Ekonomi
Praktisi Sebut Kelangkaan Solar Akibat Mahalnya Harga FAME
Jakarta, HarianSentana.com – Praktisi Migas, Inas N Zubir menyoroti terjadinya kelangkaan solar bersubsidi di sejumlah daerah di pulau Sumatera yang terjadi beberapa hari terakhir. Alih-alih kelangkaan disebabkan oleh kuota BBM subsidi yang habis, politikus Partai Hanura itu menduga kelangkaan solar subsidi yang notabene adalah bio solar B30, disebabkan oleh mahalnya harga Fatty acid methyl ester (FAME) seiring tingginya harga Crude Palm Oil (CPO).
“Yang perlu dicermati tentang kelangkaan solar bersubsidi atau solar B30 di Riau adalah, apakah kuota solar B30 yang sudah menipis, atau bahkan sudah habis di beberapa daerah, juga diikuti dengan menipisnya persedian B30 di Pertamina akibat tingginya harga FAME?,” ujar Inas di Jakarta, Selasa (19/10/2021).
Menurutnya, jika kondisi demikian yang terjadi, maka pemerintah dan Pertamina harus menyiapkan alternatif lain sebagai pengganti bio solar B30.
“Kalau kondisinya seperti itu maka harus ada kebijakan untuk mengganti solar non B30 menjadi solar bersubsidi, agar masyarakat tidak selalu mengalami kelangkaan solar subsidi,” tegasnya.
Pemerintah, lanjut Inas, diharapkan tidak memaksakan penggunaan B30 jika memang secara keekonomian BBM tersebut tidak efisien. Terlebih jika digunakan sebagai BBM subsidi, karena harga FAME sangat sensitif dengan pergerakan harga CPO.
“Bisa jadi kebijakan B30 ini malahan jadi bumerang bagi Pemerintah! Ketidak ekonomisan-nya FAME tentunya akan berimbas kepada ketersediaan solar B30 yang dijadikan solar bersubsidi,” pungkas mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini.
Pastikan Kebutuhan Masyarakat Terpenuhi
Sementara itu, Pertamina memastikan kebutuhan BBM masyarakat baik gasoline maupun gasoil di tengah turunnya level PPKM dan mulai pulihnya kegiatan perekonomian masyarakat akan tetap terpenuhi
Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan, peningkatan konsumsi di gasoil didominasi oleh solar subsidi dimana konsumsi pada Semester I 2021 tercatat sebesar 37.813 kiloliter/bulan dan terus meningkat hingga mencapai 44.439 kiloliter pada bulan September atau naik sekitar 17 persen.
“Sedangkan di sektor gasoline, peningkatan mencolok terjadi di produk Pertamax, dimana pada periode Semester I 2021 rerata bulanan sebesar 12.586 kiloliter dan terus merangkak naik hingga mencapai kenaikan 49% di bulan September sebesar 18.840 Kiloliter,” jelas Fajriyah dalam keterangannya di Jakarta hari ini.
Ia menegaskan, saat ini stok BBM Pertamina dalam kondisi cukup sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap dihimbau membeli BBM sesuai kebutuhan.
“Stok untuk produk yang meningkat signifikan yaitu Solar mencapai 17 hari dan Pertamax mencapai 18 hari. Pengiriman dari Terminal BBM juga terus dilakukan setiap hari ke seluruh SPBU dan Kilang juga terus berproduksi sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” tukasnya.
Khusus untuk Solar, lanjut dia, Pertamina telah melakukan penambahan volume penyaluran ke beberapa wilayah yang mengalami peningkatan konsumsi secara signifikan seperti Sumatera Barat sebesar 10 persen, Riau 15 persen, dan Sumatera Utara 3.5 persen.
“Mengingat Solar adalah BBM Bersubsidi, kami sangat cermat dalam melakukan penambahan penyaluran agar bisa tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oknum-oknum tertentu,” tegas Fajriyah.
Selain penambahan penyaluran di wilayah yang mengalami peningkatan signifikan, Pertamina juga melakukan koordinasi dengan BPH Migas untuk fleksibilitas pengalihan kuota BBM Subsidi di wilayah yang realisasinya masih di bawah target, ke wilayah lain yang berpotensi over kuota.
“Alhamdulillah sudah ada persetujuan dari BPH Migas, sehingga pengaturan kuota antar wilayah dapat dilakukan selama tidak melebihi pagu kuota nasional tahun 2021 yang ditetapkan BPH Migas,” tutup Fajriyah.(s)