Pendidikan
Bedah Buku “NGAJI SUGIH”, Mengajak Masyarakat Menemukan Kekayaan Dari Dalam Diri
BEDAH BUKU-Dr. Suyanto, CFP bersama Bunda Anita menerima Buku usai acara Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI. (Foto Ist).
BANJARMASIN, SENTANA – Ada yang berbeda di Wisma Hijau Intira, Banjarmasin. Sebuah forum literasi tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan isi buku, tetapi berkembang menjadi perjumpaan antara budaya, spiritualitas, pengalaman hidup dan semangat membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI berlangsung hangat dan inspiratif dengan dihadiri 99 peserta secara langsung, menghadirkan perpaduan literasi, budaya, refleksi spiritual, hingga praktik terapi Quantum Touch, Senin (7/9). Acara juga disiarkan secara daring dan disaksikan lebih dari 1.000 peserta dari jaringan MAHANTIRA, serta masyarakat umum.
Mengusung semangat “Ngaji Sugih, Hidup Berkah, Masa Depan Lebih Cerah”, kegiatan ini membawa pesan bahwa makna “sugih” atau kaya tidak semata-mata berbicara mengenai kelimpahan materi.
Lebih jauh, kekayaan juga menyangkut kejernihan pikiran, ketenangan batin, keluasan rasa syukur, hubungan yang baik dengan sesama, serta kebermanfaatan hidup.
Dibuka Musik Panting, Budaya Menjadi Pintu Masuk Refleksi
Acara diawali dengan penampilan Musik Panting Nusantara (MUPANTARA) pimpinan Dr. Suyanto, CFP, yang membawakan lagu Baras Kuning dan Lir-Ilir.
Penampilan tersebut tidak berhenti sebagai hiburan pembuka. Lagu-lagu yang dibawakan turut diulas dari perspektif nilai dan makna spiritual, sehingga musik tradisional menjadi medium untuk mengajak peserta melakukan refleksi. Lir-Ilir, misalnya, dimaknai sebagai pesan tentang kesadaran untuk “bangun” dan memperbaiki diri. Manusia tidak cukup hanya menjalani kehidupan secara fisik, tetapi juga perlu terus menghidupkan kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan bekal kebaikan.
BEDAH BUKU-Dr. Suyanto, CFP bersama Bunda Anita menerima Buku usai acara Bedah buku “Ngaji Sugih” karya Soraya, SH, MH, CHt, MNLP, MPI. (Foto Ist).
Sementara nuansa Banjar melalui Baras Kuning menghadirkan kedekatan acara dengan akar budaya lokal. Perpaduan tersebut seakan menegaskan bahwa kearifan tradisi tetap relevan untuk menjadi pintu masuk pembelajaran kehidupan di tengah masyarakat modern.
Soraya: Ketika Ada Masalah, Belajarlah Bertanya ke Dalam
Acara dipandu oleh Gusti Fadhila Maulida, Direktur MAHANTIRA, perusahaan yang bergerak di bidang digital marketing profesional dan telah memiliki jaringan lebih dari 620 seller di Indonesia.
Soraya hadir sebagai narasumber utama, didampingi Bunda Anita dan Dr. Suyanto, CFP, sebagai sahabat dalam perjalanan perjuangan dan pembelajaran.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika Soraya mengungkap perjalanan pemikiran di balik lahirnya judul “Ngaji Sugih”. Menurutnya, manusia sering mencari jawaban terlalu jauh ketika menghadapi persoalan, padahal ada satu ruang yang kerap terlupakan: diri sendiri.
“Banyak orang kalau terjadi masalah dan stres selalu bertanya ke luar dirinya, dan sering kali tidak ada jalan keluarnya. Kita lupa bertanya ke ‘dalam’ diri. Padahal hukum semesta mengatakan, apa yang terjadi di ‘dalam’, itu yang terjadi di luar,” kata Soraya.
Soraya yang juga dikenal sebagai praktisi Terapi Quantum Touch, kemudian menekankan empat hal sederhana namun mendasar dalam menjalani kehidupan. “Sadar, sabar, syukur dan perbanyak menabung kebaikan adalah kunci utamanya,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam bedah buku. “Sugih” tidak ditempatkan sebatas sebagai tujuan finansial, melainkan sebagai kondisi ketika seseorang mampu mengelola dirinya, mensyukuri kehidupan, bertumbuh dari persoalan, serta terus meninggalkan jejak kebaikan.
“Menabung Kebaikan”, sebagai Investasi Kehidupan
Gagasan tentang menabung kebaikan mendapat perhatian tersendiri. Dalam konteks Ngaji Sugih, kebaikan dipandang sebagai investasi kehidupan yang tidak selalu menghasilkan balasan secara langsung maupun dalam bentuk materi.
Membantu orang lain, berbagi ilmu, menjaga perkataan, memudahkan urusan sesama hingga menghadirkan manfaat sekecil apa pun merupakan bentuk “tabungan” yang nilainya dapat kembali melalui jalan yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, buku “Ngaji Sugih” membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih mendasar: sebelum sibuk mengubah dunia di luar diri, sudahkah manusia memahami dan membenahi apa yang ada di dalam dirinya?
Pertanyaan itulah yang membuat diskusi berkembang bukan sekadar menjadi bedah buku, tetapi menjadi ruang refleksi bersama.
Dari Spiritualitas Menuju Pemberdayaan Ekonomi
Menariknya, acara juga menghubungkan pembahasan spiritual dengan kehidupan ekonomi masyarakat masa kini.
Dalam penutupan acara, Gusti Fadhila Maulida mengajak peserta membangun lingkungan yang produktif dan positif. Menurutnya, kualitas lingkungan dan komunitas dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bertumbuh dan mengambil peluang.
“Secara energi manusia saling terhubung, yang sejenis akan menarik yang sejenis, like attracts like. Jika Anda ingin mempunyai penghasilan tambahan dan berkumpul dengan orang-orang yang bervibrasi positif, bergabunglah di MAHANTIRA,” kata Gusti Fadhila Maulida.
Pesan tersebut sekaligus mempertemukan dua dimensi yang menjadi warna acara: penguatan dari dalam diri dan keberanian mengambil langkah nyata dalam kehidupan.
Ditutup “Sangu Batolak” dan Praktik Quantum Touch
Menjelang akhir kegiatan, MUPANTARA kembali menghadirkan musik tradisional dengan membawakan lagu “Sangu Batolak”.
Lagu tersebut menjadi penutup yang selaras dengan keseluruhan perjalanan acara. Setelah berbicara tentang kesadaran, kesabaran, rasa syukur, kebaikan dan kebermanfaatan, peserta seolah diingatkan bahwa kehidupan pada akhirnya merupakan sebuah perjalanan dan setiap perjalanan memerlukan “sangu” atau bekal.
Bukan hanya bekal materi, tetapi juga ilmu, karakter, kebaikan dan nilai-nilai yang dapat dibawa sepanjang kehidupan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik Terapi Quantum Touch kepada sembilan peserta, yang menjadi pengalaman langsung sekaligus penutup rangkaian bedah buku. Dari musik panting hingga diskusi buku, dari refleksi ke dalam diri hingga pemberdayaan ekonomi, acara “Ngaji Sugih” meninggalkan satu pesan sederhana: manusia boleh memiliki cita-cita untuk hidup berkecukupan, tetapi perjalanan menuju keberlimpahan selayaknya tidak membuatnya kehilangan kesadaran, rasa syukur dan kebermanfaatan bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, ukuran “sugih” barangkali bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga berapa banyak kebaikan yang berhasil ditinggalkan. Seperti semangat yang mengiringi akhir kegiatan.
Sadar dalam menjalani. Sabar dalam berproses. Syukur dalam menerima. Dan jangan pernah berhenti menabung kebaikan.
Begitulah adanya, begitulah kenyataannya. SEMPURNA.
(Red).