Opini

Sangat Mengecewakan Jika Kenaikan Cukai Rokok Dibatalkan

Published

on

Pemerintah via Kementrian Keuangan (Kemenkeu) awalnya telah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 17 persen pada 2021. Dari sisi kesehatan publik, tentu ini hal yang sangat positif dan karena itu patut diapresiasi.

Namun terbetik khabar bahwa rencana tersebut akan dibatalkan khususnya untuk kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT). Jika pembatalan itu benar dilakukan, ini menjadi hal yang sangat mengecewakan dan kontra produktif. Boleh dibilang pembatalan itu sebagai sebuah antiklimaks terhadap perlindungan konsumen, perlundungan pada anak anak, plus secara keseluruhan adalah antiklimaks pada kesehatan publik.

Sebab pembatalan kenaikan cukai pada kategori SKT, akan memudahkan akses pembelian rokok pada anak-anak dan remaja. Padahal prevalensi merokok pada anak-anak saat ini sudah mencapai 9,1 persen (Riskesdas 2018), jauh melewati target RPJMN 2020 yang hanya 5 persen saja. Pembatalan itu juga memerosotkan perlindungan pada konsumen baik pada perokok dan atau calon perokok.

Klaim bahwa kenaikan cukai rokok akan melemahkan petani tembakau, adalah tidak relevan dan “ngoyo woro”, alias bohong belaka. Pasalnya keberadan petani tembakau justru terancam oleh importasi daun tembakau yang sangat signifikan, oleh industri rokok besar . Ini yang seharusnya diatur dan dilarang oleh pemerintah, bukan membatalkan kenaikan cukai.

Oleh karena itu seharusnya pemerintah tetap menaikkan cukai rokok pada 2021 secara utuh, seperti kebijakan semula, jangan _mencla-mencle;_ demi perlindungan kesehatan pada masyarakat konsumen, dan terkhusus pada anak-anak.

Apalagi Menkes juga memble dalam rencananya mengamandemen PP No. 109/2012. Sungguh ini Menkes yang paling belepotan dari sisi paradigma kesehatan publik.

Jika pembatalan kenaikan cukai itu dilakukan begitu pun jika amandemen PP 109/2012 gagal, sungguh kentara bahwa pemerintah telah berkomplot dengan industri rokok. Dan artinya merontokkan upaya untuk mewujudkan generasi emas yang kini digadang-gadang.

Bagaimana mau mewujudkan generasi emas jika mereka terserimpung oleh candu rokok akibat murahnya harga rokok, masifnya iklan dan promosi rokok plus peringatan kesehatan yang masih minimalis?

Oleh: Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI

 

Click to comment

Trending

Exit mobile version