Ekonomi

Ekonom: Keputusan Pemerintah Pertahankan Harga Pertalite Cukup Realistis

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, keputusan pemerintah mempertahankan harga Pertalite di tengah gejolak harga minyak dunia dengan tujuan untuk menjaga daya beli masyarakat cukup realistis dan tepat. Namun hal itu tidak tepat bila diterapkan dalam jangka panjang

“Dalam jangka pendek, kebijakan ini dapat dilakukan pemerintah untuk menjaga daya beli, namun tidak untuk kebijakan yang bersifat jangka panjang dan setiap tahun harus terus disubsidi,” ujar Josua dalam keterangan di Jakarta, Jumat (11/3/2022).

Menurut dia, kebijakan penetapan harga BBM harus dilihat dari latar belakang di mana pemerintah berupaya melindungi daya beli masyarakat yang belum benar-benar pulih akibat pandemi Covid-19.

“Menjaga inflasi domestik tetap rendah, agar daya beli masyarakat terjaga, menjadi salah satu tujuan dari pemerintah dalam menjaga harga BBM Pertalite,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, kebijakan subsidi BBM yang dilakukan setiap tahun menjadi kontraproduktif terhadap anggaran, mengingat hal itu merupakan kegiatan konsumtif dan subsidi tersebut cenderung tidak tepat sasaran kepada masyarakat miskin dan menengah ke bawah.

“Selain itu, disparitas harga yang tinggi berpotensi menimbulkan distorsi pasar dan tindakan menyalahgunakan subsidi seperti menjual ke industri, penyelundupan, dan sebagainya,” kata Josua.

Menurutnya, ada dua justifikasi dari pemberian subsidi BBM jenis Pertalite dalam jangka pendek saat ini. Pertama, dengan kondisi pandemi Covid-19 banyak masyarakat rentan miskin dan menengah ke bawah yang semakin memburuk kondisi ekonominya di tengah pandemi ini.

“Kelompok ini cenderung minim mendapatkan program perlindungan sosial dari pemerintah. Sehingga mempertahankan daya beli kelompok ini menjadi penting agar pemulihan ekonomi terjaga. Namun jika perekonomian sudah kembali ke level normalnya, pemerintah dapat kembali menyesuaikan kebijakan subsidi BBM ini,” paparnya.

Sementara justifikasi kedua, kata dia, terkait kondisi harga minyak dunia saat ini yang bisa dikatakan abnormal sebagai dampak dari tensi geopolitik yang meningkat yakni perang antara Rusia-Ukraina.

“Ke depan, peningkatan tensi geopolitik ini diperkirakan kembali mereda dan pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah dunia kembali ke rata-rata harga jangka panjangnya,” tukasnya.

“Di tengah kondisi abnormal ini, pemerintah berupaya untuk menekan dampaknya pada perekonomian domestik dengan memberikan subsidi BBM Pertalite,” lanjut dia.

Masih menurut Josua, saat ini Pertalite memang belum menjadi BBM penugasan, namun jika ke depan nanti ditetapkan sebagai BBM penugasan, maka selisih antara biaya produksi dan harga jual penetapan sepenuhnya akan diganti oleh pemerintah.

Namun dengan Pertalite disubsidi, terdapat risiko peralihan konsumsi BBM dari sebelumnya BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan jumlah konsumsi Pertalite di masa mendatang, apalagi jika disparitas harga cukup tinggi.

“Upaya kontrol tetap perlu dilakukan melalui pembatasan volume dan konsumsi, agar pemerintah mengetahui apakah terjadi kebocoran atau tidak dalam penyaluran BBM penugasan ini,” pungkasnya.(s)

Click to comment

Trending

Exit mobile version