.
Ketua LSM Peduli Rakyat Bogor ( PRB ) juga mengingatkan agar embel-embel “maung” tidak menjadi ajang titip-menitip dengan biaya bervariasi.
“Ia meminta SMAN 1 Kota Bogor dan SMAN 2 Cibinong transparan terkait jumlah pendaftar, nilai rata-rata yang diterima, serta mekanisme tes.
“Siapa pengawas ujian? Ada pihak independen tidak? Soal ujian jangan sampai diperjualbelikan. Ini bisa jadi peluang bisnis baru, apalagi di tahun pertama yang animo pendaftarnya meledak,” tegasnya.
Johan juga meminta Gubernur Jawa Barat mengevaluasi sistem penerimaan ini agar tidak mempersulit siswa berprestasi. Ia mendorong agar semua SMA N memiliki citra baik dengan fokus pada prestasi siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi,”terang nya.
“Yang menentukan itu siswa yang rajin belajar. Ketika banyak siswa masuk PTN dan PTS, berarti sekolah asalnya berhasil mendidik. Jangan buat sistem yang menimbulkan masalah baru di tingkat SMA,” ujarnya.
Lebih lanjut Johan juga berharap proses PPDB ke depan lebih mempermudah administrasi, transparan, dan tidak menimbulkan diskriminasi Sekolah negeri di Jawa Barat, khususnya di Kota dan Kabupaten Bogor,”papar nya……Ron