Opini

Masa Depan Maluku

Published

on

Rempah-rempah, sumber daya perikanan berlimpah, gas alam dengan deposit abadi, suara merdu, musik dinamis dan petinju dengan prestasi mendunia menjadi identik dengan Maluku. Karunia Tuhan tersebut menjadi branding Maluku baik di cakupan nasional maupun pada tataran internasional.

Pada abad ke-19, gugusan kepulauan Lease memicu perhatian dan rebutan bangsa-bangsa Eropa. Tahun 1817, Belanda, Inggris dan Spanyol saling berebut pengaruh untuk mendapatkan akses menguasai rempah-rempah sebagai komoditas yang paling dicari ketika itu. Pada tataran nasional,

Maluku bersama tujuh provinsi lain yaitu Provinsi Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Borneo, Sunda Kecil dan Provinsi Sulawesi, merupakan delapan provinsi pertama yang dibentuk pemerintah setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Capaian historis yang terbilang istimewa, mestinya menjadi modal dasar untuk membangun Maluku yang lebih berdaya saing.

Potret Kondisi Maluku

Provinsi Maluku sendiri masuk dalam kategori daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Kondisi afirmasi ini harus dimaknai sebagai sebuah tantangan, bukan hambatan. Sebagai sebuah tantangan, harus direspon melalui gagasan-gagasan besar dan cerdas.

Kehadiran lembaga pendidikan vokasi dan juga akademik yang berbasis keteknikan dan kewirausahaan seyogianya diakomodir untuk menjawab tantangan tersebut dalam konteks pengelolaan sumber daya alam yang ada.

Sementara itu, walaupun berpredikat sebagai lumbung ikan nasional namun hasil laut tersebut belum mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan ekonomi Maluku. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa, Maluku menjadi provinsi termiskin ke-empat di Indonesia.

Merujuk Bappenas, Maluku dan beberapa provinsi di Indonesia tidak menikmati bonus demografi sampai dengan tahun 2035. Artinya sampai dengan tahun tersebut, orang dengan usia produktif tidak menonjol di Maluku. Ini berarti sampai dengan tahun 2035, penduduk di Maluku akan didominasi oleh anak-anak dan orang tua. Dari sisi produktivitas, kedua kelompok umur ini kurang produktif, sehingga tidak banyak berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.

Tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di masa lalu ikut membebani kondisi Maluku. Realitas ini berdampak luas pada berbagai sendi kehidupan. Secara makro, tragedi dimaksud berdampak pada cara pandang orang di luar Maluku terhadap kondisi keamanan dan kenyamanan di Maluku.

Pebisnis melihat Maluku sebagai daerah yang kurang menarik, sehingga mereka takut datang ke Maluku, apalagi jika sampai akan berinvestasi. Citra Maluku yang aman dan nyaman menjadi pertaruhan tersendiri yang harus diperjuangkan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Maluku yang aman, kondusif, toleran dan moderat harus diedukasi dan diusahakan secara sungguh-sungguh dengan filosofi kepala tegak. Edukasi, promosi, prevensi dan rehabilitasi harus dilakukan secara teratur, terukur dan berkesinambungan.

Kualitas Sumber Daya Manusia

Badan PBB untuk pembangunan (UNDP) merilis laporan tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM), memperlihatkan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari pembangunan ekonomi dan pemerataan hasil pembangunan.

IPM mengukur kemajuan jangka panjang dari tiga dimensi utama pembangunan manusia yaitu usia hidup panjang dan sehat, akses pada ilmu pengetahuan, serta standar kehidupan yang layak. Kualitas pendidikan merupakan salah satu variabel penyebab kemiskinan.

UNDP juga memberikan statemen: “give people handout or a tool, they can live little better, give them an education, they can change the world” (berikan seseorang modul atau sarana, mereka akan hidup sedikit lebih baik, namun jika memberikan mereka pendidikan, mereka dapat merubah dunia). Pembangunan pendidikan yang proporsional antara kuantitas dan kualitas menjadi keniscayaan. Pendidikan yang tidak berkualitas akan menghasilkan luaran yang sulit mengakses pekerjaan formal.

Fokus Pembangunan

Muluku sebaiknya fokus kepada pangan, perikanan, energi dan kemaritiman. Semua sumber daya yang ada dimobilisasi untuk menyokong pembangunan dan pengembangan keempat sektor dimaksud.

Dukungan infrastruktur dalam bentuk regulasi, transportasi, telekomunikasi dan pembiayaan diarahkan untuk penguatan keempat sektor tersebut dengan sub-sub sektor yang memiliki keterkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Ekosistem bisnis keempat sektor tersebut harus dibangun mulai dari hulu sampai ke hilir secara terintegrasi.

Mendorong terbangunnya poros ekonomi Maluku juga menjadi hal yang penting. Poros ekonomi Maluku dibangun melalui pendekatan gugus pulau dengan mengedepankan potensi unggulan lokal yang dimiliki masing-masing wilayah.

Pembangunan poros ekonomi Maluku dikoneksikan dengan pembangunan poros ekonomi yang ada di provinsi yang berbatasan dengan Maluku diantaranya Maluku Utara, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat serta Sulawesi Tenggara, plus Bali.

Pada tataran global, poros ekonomi Maluku juga dapat dikoneksikan dengan Australia, Timor Leste dan negara-negara Pasifik yang kini sedang menjadi perhatian garapan kementerian luar negeri Indonesia. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dibangun di wilayah-wilayah tersebut sebagai lokomotif penghela gerbong pembangunan Maluku.

Salah satu pilar penting dan strategis yang juga perlu dibangun adalah budaya melayani birokrat. Pada era globalisasi dengan disrupsi akibat revolusi industri 4.0, perubahan iklim dan covid-19 seperti sekarang ini berkonsekuensi terhadap layanan birokrasi yang dapat mempercepat atau sebaliknya menghambat investasi.

Menyediakan karpet merah kepada investor untuk berinvestasi akan memberikan dampak positif berantai untuk pertumbuhan ekonomi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Bahwa birokrat sebagai petugas negara bersikap melayani, bukan dilayani adalah filosofi global yang seharusnya melekat menjadi budaya birokrasi di Maluku.

Sementara itu, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kiblat masa depan dunia. Kultur entrepreneurship harus dibangun pada semua lini. Maluku sangat membutuhkan kepemimpinan visioner, kolaboratif dengan kualifikasi intelektual berwawasan kebangsaan, memiliki jejaring komunikasi luas yang terkoneksi tidak saja di tingkat nasional tetapi juga internasional. Kemampuan untuk melakukan lompatan inovasi, kreativitas serta konektivitas menjadi penentu masa depan Maluku.

Oleh: Dr. Ir. Ishak Tan, M.Si, Dosen MM Universitas Winaya Mukti Bandung; Mantan Rektor Universitas Iqra Buru

 

 

Click to comment

Trending

Exit mobile version