Ekonomi
Angkat Kembali Citra Rempah Maluku Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Jakarta, HarianSentana.com – Rektor Universitas Pattimura Ambon, Prof. Dr. M.J. Saptenno berharap, ada kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga non pemerintah dan semua pihak untuk bersama-sama mencari solusi mengangkat kembali citra rempah Maluku sehingga membawa manfaat bagi kesejahteraan Maluku.
“Hanya dengan cara seperti itu, rempah bisa membawa pengaruh bagi hidup berkelanjutan,” kata Prof. Saptenno dalam Webinar Nasional “Jalur Rempah, Jalan Kebudayaan Menuju Sustainable Living”, Rabu (16/2/2022).
Ia justru melihat tidak adanya perhatian yang baik. Bahkan, generasi muda sudah tidak mengetahui cara memetik cengkih, pala dan sebagainya. Dia mencontohkan, pada zaman kolonial, bukan hanya cengkih dan pala yang mendapat perhatian, tetapi juga kelapa.
“Saat ini, semua tidak berkembang dengan baik, karena masyarakat juga tidak semangat untuk menanam pala dan cengkih akibat harga yang sangat rendah. Kalau dulu, dengan menanam cengkih orang sudah menyekolahkan anak dan sebagainya, sekarang tidak seperti itu lagi,” katanya.
Menurut Saptenno, Maluku hanya membanggakan kekayaan alam yang melimpah tetapi semua itu tidak membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Dia meminta, siapapun untuk berhenti menjadikan Maluku sebagai kelinci percobaan, apalagi dengan mengorbankan rakyat. “Semua ada di Maluku, yang kurang itu hanya kebijakan yang bisa meningkatkan kesejahteraan Maluku,” tukasnya.
“Hidup berkelanjutan membutuhkan kebijakan nyata membawa manfaat bagi masyarakat, kalau tidak maka kita hanya akan terus berbicara di webinar tapi tidak ada realisasi,” tambah Rektor yang sudah menjabat dua periode ini.
Ia juga heran dengan adanya destinasi prioritas nasional atau sering disebut Bali baru, tetapi Maluku sama sekali tidak dilirik, meski potensi yang ada sangat luar biasa. “Jika memang mau mensejahterakan Maluku, nengap tidak dijadikan sebagai satu destinasi prioritas,” ujarnya.
Saptenno bahkan mengaku hingga saat ini belum melihat ada kebijakan pemerintah pusat yang nyata untuk mempercepat kesejahteraan di Maluku. Dalam hal ini kekayaan alam Maluku hanya dibanggakan, tetapi tidak memperlihatkan adanya perhatian serius dari pemerintah.
“Sebagai pimpinan universitas, terus terang, saya prihatin dengan kebijakan yang ada di Maluku. Pembangunan dari pinggir Presiden Jokowi tidak terlihat di Maluku. Bahkan, jaringan komunikasi saja masih sangat susah. Kita sudah merdeka 75 tahun ya masih begini,” tegasnya.
“Jika situasi ini dibiarkan terus-menerus, maka Maluku akan tetap tertinggal, apalagi dukungan anggaran dari pusat dari tahun ke tahun hampir tidak berubah, sehingga akan sangat sulit untuk meraih perubahan yang diharapkan,” pungkasnya.
Cikal Bakal Kehadiran Kolonialisme
Sebelumnya, pada kesempatan wabinar yang sama, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina mengatakan, bahwa kehadiran kolonialisme tidak lepas dari pencarian rempah di Kepulauan Rempah yang akhirnya membuat Belanda menguasai untaian kepulauan cantik yang dikenal sebagai Hindia Belanda.
“Saya hanya mau menggambarkan singkat arti penting jalur rempah bagi Indonesia ini. Ini identitas yang tak boleh diabaikan,” katanya.
Menurut Engelina, jalur Kepulauan Rempah ini di kemudian har dipromalirkan oleh para Pendiri Negara sebagai Negara Indonesia. “Mungkin saja, kalau dunia tidak mencari rempah, bisa jadi sejarah berkata lain,” ucapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, jalur rempah menyimpan potensi sebagai networking yang menghubungkan Indonesia dengan negara lain. Untuk itu, jalur rempah perlu mendapat perhatian serius, sehingga membawa manfaat bagi masa kini dan masa depan.
“Kami mengharapkan webinar ini menghasilkan gagasan, ide-ide baru untuk semakin memperkuat jalur rempah sebagai identitas, sekaligus menjadi jalur rempah ini sebagai networking baik dari bidang kebudayaan, pariwisata, ekonomi, lingkungan hidup dan sebagainya,” papar Engelina.
Ia menambahkan, jalur perdagangan rempah ini bukan sekadar kisah perdagangan komoditi rempah, namun menjadi jalur peradaban umat manusia yang mendorong terjadinya Revolusi Sejarah, Revolusi Ekonomi hingga Revolusi Ilmu Pengetahuan.
“Ada begitu banyak peluang yang dikembangkan melalui keberadaan jalur rempah, termasuk untuk Maluku, misalnya mengembangkan pusat marine ecotourism, wisata jalur rempah seperti sejarah, benteng, wisata cengkih, wisata pala, wisata cendana dan sebagainya,” tukasnya.
Maluku, lanjut Engelina, sebenarnya juga memiliki keunikan hayati, sehingg sangat penting untuk mempertimbangkan adanya semacam botanical garden Rumphius, museum Wallace dan sebagainya. “Hal seperti ini bukan sekadar menjadi destinasi wisata, tetapi juga merupakan edukasi lingkungan hidup yang sangat baik bagi semua generasi.
“Sebenarnya era rempah dan era pandemic saat ini terjadi revolusi peradaban umat manusia. Bahkan, sangat tepat kalau ada yang menyatakan sesungguhnya pencarian rempah telah memicu globalisasi pertama dan globalisasi saat ini merupakan globalisasi kedua di masa modern,” demikian Engelina Pattiasina.
Sementara Webinar itu sendiri dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno dan diikuti 700 lebih peserta dari luar dan dalam negeri. Kegiatan ini diselenggarakan Archipelago Solidarity Foundation, Sinar Harapan.Net, Kemendikbudristek bersama dengan Universitas Pattimura, Universitas Islam Negeri Ambon, UKI Maluku, Politeknik Negeri Ambon, Institut Agama Kristen Protestan Negeri.(s)