Ekonomi
Percepatan Capai NZE pada 2030, Pengamat: Ini Langkah Ambisius Tekan Emisi
Jakarta, HarianSentana.com – Indonesia sebagai Pimpinan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang akan mengelola dana awal 20 miliar dolar, telah nbbb mengambil langkah percepatan mencapai NZE (Net Zero Emision) sampai 2030. Namun menurut Pengamat Energi, Salamuddin Daeng, ini sebuah langkah ambisius untuk menekan emisi di semua lini mulai dari hulu sampai hilir, mulai dari Scope 1 sampai dengan 3, menyeluruh. Target pemerintah ini menjadi tantangan paling serius bagi Pertamina sebagai perusahaan energi terbesar di tanah air.
“Scope 3 menyumbang 80 hingga 95% dari total emisi karbon dari perusahaan minyak dan gas. Tetapi hanya sejumlah kecil dari perusahaan-perusahaan ini yang telah menetapkan ambisi bersih Lingkup 3,” kata Salamuddin di Jakarta, Senin (28/11/2022).
“Sampai sekarang ini hanya 10 perusahaan minyak dan gas besar yang berkomitmen pada Scope 3 net zero. Perusahaan paling ambisius menargetkan Net Zero Scope 3 pada 2030. Karena mayoritas yang lain menargetkan 2050. Dan ini tentu tidak termasuk Indonesia dan perusahaan minyak Pertamina,” sambung Salamuddin.
Lebih jauh ia mengatakan, bahwa cakupan 1 dan 2 nol bersih sekarang menjadi standar industri, tetapi Scope 3 net zero membutuhkan penyusutan dramatis minyak dan gas yang merupakan ancaman mendasar bagi keberlanjutan tanpa strategi untuk membangun pusat laba baru yang rendah karbon.
“Para analis menganalisis bagaimana mencapai nol emisi Scope 3 membutuhkan perubahan struktural yang besar. Sementara perusahaan mengambil taruhan yang berbeda untuk mengelola tantangan keberlanjutan dengan untuk memanfaatkan area kekuatan kompetitif. Mereka harus bersaing dengan ketat untuk menghasilkan portofolio NZE,” jelas Salamuddin.
“Bagi perusahaan minyak, memasuki area ini ibarat ikan lele berlomba dengan paus di laut. Belum sempat berenang banyak yang akan mati duluan, bahkan dengan ikan kakap pun tidak bisa ditandingi. Namun bukan berarti tidak ada jalan keluar atau peta jalan yang dapat dibuat sama sekali,” sambungnya.
Peneliti AEPI ini juga mengakui bahwa sebenarnya sudah ada yang dilakukan Pertamina sebelum JETP ini datang. Di mana program yang paling mengemuka adalah bio energi, dan juga pencampuran minyak sawit dengan solar, yang telah memicu pertengkaran dengan konsumen minyak goreng. Namun program ini tidak dianggap sebagai transisi energi oleh Uni Eropa.
“Langkah yang lebih kontroversial yang dilakukan Pertamina adalah gasifikasi batubara yang menjadi blunder di mata internasional yang menjadikan pukulan keras ke batubara adalah langkah paling kunci bagi JETP. Batubara yang hendak disuntik mati oleh komunitas internasional malah disuntik vitamin oleh Pertamina,” tukasnya.
Namun terlepas dari dua kekeliruan ini, menurutnya masih ada jalan membenahi, dan membangun ulang. Pasalnya, Pertamina sudah menjadikan NZE sebagai prioritas kerja. Mereka sadar transisi energi bukan pilihan, tapi _to be or not to be_, melaksanakan hidup berkelanjutan atau tidak melaksanakan maka sekarat.
“Mengurangi emisi di Scope 3 itu sebetulnya bagian paling mudah. Hanya butuh sedikit inovasi dengan sedikit berfikir, membangun program yang melibatkan banyak kalangan secara luas. Dan ini bisa dilakukan Pertamina,” tukasnya.
Lebih jauh ia mengatakan, ada beberapa model bisnis yang telah muncul misalnya perusahaan energi besar melakukan diversifikasi agresif ke energi terbarukan dan bahan bakar rendah emisi akan menopang bisnis dan arus kas minyak dan gas harus terlihat memasuki penurunan.
“Kemudian melakukan ekspansi agresif penangkapan dan penyimpanan karbon untuk mengimbangi emisi Cakupan 3. Model ini memungkinkan penurunan minyak dan gas yang lebih lambat dan berpotensi menimbulkan jejak emisi negatif. Selanjutnya memproduksi bahan bakar berkelanjutan – transisi ke pengembangan bahan bakar rendah emisi dan solusi bisnis sirkular untuk mengimbangi penurunan produksi minyak dan gas serta pemrosesan minyak mentah,” pungkasnya.(s)