Ekonomi

PHE: Keberadaan Industri Asuransi di Proyek Hulu Migas Sangat Penting

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menyatakan bahwa keberadaan industri jasa asuransi di proyek hulu migas sangat penting. Pasalnya dari kejadian-kejadian yang pernah dialami PHE maupun anak usahanya saat melakukan proses bisnis, industri jasa asuransi yang digandengnya bisa mengurangi kerugian sehingga cashflow keuangan perusahaan anggota subholding ini bisa tetap terjaga dengan baik.

Manager Financial Risk dan Insurance PT PHE, Deddy Adrian menyatakan, pihaknya pernah mengalami dua insiden yang cukup fatal sehingga memaksa perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. “Pertama yaitu terjadinya anjungan miring pada tahun 2012 lalu yang mengakibatkan PHE mengalami kerugian hingga USD16 juta,” kata Deddy dalam webinar dengan tema “Peran Asuransi Dalam Menunjang Kegiatan Hulu Migas”, yang digelar Energy Watch bekerja sama dengan Ruangenergi.com di Jakarta, pada Rabu (14/7/2021).

Namun lanjut dia, karena PHE dan anak usaha menjaminkan risiko bisnisnya pada perusahaan asuransi, maka nilai kerugiannya dapat ditekan. Setelah mengajukan klaim atas insiden yang terjadi tersebut, PHE melalui anak usahanya mendapatkan ganti rugi sebesar USD15 juta.

“Apakah asuransi berperan sebagaimana fungsinya? jawabannya iya sebab berdasarkan pengalaman kami asuransi memiliki peran penting sebagai penjamin risiko dan sebagai penanggung risiko. Ini bukti bahwa asuransi bekerja sebagaimana mestinya sesuai dalam kontrak polis,” kata Deddy.

Sementara insiden kedua yang cukup fatal terjadi pada tahun 2019 lalu dimana saat dilakukan pengeboran minyak di salah satu wilayah kerja (WK) PHE terjadi weel blow out. Insiden ini menyebabkan PHE mengalami kerugian sekitat USD182 juta. Namun setelah diajukan klaim, PHE mendapatkan penggantian kerugian sebesar USD138 juta.

“Memang ada masalah dalam hal pengajuan klaim, namun PHE selalu mengupayakan agar setiap kejadian yang menimpa menjadi lesson learn untuk perbaikan ke depan. Ini terkait transfer risiko untuk dapat memitigasi risiko yang lebih baik,” tutup Deddy.

Sebelumnya, pada kesempatan yang sama,
Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Arief Setiawan Handoko mengatakan, bahwa
keterlibat industri asuransi sangat penting, terlebih lagi SKK Migas memiliki target produksi minyak sebesar 1 juta barel oil per day (BOPD) dan gas sebesar 12 Milar standar kaki kubik per hari (BSCFD) di 2030 mendatang.

“Target ini tentunya membutuhkan usaha kerja keras yang berkesinambungan, mengingat produksi dari lapangan-lapangan eksisting mulai menurunkan secara natural, dan apabila tidak dilakukan usaha apapun, maka pada tahun 2030 diperkirakan lifting minyak mentah hanya akan sebesar 281.000 BOPD, padahal berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) kebutuhan minyak Indonesia pada tahun 2030 sekitar 2,27 juta BOPD dan gas sebesar 11,7 mmscfd,” paparnya.

Ia mengungkapkan, dalam mencapai target tersebut, SKK Migas telah menyusun rencana-rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang, yang terdiri dari empat strategi.

“Strategi jangka pendek, SKK Migas telah menyiapkan strategi maintening base production dengan mengoptimalkan produksi dan lifting dari lapangan eksisting, diantaranya dengan pengelolaan reservoir yang baik dan pemeliharaan fasilitas,” tukasnya.

Sementara, untuk jangka menengah, SKK Migas telah menyiapkan strategi transformation reserve to production. Dengan mempercepat program Plan Of Development (POD) terhadap cadangan-cadangan baru yang ditemukan dan Enhanced Oil Recovery (EOR) baik menggunakan air, uap maupun menggunakan sulfaktan chemical base yang dipergunakan untuk meningkatkan produksi oil atau gas dari eksisting field.

“Sedangkan, untuk program jangka panjang, lanjutnya, SKK Migas memiliki strategi untuk meningkatkan ekplorasi secara massif untuk menemukan sumberdaya dan cadangan baru,” tukasnya.

Potensi untuk penambahan cadangan baru melalui kegiatan ini cukup besar, mengingat Indonesia memiliki 128 cekungan dan baru sekitar 20 cekungan yang sudah diproduksi dan terdapat 54 cekungan yang belum dieksplorasi.

“Pelaksanaan strategi-strategi tersebut dalam rangka mencapai target produksi 1 juta BOPD dan gas sebesar 12 BSCFD di tahun 2030, tentunya memiliki tantangan-tantangan tersendiri. Dan yang pasti tidak mudah, mengingat karakteristik kegiatan hulu migas selain melibatkan teknologi dan investasi yang tinggi, juga melibatkan risiko yang tinggi,” pungkasnya.(s)

Click to comment

Trending

Exit mobile version