Nasional

BELAIN Kutuk Sikap Politik PM India Terkait Islam Aphobia

Published

on

Jakarta, HarianSentana.com – Bela Indonesia Gerakan Pilar Bangsa (BELAIN) mengutuk sikap politik Islam ophobia PM India dan tokoh Partai BJP India yang menyerukan kekerasan ekstrimis terhadap 150 juta warga muslim di India.

Menurut Direktur Eksekutif BELAIN, Abdussalam Hehanussa, sikap radikalisme Hindu ultranasionalis yang meniru cara-cara ISIS itu akan mengobarkan aksi pembalasan Hindi Xenopobia yang merugikan bangsa dan diaspora India di seluruh dunia.

“Apa yang dilakukan Perdana Menteri India dan Partai BJP akan sangat merugikan bangsa India sendiri yang banyak tersebar di berbagai negara di dunia,” kata Abdussalam di Jakarta, Senin (02/3/2020).

Ia menilai, kondisi psikologi politik Islam ophobia dan Xenophobia di Eropa, AS, Indonesia dan India ini saling terkait dengan situasi RRC. “Saat ini aksi-aksi serangan Islam ophobia, dari Eropa dan AS, menjalar ke India,” sesalnya.

Lebih jauh ia mengatakan, teror kelompok ultranasionalis Hindu yang membakar Masjid Ashok Nagar Delhi, pertokoan muslim di kawasan Karawal Nagar, Maujpur, Bhajanpura, Vijay Park, dan Yamuna Vihar dikota New Delhi membunuh 32 warga muslim dan seorang polisi, pada Rabu 26 februari 2020 lalu sangat disesalkan publik medsos global.

“Saya juga menyerukan kepada semua generasi muda milenial, organisasi kepemudaan dan media untuk terus mewaspadai aksi teror Islam ophobia di India, Eropa, Uighur dan Tionghoa Xenophobia di Indonesia,” tambah pria yang biasa disapa Alan ini.

Ia juga mengapresiasi Kanselir Jerman, Angela Markel yang mengecam aksi kelompok teror Islam Ophobia dan Tionghoa Xenophobia, yang juga berjanji untuk terus memperjuangkan hak dan martabat semua orang yang tinggal di Jerman, tanpa melihat asal, agama dan ras mereka KanselirJerman bahkan menyatakan bahwa rasisme dan kebencian adalah racun. “Apa yang dilakukan Kanselir Jerman itu patut diapresiasi. Yang seperti ini yang harusnya dicontoh oleh pemimpin negara-negara Eropa lainnya,” kata Alan.

Ia menyayangkan provokasi publik medsos kelompok supremasi sayap kanan global yang semakin meningkatkan keforianeo konservatif di Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini juga dipicu jumlah kematian dari virus Corona. Sejak tanggal 28 Februari 2020, telah mencapai 2.850 orang, 83.105 orang terinfeksi, dan 2000 kasus di 49 negarak,” katanya menduga.

Sekedar diketahui, aksi provokasi medsos terhadap Rusia dan RRC, juga ditujukkan oleh Wakil Menlu Amerika Serikat, Philip Reeker yang menuding Rusia melakukan kampanye disinformasi bahwa Amerika yang menyebarkan wabah Covid-19, dalam upaya nyata untuk merusak citra Amerika di seluruh dunia. Rusia dituding berniat menabur perselisihan dan melemahkan institusi dan aliansi Amerika dari dalam.

Namun juru bicara Kemlu Rusia, Maria Zakharova, membantah tudingan kampanye di medsos untuk meyebarkan informasi yang salah tentang virus Covid-19. Rusia menyatakan, bahwa berita tersebut benar-benar salah.(sl)

Click to comment

Trending

Exit mobile version