Gayahidup
Ketulusan atau Anomali
Di era Media Sosial (Medsos), demikian mudah dan cepatnya menyampaikan segala sesuatu, hanya hitungan detik sudah beredar, dan sampai kepada orang yang dituju. Termasuk menyampaikan kata ‘selamat’ kepada orang dekat atau sekedar kenal, bahkan orang yang tidak kenal, atau kebetulan saja orang tersebut pejabat tinggi yang cukup dikenal di Medsos.
Demikian juga ucapan ‘turut berduka’, tanpa harus mengeluarkan biaya iklan duka cita di media cetak atau elektronik, kita bisa menyampaikan melalui Facebook, WA, atau jenis Medsos lainnya.
Aku telah melakukan hal ini banyak kali.
Tapi adakalanya aku ragu untuk menggoreskannya di Medsos atau WAG, di mana aku ikut bergabung.
Keraguan semakin mendalam, bahkan muncul kontradiksi, dan sekilas lewat bayangan, ada pesan yang mengisyaratkan makna ketulusan. Biasanya, keraguan itu kerap terabaikan, dengan segudang ekspektasi, yakni tidak sampai ketinggalan dari orang lain. Dan harus tampil sebagai sosok yang peduli.
Setelah cukup lama aktif melakukannya, hari ini aku merenung, dan bertanya, apakah ini ketulusan atau anomali. Untuk mengetahuinya lebih jelas, harus masuk ke dimensi ketulusan itu secara utuh, serta memaknai kejujuran yang sebenarnya.
Langkah selanjutnya, berdamai dengan diri sendiri, dan memilah dengan nurani, supaya tak merasa bersandiwara, dan tidak malu kepadaNYA.
Oleh : Pangihutan Simatupang (Jak, 26/6/2019)