Ekonomi
FABA Bisa Jadi Aneka Komunitas Bernilai Tinggi
Jakarta, HarianSentana.com – Pengamat kebijakan publik dan senior konsultan Menteri LHK Agus Pambagio sepakat memanfaatkan abu batubara atau FABA dari PLTU atau industri menjadi aneka komunitas bernilai tinggi. Oleh karenanya, Pemerintah dalam hal ini Kementerian LHK dan Kementerian ESDM perlu duduk bersama, segera menyusun petunjuk teknik (juknis) pemanfaatan FABA di Indonesia.
“Pemerintah seharusnya memfasilitasnya pemanfaatan FABA ini dengan baik. Dengan begitu, investor baik lokal atau asing mau masuk dan menanamkan modalnya dengan aman dan ada kepastian hukum,” kata Agus Pambagio pada webinar “Pemanfaatan FABA Sumber PLTU Untuk Kesejahteraan Masyarakat” yang digelar Ruangenergi.com, Kamis (01/4/2021).
Sebelumnya, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Dr.Rida Mulyana menyampaikan, Pemerintah (KESDM) siap memfasilitas dan membuat kebijakan yang mendukung pengembangan potensi FABA di Indonesia. Abu hasil pembakaran batubara baik di PLTU atau industri di Indonesia bisa dimanfaatkan untuk aneka kebutuhan praktis di masyarakat.
Terkait peluang UMKM bahkan koperasi bahkan Bumdes ikut memanfaatkan FABA menjadi aset ekonomi di Indonesia, lanjut Agus Pambagio, itu sangat bagus. “Intinya, FABA sudah selayaknya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat yang lebih besar,” aku Agus.
Menurut dia, Pemerintah melalui APBN/ APBD bahkan melalui Kementerian Desa Pembangunan daerah Tertinggal dan Transmigrasi bisa memanfaatkan Dana Desa untuk mengembangkan Faba ini. Abu hasl pemabkana batubara jangan dibiarkan menjadi libah yang merusak dan menakutkan bagia warga.
“Paling tidak dana di APBN/APBD) , dana Pemerintah bisa menjadi pancingan atau pendorong masuknya investasi ke pengolahan Faba ini. Yang pastti, niat baik itu ada dan ditunjukkan dulu,” jelas Agus lagi.
Menurut dia, hasil penelitan ilmiah di kampus atau lebaga Pemerintah menyebutkan, Faba bukan termasuk limbah beracun atau B3. “Artinya, Faba bisa dimanaatkan untuk industri lebih yang lebih besar. Implikasisnya, mampu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa juga,” jelas Agus.
Sementara peneliti Balai Besar Keramik, Subari mengatakan, FABA bisa dimanfaatkan sebagai bahan keramik, beton, bahan bangunan, konblok dan lainnya. “Selama ini, industri keramik di Indonesia sudah memanfaatkan FABA untuk berbagai produk bernilai ekonomi tinggi,” kata dia.
Menurut Subari, yang selama ini sudah dilakukan adalah memanfaatkan FABA menjadi aneka jenis keramik. Kemudian bisa juga untuk konblok dan aneka bahan bangunan lainnya. “Selama ini, untuk kontruksi rumah atau bangunan bertingkat lainnya masih menggunakan batu kali. Semantara, kalau terus digunakan akan habis dan proyek kontruksi bisa berhenti,” jelas Subari.
Melihat pemanfaatkan FABA menjadi berbagai bahan baku keramik dan beton selama ini, kata Subari, ke depan bisa digunakan untuk bahan baku beton dan bisa digunakan sebagai substitusi batu kali. “Dengan teknologi canggih serta inovasi anak muda sekarang, optimis mampu mengolah Faba menjadi komodtas bernilai ekonomi tinggi,” pungkas Subari.(s)