Opini

Merdeka Dari Pandemi Menggandeng Peran Ormas & OKP

Published

on

AWAL tahun 2020 virus corona terdeteksi di Indonesia. Kasus orang terinfeksi kemudian merebak ke seluruh Indonesia. Berbagai upaya penanggulangan dan pencegahan telah ditempuh, namun Covid-19 masih tetap merajalela. Mengerahkan kemampuan negara saja belum cukup karena pemerintah dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Menggandeng partisipasi Ormas dan OKP merupakan suatu keniscayaan.

Virus corona ibarat musuh yang harus diperangi. Negara berperan utama dalam pengendalian host melalui penyiapan vaksin dan obat penangkalnya. Pemerintah dalam hal ini melakukan upaya “Perang Semesta” menghadapi pandemi ini. Walaupun masih diperlukan peran negara, tetapi dalam hal pengendalian agent dan environment sebagai pencetus virus corona, peran dan partisipasi masyarakat sangat menentukan.

Secara formal struktural, layanan pemerintahan berakhir di tingkat desa/kelurahan. Selebihnya pemerintah mempergunakan perpanjangan tangan otoritas masyarakat di tingkat RW dan RT, sehingga pelibatan masyarakat mutlak sangat diperlukan.

Keterlibatan masyarakat dalam menterjemahkan serta meneruskan kebijakan pemerintah, dapat direpresentasikan melalui peran Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP).

Ormas dan OKP berperan sebagai penetrasi faktor pencetus agent dan environment. Pemutusan peran pencetus agent dan environment oleh Ormas dan OKP dapat dilakukan dengan menerapkan strategi “Perang Gerilya”.

Perang gerilya berlangsung secara masif dan langsung tertuju kepada sasaran, dalam hal ini komunitas-komunitas Ormas dan OKP. Keteladanan dari para Tokoh dan Pimpinan Ormas dan OKP dalam menerapkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19 didemonstrasikan secara berkala mulai dari level organisasi tertinggi sampai dengan level organisasi terendah.

Langkah ini diperlukan karena Indonesia dengan 65% rakyatnya berlatar belakang pendidikan SMP ke bawah, lebih mengandalkan mata ketimbang logika dalam menerima suatu inovasi. Pemerintah perlu mengintensifkan komunikasi publik dengan Ormas dan OKP.

Terobosan ini sangat strategis karena pada era new normal dengan adaptasi kebiasaan baru masih banyak orang yang belum menggunakan masker ketika sedang bepergian, tidak mencuci tangan dengan sabun di air mengalir setelah beraktifitas, dan tidak menjaga jarak ketika berinterakasi dengan orang lain. Pendekatan kultural dan sosial dalam komunitas merupakan langkah strategis ditengah lemahnya disiplin dan kepatuhan formal.

Sejarah mencatat peran ormas dan pemuda sangat strategis dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kolaborasi antara tokoh-tokoh intelektual, tokoh-tokoh ormas dan tokoh-tokoh pemudalah yang mendorong terjadinya pembacaan proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Kita harus belajar dari berbagai negara yang relatif lebih cepat mengendalikan covid-19. Jepang misalnya, karena budaya siaga dan kebiasaan disiplin warganya yang tinggi, mampu lebih cepat dalam mengendalikan covid-19. Negara lain seperti Korea Selatan dan Taiwan yang selalu dalam keadaan siaga perang dengan Korea Utara dan Cina, juga dapat dijadikan referensi.

Karena selalu dalam keadaan siaga, mengharuskan mereka selalu siap dengan skenario rencana cadangan jika sewaktu-waktu terjadi perang dengan segala konsekuensinya. Ketiga negara siaga tersebut terbukti menjadi negara makmur di Asia bahkan di dunia.

Dr.Ir. Ishak Tan, M.Si, Dosen Universitas Winaya Mukti, Mantan Sekjen Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga

Click to comment

Trending

Exit mobile version