Nasional
BELAIN Dukung Sikap Jerman dan Inggris Terkait Teroris Kulit Putih
Jakarta, HarianSentana.com – Bela Indonesia Gerakan Pilar Bangsa (BELAIN) mendukung penuh sikap kewaspadaan nasional pemerintah Jerman dan Inggris yang terus menginvestigasi, menangkap dan mengadili anggota dan simpatisan kelompok teroris supremasi kulit putih di Eropa.
“Kita mendukung sikap pemerintah Jerman dan Inggris yang selalu waspada dan terus menginvestigasi, menangkap dan mengadili kelompok supremasi kulit putih,” kata Direktur Eksekutif BELAIN, Abdussalam Hehanussa, SE di Jakarta, Minggu (23/2/2020).
Menurut Abdussalam, sikap permusuhan rasial di Eropa, seperti yang dilakukan oleh Philip Manhaus sangat sering terjadi. WN Norwegia ini ditangkap Polisi setelah menembak masjid Al Noor di Baerum, Oslo, pada 10 Agustus 2019.
“Aksi teror tesebut dilakukan setelah membunuh saudara tirinya, Johanne Zhangjia Hansen, yang beretnis Tionghoa, dengan alasan membenci Islam, imigran Arab dan etnis Asia,” ungkap pria yang biasa disapa Alan itu.
Aksi teror Islam ophobia ini, kata dia, terus berlangsung di Eropa, seperti yang juga dilakukan Tobias Rathjen, atlit penembak jitu, WN Jerman yang menembak 9 orang imigran Kurdistan Turki di restoran Midnight dan Arena. “Ironisnya setelah itu membunuh ibunya pada Rabu 19 Februari 2020, di Kota Kesselstsadt, negara bagian Hesse,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, di kota London, seorang pria kulit putih, WN Inggris menyerbu masuk Masjid Park Road dan menusuk jamah pada Kamis 20 Februari 2020. “Polisi London masih mencari motif pria penusuk, apakah anggota supremasi kulit putih Blood & Honour, Hammerskins, Volksfront, European Kindred, dan Aryan Circle yang berafiliasi dengn partai politik patriot anti Islam, Britain First,” katanya.
Jauh sebelumnya, anggota parlemen wanita Inggris Jo Cox dari Partai Buruh, yang terkenal sebagai pembela HAM imigran Tionghoa dan Arab di Inggris ditusuk dan ditembak mati oleh Thomas Meir, simpatisan partai Britain First pada Kamis 16 Juni 2016 di Kota Bristall.
Sementara terkait Tionghoa Xenophobia dan kebencian rasial yang selalu mendorong sikap ekstrimisme untuk mengeksploitasi perasaan publik dengan provokasi sinis atas entitas lain via media masa dan medsos, koran The Wall Street Journal (WSJ) menampilkan tulisan berjudul ” China Is Real Sick Man of Asia” (Cina Adalah Orang Sakit dari Asia yang Sebenarnya).
“Tulisan Walter Russell Mead, yang dipublikasikan 3 Februari 2020 tersebut bahkan menyebabkan pemerintah RRC langsung mengusir pejabat kantor perwakilan WSJ di Beijing karena dinilai bersifat diskriminatif rasial,” ungkapnya.i
Gelombang aksi ofensif sikap sinissme Tionghoa Xeophobia juga diekspresikan oleh senator AS, Tom Cotton, yang mengklaim bahwa virus Corona Covid-19 adalah senjata biologis yang dibikin militer RRC.
Sementara Ketua Kongres AS, Nancy Pelosi, juga ikut berperang opini dengan RRC, seperti saat berpidato di konferensi keamanan Munich, Jerman.
Saat itu, Pelosi menyatakan bahwa menggunakan teknologi RRC adalah bentuk agresi yang paling berbahaya yang akan membuat telekomunikasi nasional didominasi oleh pemerintah yang tidak berbagi nilai-nilai, Amerika.
“Akibatnya, juru bicara Kemlu RRC, Geng Shuang, yang sering mengkritik Indonesia soal isu Laut Natuna Utara, kini sibuk menyindir pemerintah AS,” sebut Alan.
“Geng menyatakan bahwa AS tidak memiliki kredibilitas dalam menuduh negara lain melakukan peretasan dan memata-matai, Fakta telah membuktikan berkali-kai bahwa sebagai aktor spionase terbesar diruang siber, AS layak dinamai ” Empire Of Hackers” (Kerajaan Peretas),” pungkasnya.(stn)