Ekonomi
PGE: Multy Track Development Salah Satu Strategi Pengembangan Panas Bumi
Jakarta, HarianSentana.com – Direktur Utama Pertamina Geothermal Energi (PGE), Ahmad Yuniarto mengatakan, Multy Track Development merupakan salah satu strategi pengembangan bisnis energi panas bumi untuk mendongkrak investasi dan Capex.
Hal ini disampaikan Ahmad dalam sesi Webinar bertajuk Sinergi Mendukung Percepatan Pengembangan Panas Bumi yang digelar Ruangenergi.com pada Kamis (06/5/2021).
“Seharusnya sejak awal proses pengembangan panas bumi tidak hanya fokus pada bisnis uapnya saja. Melainkan juga pada aspek-aspek lain yang juga terkandung dalam panas bumi,” kata Ahmad.
“Kita mengembangkan sumberdaya panas bumi ini by design. Misalnya kita melihat apakah kandungan mineral-mineral tertentu yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis,” tambah dia.
Pihaknya juga melihat apakah bisa mengembangkan green hydrogen dari panas bumi. “Atau memanfaatkan fluida line yang diproduksi pada saat kita memproduksi uap panas bumi. Dan juga mengekstrak mineral-mineral lainnya,” papar Ahmad.
PGE, lanjut Ahmad, saat ini tengah mengembangkan multy track development. “Yaitu bagaimana kita bisa meningkatkan keekonomian pengembangan panas bumi jika kita tidak hanya fokus pada pengembangan uapnya saja,” ujarnya.
Sebagai informasi, PGE yang mulai berkecimpung dalam bisnis panas bumi sejak tahun 1974, saat ini mengoperasikan panas bumi sebesar 672 MW. Dan 1,2 GW dioperasikan melalui joint operating contrac.
“Ambisinya pada tahun 2030 PGE akan mengoperasikan 1,3 Giga Watt instoll capacity dan menjadi tiga besar pengembang di dunia. Pada tahun ini telah dikembangkan kapasitas 672 MW. Tentu untuk mencapai ambisi 1.3 GW dibutuhkan investasi yang sangat besar,” paoar Ahmad.
Sementara Direktur Utama PT Geo Dipa, Riki Ibrahim, menyampaikan beberapa langkah dan kebijakan perusahaan yang dipimpinnya melalukan berbagai terobosan pengembangan panas bumi.
“Salah satunya kita menjalin kemitraan dan sinergi BUMN, melakukan joint study dan model finansial bersama dengan off-taker (PLN) dan melakukan open-book mechanism dengan off-taker (PLN),” tukasnya.
Disamping itu, pihaknya juga mengupayakan tingkat pengembalian yang wajar (WACC+Risk Premium wajar), melakukan utilisasi pendanaan PISP dan GREM serta optimalisasi insentif fiskal: Fasilitas Impor (PPh, PPN, Bea Masuk), Tax Allowance, Tax Holiday dan memperpanjang durasi kontrak PPA dari semula 30 tahun, menjadi 50 tahun.(s)