Ekonomi

Siapkan Strategi ESG, PT KPI Fokus Pada 10 Sustainability yang Sejalan dengan SDGs

Published

on

Jakarta, HarianaSentana.com – VP HSSE PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Ganda Putra Simatupang mengatakan, KPI telah menyiapkan strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) yang berfokus pada 10 sustainability yang sejalan dengan SDGs. KPI sudah membuat grand plan proses bisnis hingga 2060 yang terkait NZE. Hal ini akan tercermin dalam inisiatif program ESG yang diterapkan.

Hal ini disampaikan Ganda dalam webinar bertajuk Challenges of Managing Environmental, Social and Governance Issues in the Refinery Industry yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) secara virtual, Senin (28/11/2022).

“Sepuluh sustainability yang kami jalankan  adalah mengatasi perubahan iklim; mengurangi  environmental footprint; melindungi keanekaragaman hayati (biodiversity); health and safety; dan pencegahan major accidents. Selain itu adalah perekrutan, pengembangan dan retensi karyawan; inovasi; community engagement and impact; keamanan siber; dan etika korporasi,” papar Ganda

Lebih jauh ia juga mengatakan, bahwa investor selalu mempertanyakan kinerja perusahaan terkait health and safety. Untuk itu, KPI sudah melakukan perbaikan signifikan dan cukup drastis.

“Terkait major accident, yang menjadi momok besar ada di kilang karena itu jadi fokus dalam ESG. Sementara terkait recrutring masing-masing ada KPI-nya,” tukasnya.

Pada 2022, KPI melakukan sekitar 13 inisiatif, antara lain reduksi emisi dan  dekarbonisasi, sistemisasi program keanekaragaman  hayati, Beyond PROPER (waste and water), revitalisasi  proses safety management dan ESG Financing.

“Dengan implementasi strategi dan inisiatif ESG tersebut, KPI  berambisi menjadi perusahaan kilang dan petrokimia kelas  dunia dan diakui sebagai environmentally friendly  company, societal responsible company dan good  governance company,” pungkasnya.

Sementara Senior Vice President Corporate Finance Pertamina, Bagus Agung Rahadiansyah mengatakan, sebagai badan usaha milik negara di sektor energi terintegrasi, Pertamina menempatkan ESG sebagai bagian penting dalam merancang rencana bisnis.

“ESG lahir dari kesadaran perusahaan akan pentingnya bisnis yang berkelanjutan. Dan yang terpenting, keberlangsungan entitas tidak hanya ditentukan oleh finansial, tetapi ada faktor di luar finansial yaitu ESG,” ujar Bagus.

Menurut Bagus, ESG akan menentukan keberlangsungan entitas tersebut. Bukan hanya saat ini untung, tapi 30 tahun kemudian entitas tersebut bubar. Bagaimana tiga faktor (ESG) ini menjadi terkait dan membentuk sustainaibility.

“Keberlanjutan seolah-olah hanya erat kaitannya dengan lingkungan, padahal ada ESG. ESG inilah yang menjadi peta jalan (roadmap) membentuk sustainability  Pertamina. Implementasi ESG di Pertamina sudah dilihat publik dari ekosistem,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, bahwa tiga faktor ini menjadi tolak ukur, apakah perusahaan bisa berlanjut atau tidak. ESG juga mengukur keberlanjutan profit generation.

“Dari sisi governance apakah perusahaan mau terus menerus melakukan perbaikan terhadap tata kelolanya, sehingga membuat governance selalu dimodifikasi menjadi nilai bagi perusahaan,” ucapnya.

Bagus menambahkan, saat ini investor dan perbankan sangat peduli dengan ESG karena tidak mau diasosiasikan dengan perusahaan yang abai terhadap tiga faktor itu, yakni ESG. Karena itu, ESG di Pertamina merupakan komitmen untuk mencapai nol emisi atau Net Zero Emmission (NZE) pada 2060.

“Pertamina sudah membuat rencana atas dua pilar, yaitu dekarbonisasi dan membentuk green business, yaitu bisnis energi yang sifatnya lebih hijau atau ramah lingkungan. Kita align dengan NZE pemerintah. Kami sangat menyadari transisi energi tidak terhindarkan,” tutup Bagus.

Jadi Beban Tambahan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan bahwa ESG akan menjadi beban tambahan (additional cost), namun dalam aspek keberlanjutan sangat bagus.

“Kita perlu aware, ada konsekuensi yang perlu ditanggung kalau kita ingin baik. Hidup sehat itu bagus, tapi perlu ditanggung oleh vitamin vitamin yang tentunya perlu biaya cukup besar,” pungkasnya.

Sementara Praktisi ESG dan Dewan Pengurus Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICRP), Jalal mengatakan, bahwa ESG itu bukan fenomena baru karena sudah dimulai sejak 2004. “ESG adalah perkembangan di keuangan berkelanjutan sejak 18 tahun lalu yang menekankan pada isu sosial, tata kelola yang material terhadap keuntungan perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, sangat penting bagi semua perusahaan migas mempunyai kesadaran transisi energi yang adil, terutama untuk melindungi pekerja dan masyarakat. Hal ini menjadi tugas besar bagi petinggi perusahaan karena peran ESG ada di manajemen puncak. “Jangan berpuas kalau ada peringkat ESG yang tinggi karena seperti fenomena gunung es, dibawahnya masih banyak yang harus diperbaiki,” tukasnya.

Lebih jauh ia mengatakan, ESG merupakan sustainable finance 3.0,  yakni cara mendapatkan keuntungan melalui lingkungan, sosial, dan tata kelola. Karena itu, ESG selalu dikaitkan dengan keberlanjutan. “Padahal ESG adalah analisis tehadap aspek lingkungan, sosial dan tata kelola terhadap finansial perusahaan,” ucap Jalal.

Ia juga mengungkapkan, bahwa di industri migas, penerapan ESG terbukti menguntungkan sehingga disambut dengan baik. “Bahkan, jika dikelola dengan serius, pengelolaan risiko sangat menonjol. Ke depan, lansekap energi bisa diurus dengan baik, perusahaan migas sangat cenderung pada ESG,” tutup Jalal.(s)

Click to comment

Trending

Exit mobile version